>Tentang, Jin, Syetan, Manusia dan Iblis

>Tentang, Jin, Syetan, Manusia dan Iblis

>
Ada pengertian yang kemudian menjadi penting ketika mengkaji
kitab Allah, yaitu penyebutan Jin, Manusia, Setan, dan Iblis. Saya
kadang bingung, apa bedanya. Oleh karena itu, di bawah ini saya
kopi paiskan dari sumber Syariah Online yang ditulis oleh Al-
Ustadz Abu Hamzah Yusuf di bawah ini, dengan beberapa catatan
tambahan dari redaksi As Syariah On line yang melengkapi.
Sebelum saya lanjutkan membaca (mempelajari), kalau minat,
sengaja saya buat dengan judul Jin dan Manusia, Setan dan Iblis.
Alasan saya mengambil judul tersebut karena :
1. Jin dan manusia, dalam beberapa ayat al Qur’an dijelaskan
sebagai produk ciptaan (dari api yang sangat panas dan dari tanah
kering). Keduanya pada beberapa ayat disebut “orang”, yaitu yang
mengindikasikan sebutan kepada mahluk. Jika dipisahkan, maka
saya menangkap sebutan orang yang manusia adalah insan atau
manusia.
2. Setan dan Iblis diterangkan dalam bahasa ayat lebih saya
tangkap sebagai sikap/perilaku. Karena ditegasi dalam Al Qur’an
setan bisa dari golongan Jin dan Manusia, maka menisbahkan kata
setan hanya untuk mahluk yang disebut jin atau mahluk tidak
kasat mata, menurut saya mengurangi kemampuan kita
memaknai keseluruhan pemahaman.
3. Iblis disebutkan langsung oleh Allah kepada Jin. Jadi saya
menyimpulkan bahwa pengingkaran jin pada perintah Allah, maka
Allah menyebutnya sebagai Iblis. Namun, yang dapat saya
pahami, sebutan “iblis” juga spesifik pada suatu kondisi, yaitu
kondisi ketika Adam dan Iblis sama-sama ada di Surga. Saya
belum menemukan kata “iblis” dalam operasional setelah
komunikasi Allah dengan Iblis di Surga. (pls koreksi bila salah).
4. Penyebutan sebagai syetan juga perilaku dan jelas perilaku
ingkar, dalam banyak ayat saya menangkapnya ditujukan pada
perilaku manusia dan jin.
Tepatkah kalau dikatakan moyangnya setan adalah Iblis?. Menurut
pemahaman jelas tidak tepat. Setan itu dari golongan manusia dan
golongan jin. Kalau disebut moyangnya setan adalah Iblis, maka
penyifatan (sikap atau perilaku) menjadi wujud. Lebih tepat,
moyangnya jin adalah jin yang ingkar (iblis). Namun, jelas pula
dalam al qur’an ada jin yang menyeru kebaikan (beriman). Ini bisa
dipahami bahwa Iblis ada yang menjadi setan dan ada yang
menjadi orang beriman. Sebutan “orang” ditujukan kepada jin dan
manusia.
Dengan pola pikir ini, saya “merasa” bahwa Surat An Nas yang
diakhir kalimat menegasi … dari golongan jin dan manusia
menjadi lebih mudah terpahami.
Sedangkan kalau kita mendengar kata godaan setan. Itu lebih
dipahami sebagai : godaan dari manusia ingkar dan jin yang
ingkar.
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian
mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-
perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am:
112)
Atas dasar pola pikir inilah, maka saya pilih judul di atas dengan
kata Jin dan Manusia, Setan dan Iblis. Perbedaan dan pemahaman
ini tentunya diharapkan karenanya, bila mengkaji lebih tepat
sasaran.
Tepatkah kalau ada pernyataan Siapakah musuh syetan?. Kalau
jawabannya : Syetan adalah musuh manusia. Maka jawaban ini,
sebenarnya keluar dari definisi bahwa setan itu bisa dari golongan
manusia dan jin. Jadi ayat berikut ini :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-
Baqarah : 208 )
semestinya dipahami, syaitan itu musuh nyata bagimu. Kata “mu”
di sini adalah orang-orang beriman. Bukankah kita wahyu ini
untuk orang beriman dan berakal…
Sedangkan tulisan di bawah ini, meski tidak bersetuju dengan
judulnya, namun jelas sebuah informasi yang berharga untuk
disimak dan dipelajari.
