>Rabi’ah adawiyah (2)

>Rabi’ah adawiyah (2)

>“Pertanyaan pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah
yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat
kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam
atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah
Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.”
“Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur
nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir
menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?”
Hasan menjawab,“Hanya Allah Yang Maha
Mengetahui.”
“Pertanyaan ketiga, pada saat manusia
dikumpulkan di Padang Mahsyar diHari
Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan
menerima buku catatan amal di tangan kanan dan
di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku
menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?”
Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang
Maha Tahu.”
“Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan
nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan
sebagian lain masuk neraka. Di kelompok
manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi
menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya
Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia
yang tersembunyi itu.
Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan
al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat
pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harus
bersuami yang kepadanya aku menghabiskan
waktuku dengannya?” Dalam penolakannyaitu
pula, Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah
sya’ir yang cukup indah.
Damaiku, wahai saudara-saudaraku,
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur
jiwaku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini
dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.
Begitulah, meskipun sebagai manusia, Rabi’ah tak
pernah tergoda sedikitpun oleh berbagai
keindahan dunia fana. Sampai wafatnya, ia hanya
lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya
semata ketimbang harus bercinta dengan sesama
manusia. Meskipun demikian, disebutkan bahwa
Rabi’ah memiliki sejumlah sahabat pria, dan
sangat sedikit sekali ia bersahabat dengan kaum
perempuan. Di antara sahabat-sahabat Rabi’ah
yang cukup dekat misalnya Dzun Nun al-Mishri,
seorang sufi Mesir yang memperkenalkan ajaran
doktrin ma’rifat. Sufi ini meninggal pada tahun856
M dan sempat bersahabat dengan Rabi’ah selama
kurang lebih setengah abad. Bahkan ada yang
menyebutkan bahwa pertemuan antara Dzun
Nunal-Mishri dengan Rabi’ah ini terjadi sejak awal-
awal usianya.
Di kalangan para sahabat sufi-nya itu, Rabi’ah
banyak sekali berdiskusidan berbincang tentang
Kebenaran, baik siang maupun malam. Salah
seorang sahabat Rabi’ah, Hasan al-Bashri,
misalnya menceritakan: “Akulewati malam dan
siang hari bersama-sama dengan Rabi’ah,
berdiskusi tentang Jalan dan Kebenaran, dan tak
pernah terlintas dalam benak kubahwa aku adalah
seorang laki-laki dan begitu juga Rabi’ah, tak
pernah ada dalam pikirannya bahwa ia seorang
perempuan, dan akhirnya aku menengok dalam
diriku sendiri, baru kusadari bahwa diriku tak
memiliki apa-apa, yaitu secara spiritual aku tidak
berharga, Rabi’ah-lah yang sesungguhnya sejati.
Dalam kisah lain, diceritakan bahwa pada suatu
hari Rabi’ah melewati lorong rumah Hasan al-
Bashri. Hasan melihatnya melalui jendela dan
menangis, hingga air matanya jatuh menetes
mengenai jubah Rabi’ah. Ia menengadah ke atas,
dan berpikir bahwa hari tidaklah hujan, dan ketika
ia menyadari bahwa itu air mata sahabatnya, lalu
dihampirinya sahabat yang sedang menangis
tersebut seraya berkata, “Wahai guruku, air itu
hanyalah air mata kesombongan diri saja dan
bukan akibat dari melihat ke dalam hatimu, di
mana dalam hatimu air itu akan membentuk
sungai yang di dalamnya tidak akan engkau
dapati lagi hatimu, kecuali ia telah bersama
dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.” Setelah
mendengar kata-kata Rabi’ah itu, Hasan tampak
hanya bisa berdiam diri.
Di kalangan para sahabatnya, kehidupan Rabi’ah
dirasakan banyak memberimanfaat. Hal ini
dikarenakan Rabi’ah banyak sekali memperhatikan
kehidupan mereka. Perhatian Rabi’ah yang cukup
besar kepada para sahabatnya itu, misalnya saja
dibuktikan dengan kisah sebagai berikut:Suatu
ketika, ada seorang laki-laki yang meminta agar
Rabi’ah mendoakan untuk dirinya. Tapi
permohonan itu dibalas oleh Rabi’ah dengan rasa
rendah hati, “Wahai, siapakah diriku ini? Turutlah
perintah Allah dan berdoalah kepada-Nya, sebab
Dia akan menjawab semua doa bila engkau
memohonnya.”
Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah
Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah
sejak kecil sudah memiliki karakter yang tidak
begitu banyak memperhatikan kehidupan
duniawi.Hidupnya sederhana dan sangat besar
hati-hatinya terhadap makanan apapun yang
masuk ke dalam perutnya. Bahkan saking
zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap bantuan
yang datang dari para sahabatnya, tetapi
sebaliknya Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk
melayani Tuhannya. Selepas dirinya dari
perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri
disebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempat
kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi
dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah.
Tampaknya, keinginan untuk hidup zuhud dari
kehidupan duniawi ini benar-benar ia jalankan
secara konsisten. Pernah misalnya Al-
Jahiz,seorang sufi generasi tua, menceritakan
bahwa beberapa dari sahabatnya mengatakan
kepada Rabi’ah, “Andaikan kita mengatakan
kepada salah seorang keluargamu, pasti mereka
akan memberimu seorang budak, yang akan
melayani kebutuhanmu di rumah ini.” Tetapi ia
menjawab, “Sungguh,aku sangat malu meminta
kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia
ini,bagaimana aku harus meminta kepada yang
bukan memiliki dunia ini?”Tiba-tiba terdengar
suara mengatakan:
“Jika engkau menginginkan dunia ini, maka akan
Aku berikan semua dan Aku berkahi, tetapi Aku
akan menyingkir dari dalam kalbumu, sebab
Akutak mungkin berada di dalam kalbu yang
memiliki dunia ini. WahaiRabi’ah, Aku
mempunyai Kehendak dan begitu juga
denganmu. Aku tidak mungkin menggabungkan
dua kehendak itu di dalam satu kalbu.”
Rabi’ah kemudian mengatakan, “Ketika
mendengar peringatan itu,kutanggalkan hati ini
dari dunia dan kuputuskan harapan duniawi
kuselama tiga puluh tahun. Aku salat seakan-akan
ini terkahir kalinya,dan pada siang hari aku
mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku
takut mereka akan menarikku dari diri-Nya, maka
akau katakana, “Ya Tuhan, sibukkanlah hati ini
dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau
biarkan mereka menarikku dari-Mu.”
Sebagai seorang zahid, Rabi’ah senantiasa
bermunajat kepada Allah agar dihindarkan dari
ketergantungannya kepada manusia. Namun,
perjalanan zuhud yang dialami Rabi’ah
tampaknya tidak mudah begitu saja dilalui.Di
depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus
ia hadapi. Kenyataan-kenyataan itu memang
wajar, karena sebagai manusia, tak mungkin
dirinya hanya bergantung kepada Allah semata.
Meskipun demikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk
menghindari apapun bantuan yang datang selain
dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam
kemiskinan(faqr), namun kemiskinannya
dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah
kepada Rabi’ah.
Dalam satu kisah misalnya disebutkan,
sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu waktu
mendapati Rabi’ah sedang terbaring sakit di atas
tikar tua dan lusuh, serta batu bata sebagai bantal
di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu,
Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki
teman-teman yang kaya dan jika engkau
membutuhkan bantuan aku akan meminta
kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai
Malik, engkau salah besar. Bukankah Yang
memberi mereka dan aku makan sama?” Malik
menjawab, “Ya, memang sama.” Rabi’ah
mengatakan, “Apakah Allah akan lupa kepada
hamba-Nya yang miskin dikarenakan
kemiskinannya dan akankah Dia ingat kepada
hamba-Nya yang kaya dikarenakan
kekayaannya?” Malik menyahut, “Tidak.” Rabi’ah
lalu kembali mengatakan, “Karena Dia mengetahui
keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-
Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus
menerimanya.”
Sikap zuhud yang ditampilkan Rabi’ah
sesungguhnya tiada lain agar ia hanya lebih
mencintai Allah ketimbang makhluk-makhluknya.
Karena itu,hidup dalam kefakiran baginya
bukanlah halangan untuk beribadah danlebih
dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah
menganggap bahwakefakiran adalah suatu takdir,
yang karenanya ia harus terima dengan penuh
keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan,
demikian menurut Rabi’ah, adalah datang dari
Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknya itu,
Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan
Rasulullah: “Zuhudlahengkau pada dunia, pasti
Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa
yangada pada manusia, pasti manusia akan
mencintaimu.”
Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah
Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah) dalam pandangan
kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan
kedudukan mahabbah dalam sebuah maqamat
sufi tak ubahnya dengan maqam ma’rifat, atau
antara mahabbah dan ma’rifat merupakan
kembar dua yang satu sama lain tidak bisa
dipisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi
mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu timbul
dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang
cinta abadi dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta
itu timbul tanpa ada maksud dan tujuan apa pun.
Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-
nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang
diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf
(takut)dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan
al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas
ketakutan masuk neraka dan harapan untuk
masuksurga, maka mahabbah Rabi’ah justru
sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah bukan
lantaran takut neraka maupun mengharapkan
balasan surga,namun ia mencinta Allah lebih
karena Allah semata. Sikap cinta kepadadan
karena Allah semata ini misalnya tergambar
dalam sya’ir Rabi’ahsebagai berikut:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena
mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan
keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.
Cinta Rabi’ah kepada Allah sebegitu kuat
membelenggu hatinya, sehingga hatinya pun tak
mampu untuk berpaling kepada selain Allah.
Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah
Rabi’ah tidak mencintai Rasul?” Ia menjawab, “Ya,
aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada
Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai
makhluknya.”
Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi syetan dan
apakah ia membencinya? Ia menjawab, “Tidak,
cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang
kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa
membenci syetan.”
Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya,
sehingga ke mana saja Rabi’ah pergi, hanya Allah
saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah
dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu,
ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman
bercakap dalam hidup. Dalam salah satu sya’ir
berikut jelas tergambar bagaimana Cinta Rbi’ah
kepada Teman dan Kekasihnya itu:
Kujadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang
duduk.
Jisimku biar bercengkerama dengan Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri.
Menurut kaum sufi, proses perjalanan ruhani
Rabi’ah telah sampai kepada maqam mahabbah
dan ma’rifat. Namun begitu, sebelum sampai ke
tahapan maqam tersebut, Rabi’ah terlebih dahulu
melampaui tahapan-tahapan lain,antara lain tobat,
sabar dan syukur. Tahapan-tahapan ini ia lampaui
seiring dengan perwujudan Cintanya kepada
Tuhan. Tapi pada tahap tertentu, Cinta Rabi’ah
kepada Tuhannya seakan masih belum
terpuaskan,meski hijab penyaksian telah
disibakkan. Oleh karena itu, Rabi’ah tak henti-
hentinya memohon kepada Kekasihnya itu agar ia
bisa terus mencintai-Nya dan Dia pun Cinta
kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-
Nya” (QS. 5: 59).
Dalam kegamangannya itu, Rabi’ah tak putus-
putusnya berdoa dan bermunajat kepada Allah.
Bahkan dalam doanya itu ia berharap agar tetap
mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang
hatinya. Doanya:
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku
merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan
kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.
Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya
hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah.
Tapi bagi Rabi’ah, Cinta tentu saja bukan tujuan,
tetapi lebih dari itu Cinta adalah jalan keabadian
untuk menuju Tuhan sehingga Dia ridla kepada
hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan jalan
Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridha
kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya.
Harapan yang lebih jauh dari Cintanya kepada
Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan
dirinya, dan kemudian Tuhan sanggup
membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan
jugadi akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan
Cinta itu dirinya berharap Tuhan memperlihatkan
wajah yang selalu dirindukannya. Dalam
sya’irnya Rabi’ah mengatakan:
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu
selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
Namun, tak ada pujian dalam ini atau itu,
segala pujian hanya untuk-Mu dalam ini atau itu.
Abu Thalib al-Makki dalam mengomentari sya’ir di
atas mengatakan, dalam Cinta rindu itu, Rabi’ah
telah melihat Allah dan mencintai-Nya dengan
merenungi esensi kepastian, dan tidak melalui
cerita orang lain. Iatelah mendapat kepastian
(jaminan) berupa rahmat dan kebaikan Allah
kepadanya. Cintanya telah menyatu melalui
hubungan pribadi, dan ia telah berada dekat sekali
dengan-Nya dan terbang meninggalkan dunia ini
serta menyibukkan dirinya hanya dengan-Nya,
meninggalkan duniawi kecuali hanya kepada-Nya.
Sebelumnya ia masih memiliki nafsu
keduniawian, tetapi setelah menatap Allah, ia
tanggalkan nafsu-nafsu tersebut dan Dia menjadi
keseluruhan di dalam hatinya dan Dia satu-
satunya yang ia cintai. Allah telah memebaskan
hatinya dari keinginan duniawi, kecuali hanya diri-
Nya, dan dengan ini meskipun ia masih belum
pantas memiliki Cinta itu dan masih belum sesuai
untuk dianggap menatap Allah pada akhirnya,
hijab tersingkap sudah dan ia berada di tempat
yang mulia. Cintanya kepada Allah tidak
memerlukan balasan dari-Nya, meskipun ia
merasa harus mencintai-Nya.
