>Poligami bukan sunnah, tapi jaiz (boleh).

>Poligami bukan sunnah, tapi jaiz (boleh).

>POLIGAMI BUKAN SUNNAH, TETAPI HUKUMNYA
JAIZ (BOLEH)
– Apakah Disunnahkan poligami dalam Islam ?
– Sebuah Petikan Tentang Keadilan Salaf
– Peringatan bagi yang Tergesa-gesa
Allah Ta’ala berfirman:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil
terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim
(bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga
atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan
dapat berlaku adil [265], Maka (kawinilah) seorang
saja [266], atau budak-budak yang kamu miliki.
yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak
berbuat aniaya. (QS. An Nisa’ : 4)
[265] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam
memenuhi isteri seperti pakaian, tempat, giliran
dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
[266] Islam memperbolehkan poligami dengan
syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat Ini
poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan
oleh para nabi sebelum nabi Muhammad ayat Ini
membatasi poligami sampai empat orang saja.
– Apakah Disunnahkan Poligami Dalam Islam ?
Poligami ini disunnahkan bila seorang laki-laki
dapat berbuat adil di antara istri-istrinya
berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Namun bila kalian khawatir tidak dapat berbuat
adil maka nikahilah satu wanita saja” (QS. An Nisa:
3)
Dan juga bila ia merasa dirinya aman dari
terfitnah dengan mereka dan aman dari menyia-
nyiakan hak Allah dengan sebab mereka, aman
pula dari terlalaikan melakukan ibadah kepada
Allah karena mereka. Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman
sesungguhnya istri-istri dan anak-anak kalian
adalah musuh bagi kalian maka berhati-hatilah
dari mereka“. (QS. At Taghabun: 14)
Di samping itu ia memandang dirinya mampu
untuk menjaga kehormatan mereka dan
melindungi mereka hingga mereka tidak ditimpa
kerusakan, karena Allah tidak menyukai
kerusakan. Ia mampu pula menafkahi mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
“Hendaklah mereka yang belum mampu untuk
menikah menjaga kehormatan dirinya hingga
Allah mencukupkan mereka dengan keutamaan
dari-Nya” . (QS. An Nur:33)
(Dinukil dari “Fiqh Ta’addud Az Zawjaat”, hal. 5)
Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i pernah ditanya
tentang hukum poligami, apakah sunnah? beliau
menjawab: “Bukan sunnah, akan tetapi
hukumnya jaiz (boleh)“.
Sebuah Petikan Tentang Keadilan Salaf
Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah berkata dalam “Al
Mushannaf” (4/387): Telah menceritakan kepada
kami Abu Dawud Ath Thayalisi dari Harun bin
Ibrahim is berkata: Aku mendengar Muhammad
berkata terhadap seseorang yang memiliki dua
istri: “Dibenci ia berwudlu hanya di rumah salah
seorang istrinya sementara di rumah istri yang
lain ia tidak pernah melakukannya“. (Atsar ini
shahih)
Selanjutnya beliau berkata: Telah menceritakan
kepada kami Jarir dari Mughirah dari Abi Muasyir
dari Ibrahim tentang seseorang yang
mengumpulkan beberapa istri : “Mereka
menyamakan di antara istri-istrinya sampaipun
sisa gandum dan makanan yang tidak dapat lagi
ditakar/ditimbang (karena sedikitnya) maka
mereka tetap membaginya tangan pertangan“.
(Atsar ini shahih dan Abu Muasyir adalah Ziyad
bin Kulaib, seorang yang tsiqah)
Peringatan !!!
Di antara manusia ada yang tergesa-gesa dan
bersegera melakukan poligami tanpa
pertimbangan dan pemikiran, sehingga ia
menghancurkan kebahagiaan keluarganya dan
memutus ikatan tali (pernikahannya) dan menjadi
seperti orang yang dikatakan oleh seorang A’rabi
(dalam bait syairnya):
Aku menikahi dua wanita karena kebodohanku
yang sangat
Dengan apa yang justru mendatangkan sengsara
Tadinya aku berkata, ku kan menjadi seekor
domba jantan di antara keduanya
Merasakan kenikmatan di antara dua biri-biri
betina pilihan
Namun kenyataannya, aku laksana seekor biri-biri
betina yang berputar di pagi dan sore hari
diantara dua serigala
Membuat ridla istri yang satu ternyata
mengobarkan amarah istri yang lain
Hingga aku tak pernah selamat dari satu diantara
dua kemurkaan
Aku terperosok ke dalam kehidupan nan penuh
kemudlaratan
Demikianlah mudlarat yang ditimbulkan di antara
dua madu
Malam ini untuk istri yang satu, malam berikutnya
untuk istri yang lain, selalu sarat dengan cercaan
dalam dua malam
Maka bila engkau suka untuk tetap mulia dari
kebaikan
yang memenuhi kedua tanganmu hiduplah
membujang
namun bila kau tak mampu, cukup satu wanita,
hingga mencukupimu dari beroleh kejelekan dua
madu
Bait syairnya yang dikatakan A’rabi ini tidak benar
secara mutlak, tetapi barangsiapa yang takalluf
(memberat-beratkan dirinya) melakukan poligami
tanpa disertai kemampuan memberikan nafkah,
pendidikan dan penjagaan yang baik, maka
dimungkinkan akan menimpanya apa yang
dikisahkan oleh A’rabi itu yaitu berupa kesulitan
dan kepayahan.
Wallahu A’lam
(sumber dari kitab : Al Intishar lihuhuqil Mu’minat.
Karya : Ummu Salamah As Salafiyyah Hal. 154 -.
Penerbit darul Atsar Yaman Cet. I Th. 2002. Telah
diterjemahkan dengan judul buku : Persembahan
untukmu Duhai Muslimah Cet. Pustaka Al Haura’
Yogyakarta)
Dikutip dari: Darussalaf.org offline Penulis: Ummu
Salamah As Salafiyyah Judul: Catatan ringan
tentang POLIGAMI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s