Perbedaan Antara Jin, Setan dan Iblis
Penulis : Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Tema Jin, Setan, dan Iblis masih menyisakan kontroversi hingga
kini. Namun yang jelas, eksistensi mereka diakui dalam syariat.
Sehingga, jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan
keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus nabi
kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah yang
umum dan menyeluruh. Tidak hanya untuk kalangan Arab saja
namun juga untuk selain Arab. Tidak khusus bagi kaumnya saja,
namun bagi umat seluruhnya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengutusnya kepada segenap Ats-Tsaqalain: jin dan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta ’ala berfirman:
ْﻞُﻗ ﺎَﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻲِّﻧِﺇ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ
ْﻢُﻜْﻴَﻟِﺇ ﺎًﻌْﻴِﻤَﺟ
“Katakanlah: `Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan
Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
َﻥﺎَﻛَﻭ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ُﺚَﻌْﺒُﻳ ﻰَﻟِﺇ ِﻪِﻣْﻮَﻗ ًﺔَّﺻﺎَﺧ
ُﺖْﺜِﻌُﺑَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ًﺔَّﻓﺎَﻛ
“Adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya sedang aku diutus
kepada seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir
bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
ْﺫِﺇَﻭ ﺎَﻨْﻓَﺮَﺻ َﻚْﻴَﻟِﺇ ﺍًﺮَﻔَﻧ َﻦِﻣ ِّﻦِﺠْﻟﺍ
َﻥْﻮُﻌِﻤَﺘْﺴَﻳ َﻥﺁْﺮُﻘْﻟﺍ ﺎَّﻤَﻠَﻓ ُﻩْﻭُﺮَﻀَﺣ
ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ﺍﻮُﺘِﺼْﻧَﺃ ﺎَّﻤَﻠَﻓ َﻲِﻀُﻗ ﺍْﻮَّﻟَﻭ ﻰَﻟِﺇ
ْﻢِﻬِﻣْﻮَﻗ َﻦْﻳِﺭِﺬْﻨُﻣ. ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ﺎَﻳ ﺎَﻨَﻣْﻮَﻗ ﺎَّﻧِﺇ
ﺎَﻨْﻌِﻤَﺳ ﺎًﺑﺎَﺘِﻛ َﻝِﺰْﻧُﺃ ْﻦِﻣ ِﺪْﻌَﺑ ﻰَﺳْﻮُﻣ
ﺎًﻗِّﺪَﺼُﻣ ﺎَﻤِﻟ َﻦْﻴَﺑ ِﻪْﻳَﺪَﻳ ﻱِﺪْﻬَﻳ ﻰَﻟِﺇ
ِّﻖَﺤْﻟﺍ ﻰَﻟِﺇَﻭ ٍﻖْﻳِﺮَﻃ ٍﻢْﻴِﻘَﺘْﺴُﻣ. ﺎَﻳ ﺎَﻨَﻣْﻮَﻗ
ﺍﻮُﺒْﻴِﺟَﺃ َﻲِﻋﺍَﺩ ِﻪﻠﻟﺍ ﺍﻮُﻨِﻣﺁَﻭ ِﻪِﺑ ْﺮِﻔْﻐَﻳ
ْﻢُﻜَﻟ ْﻦِﻣ ْﻢُﻜِﺑْﻮُﻧُﺫ ْﻢُﻛْﺮِﺠُﻳَﻭ ْﻦِﻣ ٍﺏﺍَﺬَﻋ
ٍﻢْﻴِﻟَﺃ. ْﻦَﻣَﻭ َﻻ ْﺐِﺠُﻳ َﻲِﻋﺍَﺩ ِﻪﻠﻟﺍ َﺲْﻴَﻠَﻓ
ٍﺰِﺠْﻌُﻤِﺑ ﻲِﻓ ِﺽْﺭَﻷْﺍ َﺲْﻴَﻟَﻭ ُﻪَﻟ ْﻦِﻣ ِﻪِﻧْﻭُﺩ
ُﺀﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ ﻲِﻓ ٍﻝَﻼَﺿ ٍﻦْﻴِﺒُﻣ
“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu
yang mendengarkan Al-Qur`an. Maka ketika mereka menghadiri
pembacaannya lalu mereka berkata: `Diamlah kamu (untuk
mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai, mereka
kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka
berkata: `Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah
mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang telah diturunkan setelah
Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi
memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Wahai kaum
kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan
berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-
dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan
orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada
Allah, maka dia tidak akan lepas dari azab Allah di muka bumi dan
tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam
kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)
Jin Diciptakan Sebelum Manusia
Tak ada satupun dari golongan kaum muslimin yang mengingkari
keberadaan jin. Demikian pula mayoritas kaum kuffar meyakini
keberadaannya. Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani pun
mengakui eksistensinya sebagaimana pengakuan kaum muslimin,
meski ada sebagian kecil dari mereka yang mengingkarinya.
