Renungan Kemerdekaan (bagian 1)

image

image

Oleh : M. Syukri Albani Nst , SH .I ,
MA. “Dulu , penjara adalah tempatnya
orang jahat. Maka, mengapa sekarang
penjara justru menjadi tempat orang-
orang hebat dan berpendidikan? . Dulu,
penjara adalah tempat yang nista , saat
ini mengapa penjara telah menjadi
tempat yang terhormat. . tampaknya
ada yang salah dari pemaknaan
kemerdekaan dari anak bangsa yang
bernurani”
Tulisan ini sengaja dibuat untuk
mengapresiasi makna kemerdekaan
bangsa Indonesia yang ke 66 tahun.
Teringat secara jelas melalui
lembaran -lembaran sejarah
bagaimana keteguhan,
kesungguhan dan pengorbanan para
pendahulu kita yang disebut sebagai
” pahlawan” dalam merebut kembali
hak kemerdekaan Negara Indonesia .
Kemerdekaan untuk menjadikan
Indonesia sebagai Negara yang
berdaulat . Kemerdekaan dari
penjajahan, penindasan dan
ketergantungan dengan bangsa
asing.
Meski banyak analisis tentang
kemerdekaan bangsa Indonesia.
Namun, kemerdekaan tetaplah
sebuah kemerdekaan yang harus
dimaknai sebagai sebuah
kesempatan untuk menjadikan
bangsa ini menjadi bangsa yang
merdeka dengan sebenar -benarnya.
Kemerdekan yang diperoleh sebagai
” hadiah “, kemerdekaan yang
diperoleh karena ” kebetulan ” dan
kemerdekaan yang diperoleh
lantaran konsistensi perjuangan
rakyat Indonesia untuk memperoleh
legalitas bangsa yang tidak terjajah,
tidak terkungkung, dan bangsa
yang tidak tergilas oleh peradaban
bangsa lain. Apapun analisis tentang
kemerdekaan bangsa ini, tetap saja
harus konsisten untuk memaknai
kemerdekaan dengan kemajuan dan
kebangkitan bersama .
Ada dua fase perjalanan bangsa ini
hingga sampai pada makna hakiki
dalam memaknai sebuah
kemerdekaan . Merdeka dari
penjajahan fisik, dan merdeka dari
penjajahan mental dan moral . Saat
ini bangsa Indonesia telah melewati
satu fase penjajahan yang
berbentuk fisik. Bangsa Indonesia
telah mendapatkan eksistensinya
sebagai sebuah bangsa yang
merdeka, berdaulat dan memiliki
legalitas dimata dunia. Perjalanan
selanjutnya adalah mengalahkan
penjajahan versi dua yang
menggerogoti mental dan moral
bangsa ini.
Berjiwa Revolusioner
Sebelum tahun 1945 , tepatnya
kemerdekaan bangsa Indonesia,
Negara ini membutuhkan
masyarakat dan pemimpin yang
berjiwa revolusioner. Untuk teguh
mendapatkan kemerdekaan bangsa
ini dari penjajahan fisik . Meskipun
pada saat itu tidak sediki rakyat
Indonesia yang turut serta menjadi
pengikut penjajah dengan berbagai
motivasi , baik motivasi
penghidupan , motivasi keamanan
dan kesejahteraan . Sederhana saja,
ketika itu , siapa yang mengikut
penjajah ( baik Belanda dan Jepang )
dianggsap sebagai penghianat
bangsa. Namun, tetap saja
konsistensi perjuangan rakyat
Indonesia yang tidak mau mengikut
para penjajah itu berhasil
mengantarkan kita pada sebuah
kemerdekaan dari penjajahan
Negara asing. Dan itu sebuah
perolehan yang luar biasa . Dalam
hal ini Bung Karno dan Hatta adalah
icon pemimpin revolusioner yang
berhasil mengantarkan bangsa ini
kembali ke “kewibawaannya” .
Namun, saat ini bangsa kita juga
sedang mengalami penjajahan juga
( menurut penulis) . Penjajahan
model baru dan strategi baru . Istilah
musuh dalam selimut menjadi
sebuah kalimat pengantar yang
tepat untuk membicarakan masalah
penjajahan versi baru ini. Titik
tolaknya adalah dari krisis moral,
krisis etika , krisis rasa syukur , dan
krisis kesadaran akan makna
penting dari sebuah kemerdekaan .
Jika dahulu , salah satu program
utama bung Karno pasca
kemerdekaan adalah dalam bidang
pendidikan demi upaya pengentasan
kebodohan, maka, saat ini
kepintaran masyarakat Indonesia
sudah menjadi momok baru yang
siap menggerogoti Negara ini.
Beragam kasus yang seolah sudah “
diaminkan” sebagai sebuah
kelaziman menjadi salah satu
pertanda bahwa bangsa ini bukan
lagi butuh kepintaran , tapi bangsa
ini butuh penyadaran moralitas,
penyadaran etika berbangsa ,
penyadaran akan makna histories
sebuah kemerdekaan bangsa ini,
dan penyadaran akan rasa syukur
terhadap kemajuan bangsa ini.
Sampai pada metodologi dalam
menjalankan bangsa ini juga sudah
menjadi momok baru juga dalam
perjalanan bangsa ini pasca
kemerdekaan .
Setelah merdeka, mau diapakan
bangsa ini.? , setelah merdeka, mau
dibawa kemana bangsa ini? , dan
setelah merdeka mau dibuat apa
bangsa ini. Ini adalah pertanyaan
filosofis yang bisa jadi akan sangat
dalam pembahasannya untuk
sampai pada tujuan hakiki dalam
memaknai sebuah kemerdekaan .
