Namimah (adu-domba)

image

lati, yang maknanya bahwa nilai
seseorang ada pada lisannya, nilainya
akan baik jika lisannya baik, atau
sebaliknya.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam memberi jaminan surga
pada seorang muslim yang dapat
menjamin lisannya . Dari Sahal bin
Sa’ad radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa menjamin untukku
yang ada di antara kedua dagunya
(lisan) dan apa yang ada di antara
kedua kakinya ( kemaluan/ farji), maka
aku akan menjamin untuknya
surga.” (HR . Al- Bukhari)
Salah satu bentuk kejahatan lisan
adalah namimah (adu domba ). Kata
adu domba identik dengan kebencian
dan permusuhan. Sebagian dari kita
yang mengetahui bahaya namimah
mungkin akan mengatakan, “Ah , saya
tidak mungkin berbuat demikian …”
Tapi jika kita tak benar -benar
menjaganya ia bisa mudah tergelincir.
Apalagi ketika rasa benci dan hasad
(dengki ) telah memenuhi hati. Atau
meski bisa menjaga lisan dari
namimah, akan tetapi tidak kita sadari
bahwa terkadang kita terpengaruh
oleh namimah yang dilakukan
seseorang. Oleh karena itu kita benar-
benar harus mengenal apakah itu
namimah.
Definisi Namimah
Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan
bahwa namimah adalah mengutip
suatu perkataan dengan tujuan untuk
mengadu domba antara seseorang
dengan si pembicara . Adapun Al-
Hafizh Ibnu Hajar Al- Asqalaani
rahimahullah mengatakan bahwa
namimah tidak khusus itu saja.
Namun intinya adalah membeberkan
sesuatu yang tidak suka untuk
dibeberkan. Baik yang tidak suka
adalah pihak yang dibicarakan atau
pihak yang menerima berita, maupun
pihak lainnya . Baik yang disebarkan
itu berupa perkataan maupun
perbuatan. Baik berupa aib ataupun
bukan.
Hukum dan Ancaman Syariat
Terhadap Pelaku Namimah
Namimah hukumnya haram
berdasarkan ijma’ ( kesepakatan ) kaum
muslimin. Banyak sekali dalil-dalil yang
menerangkan haramnya namimah
dari Al Qur’ an, As Sunnah dan Ijma’ .
Sebagaimana firman Allah Ta’ ala, yang
artinya, “Dan janganlah kamu ikuti
setiap orang yang banyak bersumpah
lagi hina yang banyak mencela, yang
kian kemari menghambur fitnah.” (QS .
Al Qalam: 10- 11)
Dalam sebuah hadits marfu ’ yang
diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu
‘anhu disebutkan , “Tidak akan masuk
surga bagi Al Qattat ( tukang adu
domba ).” (HR . Al Bukhari)
Ibnu Katsir menjelaskan , “ Al qattat
adalah orang yang menguping
(mencuri dengar pembicaraan) tanpa
sepengetahuan mereka, lalu ia
membawa pembicaraan tersebut
kepada orang lain dengan tujuan
mengadu domba .”
Perkataan “ Tidak akan masuk surga…”
sebagaimana disebutkan dalam hadist
di atas bukan berarti bahwa pelaku
namimah itu kekal di neraka .
Maksudnya adalah ia tidak bisa
langsung masuk surga. Inilah
madzhab Ahlu Sunnah wal Jama ’ah
untuk tidak mengkafirkan seorang
muslim karena dosa besar yang
dilakukannya selama ia tidak
menghalalkannya ( kecuali jika dosa
tersebut berstatus kufur akbar semisal
mempraktekkan sihir – ed).
Pelaku namimah juga diancam
dengan adzab di alam kubur. Ibnu
Abbas meriwayatkan , “( suatu hari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melewati dua kuburan lalu berkata,
lalu bersabda, “Sesungguhnya
penghuni kedua kubur ini sedang
diadzab. Dan keduanya bukanlah
diadzab karena perkara yang berat
untuk ditinggalkan. Yang pertama ,
tidak membersihkan diri dari air
kencingnya. Sedang yang kedua ,
berjalan kesana kemari menyebarkan
namimah.” (HR . Al- Bukhari)
Sikap Terhadap Pelaku Namimah
Imam An -Nawawi berkata, “ Dan setiap
orang yang disampaikan kepadanya
perkataan namimah, dikatakan
kepadanya: “ Fulan telah berkata
tentangmu begini begini . Atau
melakukan ini dan ini terhadapmu ,”
maka hendaklah ia melakukan enam
perkara berikut :
1. Tidak membenarkan perkataannya .
Karena tukang namimah adalah
orang fasik.
2. Mencegahnya dari perbuatan
tersebut, menasehatinya dan mencela
perbuatannya.
3. Membencinya karena Allah, karena
ia adalah orang yang dibenci di sisi
Allah. Maka wajib membenci orang