Sebagaimana ada pula di antara kaum muslimin yang
mengingkarinya yakni dari kalangan orang bodoh dan sebagian
Mu’tazilah.
Jelasnya, keberadaan jin merupakan hal yang tak dapat disangkal
lagi mengingat pemberitaan dari para nabi sudah sangat
mutawatir dan diketahui orang banyak. Secara pasti, kaum jin
adalah makhluk hidup, berakal dan mereka melakukan segala
sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka dibebani perintah dan
larangan, hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti
yang ada pada manusia atau selainnya. (Idhahu Ad-Dilalah fi
’Umumi Ar-Risalah hal. 1, lihat Majmu’ul Fatawa, 19/9)
Anehnya orang-orang filsafat masih mengingkari keberadaan jin.
Dan dalam hal inipun Muhammad Rasyid Ridha telah keliru. Dia
mengatakan: “Sesungguhnya jin itu hanyalah ungkapan/
gambaran tentang bakteri-bakteri. Karena ia tidak dapat dilihat
kecuali dengan perantara mikroskop.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah
minal Jin oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu)
Jin lebih dahulu diciptakan daripada manusia sebagaimana
dikabarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
َﻭ ْﺪَﻘَﻟ ﺎَﻨْﻘَﻠَﺧ َﻥﺎَﺴْﻧِﻹْﺍ ْﻦِﻣ ٍﻝﺎَﺼْﻠَﺻ ْﻦِﻣ
ٍﺈَﻤَﺣ ٍﻥْﻮُﻨْﺴَﻣ. َّﻥﺎَﺠْﻟﺍَﻭ ُﻩﺎَﻨْﻘَﻠَﺧ ْﻦِﻣ
ُﻞْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ِﺭﺎَﻧ ِﻡْﻮُﻤَّﺴﻟﺍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api
yang sangat panas.” (Al-Hijr: 26-27)
Karena jin lebih dulu ada, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala
mendahulukan penyebutannya daripada manusia ketika
menjelaskan bahwa mereka diperintah untuk beribadah seperti
halnya manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﺎَﻣَﻭ ُﺖْﻘَﻠَﺧ َّﻦِﺠْﻟﺍ َﺲْﻧِﻹْﺍَﻭ َّﻻِﺇ
ِﻥْﻭُﺪُﺒْﻌَﻴِﻟ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Jin, Setan, dan Iblis
Kalimat jin, setan, ataupun juga Iblis seringkali disebutkan dalam
Al-Qur`an, bahkan mayoritas kita pun sudah tidak asing lagi
mendengarnya. Sehingga eksistensinya sebagai makhluk Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi diragukan, berdasarkan Al-Qur`an
dan As-Sunnah serta ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Tinggal persoalannya, apakah jin, setan, dan Iblis itu tiga makhluk
yang berbeda dengan penciptaan yang berbeda, ataukah mereka
itu bermula dari satu asal atau termasuk golongan para malaikat?