Namun, penting juga mengkaji lebih
jauh , apa sebenarnya yang
diinginkan Bung Karno ketika
membacakan teks Proklamasi itu ? .
Ataukah , teks proklamasi yang
dibacakan itu hanya sebatas teks
sebagai pijakan legalitas terhadap
sebuah kemerdekaan sebuah
bangsa. Sehingga rakyat Indonesia
pasca kemerdekaan ini seolah- olah “
kehilangang arah” dalam
menjalankan roda kehidupan bangsa
ini .
Makna Penting
Menurut hemat penulis , ada makna
penting dibalik tesk proklamasi itu,
” Kami bangsa Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaan dengan
sebenar -benarnya…” kalimat kami
dalam teks tersebut menandakan
bahwa perolehan kemerdekaan
bangsa ini bukan hanya milik
perseorangan , kelompok dan
golongan tertentu. Tidak ada istilah
kaum miskin , kaum kapitalis , kaum
borjuis , kaum apa saja. Dalam hal
ini , kemerdekaan diperoleh,
dimiliki , disaksisakan dan harus
dirasakan oleh semua kalangan di
Negara ini. Oleh karenanya , dalam
perjalanan bangsa ini pasca
kemerdekaan bangsa Indonesia
harus bisa dirasakan oleh semua
lapisan masyarakat, tidak ada
kapitalisme berbangsa , dan tidak
ada diskriminasi dalam berbangsa .
Sebab , kemerdekaan milik semua
rakyat Indonesia .
Oleh karenanya , kesewenang-
wenangan gaya baru harus
dihapuskan di Negara Indonesia ini.
Kesewenangan dalam jabatan dan
amanah , dalam kebijakan , dalam
pemberdayaan masyarakat , dalam
pembinaan hukum, dalam
pembinaan moral, dalam
memberikan kesempatan
penghidupan dan berusah
menghidupi diri dan keluarga, dan
kesewenangan dalam memberi
kewenangan tanpa melihat
kemampuan dan keamanahannya.
Inilah yang menurut hemat penulis
sebagai penjajahan versi baru di
Negara Indonesia. Ini.
Hal ini tentunya terkait dengan
system kenegaraan yang sudah “
terlanjur” dipakai tanpa melihat
konsep maslahat dan mudharat nya.
Demokrasi versi reformasi menjadi
titik awal lahirnya penjajahan versi
baru ini ( menurut hemat penulis).
Meski disana -sini telah banyak
kebaikan dan kemajuan , namun
tetap harus difikirkan eksistensinya
di mata masyarakat. System Negara
yang seolah -olah bergantung pada
legalitas perpolitikan semata.
Lihat saja, berapa banyak ” bayi
partai ” yang baru lahir yang
menunjukkan hak dalam
berdemokrasi , berapa banyak pula
biaya APBN dan APBD yang harus
dikeluarkan untuk partai -partai
tersebut . Sementara, dalam
penerapannya, ada kesenjangan
yang luar biasa antara “
kepentingan rakyat” dengan apa
yang disuarakan partai yang juga
atas nama rakyat .
Tidak dapat dipungkiri juga, tingkat
apatisme masyarakat Indonesi ini
sudah semakin meningkat, terbukti
di berbagai pemilihan kepala daerah
di Indonesia ini tingkat golput sudah
diatas 10%, bahkan ada yang
mencapai 40%. Itu menandakan
sebuah kesimpulan yang sederhana
” siapapun pemimpinnya , tatap saja
keadaan bangsa ini tidak
berubah .. “. inilah yang menandakan
bahwa bangsa kita sesungguhnya
sudah kembali terjajah dan merasa
dijajah . Menjajah kepercayaan bagi
masyarakatnya , dan menjajah moral
dan tanggung jawab kepada para
pemimpinnya .
Ibaratkan seorang pemuda tampan
yang punya penyakit dalam . Orang
lain memandangnya enak , asyik dan
senang, tapi ternyata didalam
tubuhnya telah menjalar ribuan
penyakit dalam yang sewaktu -
waktu akan mematikan dirinya.
penjajahan inilah yang harus
diantisipasi sedini mungkin dari
bangsa ini. Kriris moral , krisis
tanggung jawab, krisis kepercayaan,
krisis rasa syukur menjadi suasana
baru yang harus kita fikirkan
sebagai masyarakat yang merdeka.
Menurut hemat penulis , harus ada
keseimbangan dalam memaknai
kemerdekaan ini sebagai sebuah
evaluasi dalam menjalani kehidupan
berbangsa di masa mendatang .
Diantaranya ;
1 . Merdeka dari kebebasan yang
kebablasan . Hal ini terkait dengan
moralitas bangsa di mata bangsa ini
dan bangsa luar nantinya . Kasus
erotisme , kasus kebudayaan yang
disalah artikan, dan sederatan kasus
lainnya yang bisa saja
menghapuskan nilai bangsa ini
sebagai bangsa yang berbudaya.
Kebebasan dalam artian yang lebih
luas lagi bisa dimaknakan dalam
berpendapat, berekspresi ,
berargumentasi. Nilai kesantunan
sebenarnya menjadi salah satu alat
ukur untuk melihat tingkat
pendidikan sebuah bangsa. Oleh
karenanya , teori sederhananya
adalah , bangsa yang semakin pintar
rakyatnya , maka, semakin santun
prilakunya. Dan juga, merdeka dari
rasa bebas yang tak beraturan .
(bersambung)

Posted with androidWordPress from my Android froyo phone

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s