yang dibenci oleh Allah .
4. Tidak berprasangka buruk kepada
saudaranya yang dikomentari negatif
oleh pelaku namimah.
5. Tidak memata -matai atau mencari-
cari aib saudaranya dikarenakan
namimah yang didengarnya .
6. Tidak membiarkan dirinya ikut
melakukan namimah tersebut ,
sedangkan dirinya sendiri
melarangnya. Janganlah ia
menyebarkan perkataan namimah itu
dengan mengatakan , “ Fulan telah
menyampaikan padaku begini dan
begini.” Dengan begitu ia telah
menjadi tukang namimah karena ia
telah melakukan perkara yang
dilarang tersebut .” .
Bukan Termasuk Namimah
Apakah semua bentuk berita tentang
perkataan/perbuatan orang dikatakan
namimah? Jawabannya, tidak. Bukan
termasuk namimah seseorang yang
mengabari orang lain tentang apa
yang dikatakan tentang dirinya apabila
ada unsur maslahat di dalamnya.
Hukumnya bisa sunnat atau bahkan
wajib bergantung pada situasi dan
kondisi. Misalnya , melaporkan pada
pemerintah tentang orang yang mau
berbuat kerusakan , orang yang mau
berbuat aniaya terhadap orang lain ,
dan lain -lain . An- Nawawi
rahimahullah berkata, “Jika ada
kepentingan menyampaikan
namimah, maka tidak ada halangan
menyampaikannya. Misalnya jika ia
menyampaikan kepada seseorang
bahwa ada orang yang ingin
mencelakakannya, atau keluarga atau
hartanya. ”
Pada kondisi seperti apa
menyebarkan berita menjadi tercela ?
Yaitu ketika ia bertujuan untuk
merusak. Adapun bila tujuannya
adalah untuk memberi nasehat ,
mencari kebenaran dan menjauhi/
mencegah gangguan maka tidak
mengapa. Akan tetapi terkadang
sangat sulit untuk membedakan
keduanya. Bahkan, meskipun sudah
berhati- hati, ada kala niat dalam hati
berubah ketika kita melakukannya .
Sehingga , bagi yang khawatir adalah
lebih baik untuk menahan diri dari
menyebarkan berita.
Imam Asy -Syafi ’i rahimahullah
berkata, “ Seseorang selayaknya
memikirkan apa yang hendak
diucapkannya. Dan hendaklah dia
membayangkan akibatnya. Jika
tampak baginya bahwa ucapannya
akan benar -benar mendatangkan
kebaikan tanpa menimbulkan unsur
kerusakan serta tidak menjerumuskan
ke dalam larangan , maka dia boleh
mengucapkannya. Jika sebaliknya ,
maka lebih baik dia diam .”
Bagaimana Melepaskan Diri dari
Perbuatan Namimah
Ya ukhty , janganlah rasa tidak suka
atau hasad kita pada seseorang
menjadikan kita berlaku jahat dan
tidak adil kepadanya , termasuk dalam
hal ini adalah namimah. Karena
betapa banyak perbuatan namimah
yang terjadi karena timbulnya hasad
di hati. Lebih dari itu , hendaknya kita
tidak memendam hasad (kedengkian )
kepada saudara kita sesama muslim.
Hasad serta namimah adalah akhlaq
tercela yang dibenci Allah karena
dapat menimbulkan permusuhan,
sedangkan Islam memerintahkan agar
kaum muslimin bersaudara dan
bersatu bagaikan bangunan yang
kokoh.
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam
bersabda, “ Janganlah kalian saling
mendengki, saling membenci, saling
bermusuhan, dan janganlah kamu
menjual barang serupa yang sedang
ditawarkan saudaramu kepada orang
lain , dan jadilah kamu hamba -hamba
Allah yang bersaudara .” (HR . Muslim )
Berusaha dan bersungguh -
sungguhlah untuk menjaga lisan dan
menahannya dari perkataan yang
tidak berguna , apalagi dari perkataan
yang karenanya saudara kita tersakiti
dan terdzalimi. Bukankah mulut
seorang mukmin tidak akan berkata
kecuali yang baik .
Semoga Allah Ta ’ala selalu melindungi
kita dari kejahatan lisan kita dan tidak
memasukkan kita ke dalam golongan
manusia yang merugi di akhirat
dikarenakan lisan yang tidak terjaga ,
“Allahumma inni a ’uudzubika min
syarri sam’ii wa min syarri bashori wa
min syarri lisaanii wa min syarri
maniyyii.” (Ya Allah , sesungguhnya
aku berlindung kepadamu dari
kejahatan pendengaranku ,
penglihatanku, lisanku , hatiku dan
kejahatan maniku.)
***
Diringkas dari Petaka Lisan Menurut A -
Qur’an dan Sunnah
(Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-
Qahthaani)

Posted with androidWordPress from my Android froyo phone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s