Yang pasti, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan asal-
muasal penciptaan jin dengan firman-Nya:
َّﻥﺎَﺠْﻟﺍَﻭ ُﻩﺎَﻨْﻘَﻠَﺧ ْﻦِﻣ ُﻞْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ِﺭﺎَﻧ
ِﻡْﻮُﻤَّﺴﻟﺍ
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang
sangat panas.” (Al-Hijr: 27)
Juga firman-Nya:
َﻖَﻠَﺧَﻭ َّﻥﺎَﺠْﻟﺍ ْﻦِﻣ ٍﺝِﺭﺎَﻣ ْﻦِﻣ ٍﺭﺎَﻧ
“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Ar-Rahman: 15)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ِﺖَﻘِﻠُﺧ ُﺔَﻜِﺋَﻼَﻤْﻟﺍ ْﻦِﻣ ٍﺭْﻮُﻧ ِﺖَﻘِﻠُﺧَﻭ
ُّﻥﺎَﺠْﻟﺍ ْﻦِﻣ ٍﺝِﺭﺎَّﻣ ْﻦِﻣ ٍﺭﺎَﻧ َﻖِﻠُﺧَﻭ ُﻡَﺩﺁ
ﺎَّﻤِﻣ َﻒِﺻُﻭ ْﻢُﻜَﻟ
“Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api,
dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian.” (HR.
Muslim no. 2996 dari ’Aisyah radhiallahu ‘anha)
Adapun Iblis, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
tentangnya:
ْﺫِﺇَﻭ ﺎَﻨْﻠُﻗ ِﺔَﻜِﺋَﻼَﻤْﻠِﻟ ﺍﻭُﺪُﺠْﺳﺍ َﻡَﺩﻵ
ﺍﻭُﺪَﺠَﺴَﻓ َّﻻِﺇ َﺲْﻴِﻠْﺑِﺇ َﻥﺎَﻛ َﻦِﻣ ِّﻦِﺠْﻟﺍ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali
Iblis. Dia adalah dari golongan jin…” (Al-Kahfi: 50)
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Iblis mengkhianati asal
penciptaannya, karena dia sesungguhnya diciptakan dari nyala api,
sedangkan asal penciptaan malaikat adalah dari cahaya. Maka Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan di sini bahwa Iblis berasal dari
kalangan jin, dalam arti dia diciptakan dari api. Al-Hasan Al-Bashri
berkata: ‘Iblis tidak termasuk malaikat sedikitpun. Iblis merupakan
asal mula jin, sebagaimana Adam sebagai asal mula
manusia’.” (Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 3/94)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu
mengatakan: “Iblis adalah abul jin (bapak para jin).” (Taisir Al-Karim
Ar-Rahman, hal. 406 dan 793)
Sedangkan setan, mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-
Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang
perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan,
namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan
manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka
berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan
melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya
saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal
Jin)
Siapakah Iblis?1
Terjadi perbedaan pendapat dalam hal asal-usul iblis, apakah
berasal dari malaikat atau dari jin.
Pendapat pertama menyatakan bahwa iblis berasal dari jenis jin.
Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu. Beliau
menyatakan: “Iblis tidak pernah menjadi golongan malaikat
sekejap matapun sama sekali. Dan dia benar-benar asal-usul jin,
sebagaimana Adam adalah asal-usul manusia.” (Diriwayatkan Ibnu
Jarir dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 50, dan dishahihkan oleh Ibnu
Katsir dalam Tafsir-nya)
Pendapat ini pula yang tampaknya dikuatkan oleh Ibnu Katsir, Al-
Jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur‘an (3/215), dan Asy-
Syinqithi dalam kitabnya Adhwa`ul Bayan (4/120). Penjelasan
tentang dalil pendapat ini beliau sebutkan dalam kitab tersebut.