Al-Makki melanjutkan, bagi Allah, sudah
selayaknya Dia menampakkan rahmat-Nya di
muka bumi ini karena doa-doa Rabi’ah (yaitu pada
saat ia melintasi Jalan itu) dan rahmat Allah itu
akan tampak juga di akhirat nanti (yaitu pada saat
Tujuan akhir itu telah dicapainya dan ia akan
melihat wajah Allah tanpa ada hijab, berhadap-
hadapan). Tak ada lagi pujian yang layak bagi-Nya
di sini atau di sana nanti, sebab Allah sendiri yang
telah membawanya di antara dua tingkatan itu
(dunia dan akhirat) (Abu Thalib al-Makki, Qut al-
Qulub, 1310 H, dalam MargaretSmith, 192cool.
Rabi’ah dan menjelang hari kematiannya
Dikisahkan, Rabi’ah telah menjalani masa hidup
selama kurang lebih 90tahun. Dan selama itu, ia
hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta
dirinya, hingga Malaikat Izrail menjemputnya.
Tentu saja, Rabi’ah telah menjalani pula masa-
masa di mana Allah selalu berada dekat
dengannya.Para ulama yang mengenal dekat
dengan Rabi’ah mengatakan, kehadiran Rabi’ah di
dunia hingga kembalinya ke alam akhirat, tak
pernah terbersit sedikit pun adanya keinginan lain
kecuali hanya ta’zhim(mengagungkan) kepada
Allah. Ia juga bahkan sedikit sekali meminta
kepada makhluk ciptaan-Nya.
Berbagai kisah menjelang kematian Rabi’ah
menyebutkan, di antaranya pada masa
menjelang kematian Rabi’ah, banyak sekali orang
alim duduk mengelilinginya. Rabi’ah lalu meminta
kepada mereka: ‘Bangkit dan keluarlah! Berikan
jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha
Agung!’Maka semua orang pun bangkit dan
keluar, dan pada saat mereka menutup pintu,
mereka mendengar suara Rabi’ah mengucapkan
kalimat syahadat,setelah itu terdengar sebuah
suara: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah
kepada Tuhanmu, berpuas-puaslah dengan-Nya.
Maka masuklah bersama golongan hamba-
hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-
Ku.” (QS. 89:27-30).
Setelah itu tidak terdengar lagi suara apa pun.
Pada saat mereka kembali masuk ke kamar
Rabi’ah, tampak perempuan tua renta itu telah
meninggalkan alam fana. Para dokter yang berdiri
di hadapannya lalu menyuruh agar jasad Rabi’ah
segera dimandikan, dikafani, disalatkan,dan
kemudian dibaringkan di tempat yang abadi.
Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang
yang mengenalnya hampir takpercaya, bahwa
perempuan suci itu akan segera meninggalkan
alam fanadan menjumpai Tuhan yang sangat
dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah,
karena dialah perempuan yang selama hidupnya
penuh penderitaan, namun tak pernah
bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah
pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang
telah berjumpa dengan Tuhannya.
Karenanya, setelah kematian Rabi’ah, seseorang
lalu pernah memimpikanya. Dia mengatakan
kepada Rabi’ah, “Ceritakanlah bagaimana
keadaanmu di sana dan bagaimana engkau dapat
lolos dari Munkar dan Nakir?” Rabi’ah menjawab,
“Mereka datang menghampiriku dan
bertanya,“Siapakah Tuhanmu?’ Aku katakana,
“Kembalilah dan katakan kepada Tuhanmu, ribuan
dan ribuan sudah ciptaan-Mu, Engkau tentunya
tidak akan lupa pada perempuan tua lemah ini.
Aku, yang hanya memiliki-Mu didunia, tidak
pernah melupakan-Mu. Sekarang, mengapa
Engkau harus bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’”
Meskipun hidup Rabiah seperti berlangsung linear
dan konstan, seluruh energi hidupnya dia abdikan
untuk cinta, Rabiah memberi tahu kepada kita
bahwa hidup memang tidak sederhana, seperti
yang dijalaninya.Hidup itu begitu rumit, kadang
kadang ada kemesraan dan kadang-kadangada
kehidmatan bertahta.
Rabiah wafat dengan meninggalkan pengalaman
sufistik yang takter hingga. Hikmah yang
ditinggalkan sangat berharga dan patut kita gali
sebagai ‘makrifat’ hidup. Kini Rabi’ah telah tiada.
Perempuan kekasih Ilahi itu meninggal untuk
selamanya, dan akan kembali hidup
bersamaSang Kekasih di sisi-Nya. Jasad kasarnya
hilang ditelan bumi, tetapiruh sucinya terbang
bersama para sufi, para wali, dan para pecinta
Ilahi. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah
yaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-
moga Allah meridai, amin…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s