Secara ringkas, dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Kema’shuman malaikat dari perbuatan kufur yang dilakukan
iblis, sebagaimana firman Allah:
َﻻ َﻥْﻮُﺼْﻌَﻳ َﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻣ ْﻢُﻫَﺮَﻣَﺃ َﻥْﻮُﻠَﻌْﻔَﻳَﻭ ﺎَﻣ
َﻥْﻭُﺮَﻣْﺆُﻳ
“…yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-
Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
َﻻ ُﻪَﻧْﻮُﻘِﺒْﺴَﻳ ِﻝْﻮَﻘْﻟﺎِﺑ ْﻢُﻫَﻭ ِﻩِﺮْﻣَﺄِﺑ
َﻥْﻮُﻠَﻤْﻌَﻳ
“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan, dan mereka
mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (Al-Anbiya`: 27)
2. Dzahir surat Al-Kahfi ayat 50
ْﺫِﺇَﻭ ﺎَﻨْﻠُﻗ ِﺔَﻜِﺋَﻼَﻤْﻠِﻟ ﺍﻭُﺪُﺠْﺳﺍ َﻡَﺩﻵ
ﺍﻭُﺪَﺠَﺴَﻓ َّﻻِﺇ َﺲْﻴِﻠْﺑِﺇ َﻥﺎَﻛ َﻦِﻣ ِّﻦِﺠْﻟﺍ
َﻖَﺴَﻔَﻓ ْﻦَﻋ ِﺮْﻣَﺃ ِﻪِّﺑَﺭ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali
iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu ia mendurhakai perintah
Rabbnya.”
Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa iblis dari jin, dan jin
bukanlah malaikat. Ulama yang memegang pendapat ini
menyatakan: “Ini adalah nash Al-Qur`an yang tegas dalam
masalah yang diperselisihkan ini.” Beliau juga menyatakan: “Dan
hujjah yang paling kuat dalam masalah ini adalah hujjah mereka
yang berpendapat bahwa iblis bukan dari malaikat.”
Adapun pendapat kedua yang menyatakan bahwa iblis dari
malaikat, menurut Al-Qurthubi, adalah pendapat jumhur ulama
termasuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Alasannya adalah
firman Allah:
ْﺫِﺇَﻭ ﺎَﻨْﻠُﻗ ِﺔَﻜِﺋَﻼَﻤْﻠِﻟ ﺍﻭُﺪُﺠْﺳﺍ َﻡَﺩﻵ
ﺍﻭُﺪَﺠَﺴَﻓ َّﻻِﺇ َﺲْﻴِﻠْﺑِﺇ ﻰَﺑَﺃ َﺮَﺒْﻜَﺘْﺳﺍَﻭ
َﻥﺎَﻛَﻭ َﻦِﻣ َﻦْﻳِﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali
Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan
orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Juga ada alasan-alasan lain berupa beberapa riwayat Israiliyat.
Pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, insya Allah,
karena kuatnya dalil mereka dari ayat-ayat yang jelas.
Adapun alasan pendapat kedua (yakni surat Al-Baqarah ayat 34),
sebenarnya ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa iblis dari
malaikat. Karena susunan kalimat tersebut adalah susunan istitsna`
munqathi’ (yaitu yang dikecualikan tidaklah termasuk jenis yang
disebutkan).
Adapun cerita-cerita asal-usul iblis, itu adalah cerita Israiliyat. Ibnu
Katsir menyatakan: “Dan dalam masalah ini (asal-usul iblis), banyak
yang diriwayatkan dari ulama salaf. Namun mayoritasnya adalah
Israiliyat (cerita-cerita dari Bani Israil) yang (sesungguhnya)
dinukilkan untuk dikaji –wallahu a’lam–, Allah lebih tahu tentang
keadaan mayoritas cerita itu. Dan di antaranya ada yang dipastikan
dusta, karena menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kita. Dan
apa yang ada di dalam Al-Qur`an sudah memadai dari yang
selainnya dari berita-berita itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/94)
Asy-Syinqithi menyatakan: “Apa yang disebutkan para ahli tafsir
dari sekelompok ulama salaf, seperti Ibnu ‘Abbas dan selainnya,
bahwa dahulu iblis termasuk pembesar malaikat, penjaga surga,
mengurusi urusan dunia, dan namanya adalah ‘Azazil, ini semua
adalah cerita Israiliyat yang tidak bisa dijadikan
landasan.” (Adhwa`ul Bayan, 4/120-121)
Siapakah Setan?2
Setan atau Syaithan (ٌﻥﺎَﻄْﻴَﺷ) dalam bahasa Arab diambil dari
kata (َﻦَﻄَﺷ) yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan
bahwa itu dari kata (َﻁﺎَﺷ) yang berarti terbakar atau batal.
Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu
Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran
atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir,
hal. 313).
Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap
yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala
sesuatu.
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
َﻚِﻟَﺬَﻛَﻭ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ ِّﻞُﻜِﻟ ٍّﻲِﺒَﻧ ﺍًّﻭُﺪَﻋ
َﻦْﻴِﻃﺎَﻴَﺷ ِﺲْﻧِﻹْﺍ ِّﻦِﺠْﻟﺍَﻭ ﻲِﺣْﻮُﻳ ْﻢُﻬُﻀْﻌَﺑ
ﻰَﻟِﺇ ٍﺾْﻌَﺑ َﻑُﺮْﺧُﺯ ِﻝْﻮَﻘْﻟﺍ ﺍًﺭْﻭُﺮُﻏ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian
mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-
perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am:
112)
(Dalam ayat ini) Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti
halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka
disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak
dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari
kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)
Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang
keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir,
2/127). Lihat juga Al-Qamus Al-Muhith (hal. 1071).
Yang mendukung pendapat ini adalah surat Al-An’am ayat 112:
َﻚِﻟَﺬَﻛَﻭ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ ِّﻞُﻜِﻟ ٍّﻲِﺒَﻧ ﺍًّﻭُﺪَﻋ
َﻦْﻴِﻃﺎَﻴَﺷ ِﺲْﻧِﻹْﺍ ِّﻦِﺠْﻟﺍَﻭ ﻲِﺣْﻮُﻳ ْﻢُﻬُﻀْﻌَﺑ
ﻰَﻟِﺇ ٍﺾْﻌَﺑ َﻑُﺮْﺧُﺯ ِﻝْﻮَﻘْﻟﺍ ﺍًﺭْﻭُﺮُﻏ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian
mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-
perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am:
112)
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu,
ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan:
“Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab:
“Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun
bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu
Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan
jin. ” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan
manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”
Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad
hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits
tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan
keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)
Yang mendukung pendapat ini juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dalam riwayat Muslim:
ُﺐْﻠَﻜْﻟﺍ ُﺩَﻮْﺳَﻷْﺍ ٌﻥﺎَﻄْﻴَﺷ
“Anjing hitam adalah setan.”
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam– yaitu setan
dari jenis anjing.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)
Ini adalah pendapat Qatadah, Mujahid dan yang dikuatkan oleh
Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Asy-Syaukani dan Asy-Syinqithi.
Dalam masalah ini ada tafsir lain terhadap ayat itu, tapi itu adalah
pendapat yang lemah. (ed)
Ketika membicarakan tentang setan dan tekadnya dalam
menyesatkan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
َﻝﺎَﻗ ﻲِﻧْﺮِﻈْﻧَﺃ ﻰَﻟِﺇ ِﻡْﻮَﻳ َﻥْﻮُﺜَﻌْﺒُﻳ. َﻝﺎَﻗ
َﻚَّﻧِﺇ َﻦِﻣ َﻦْﻳِﺮَﻈْﻨُﻤْﻟﺍ. َﻝﺎَﻗ ﺎَﻤِﺒَﻓ
ﻲِﻨَﺘْﻳَﻮْﻏَﺃ َّﻥَﺪُﻌْﻗَﻷ ْﻢُﻬَﻟ َﻚَﻃﺍَﺮِﺻ
َﻢْﻴِﻘَﺘْﺴُﻤْﻟﺍ. َّﻢُﺛ ْﻢُﻬَّﻨَﻴِﺗﻵ ْﻦِﻣ ِﻦْﻴَﺑ
ْﻢِﻬْﻳِﺪْﻳَﺃ ْﻦِﻣَﻭ ْﻢِﻬِﻔْﻠَﺧ ْﻦَﻋَﻭ ْﻢِﻬِﻧﺎَﻤْﻳَﺃ
ْﻦَﻋَﻭ ْﻢِﻬِﻠِﺋﺎَﻤَﺷ َﻻَﻭ ُﺪِﺠَﺗ ْﻢُﻫَﺮَﺜْﻛَﺃ
َﻦْﻳِﺮِﻛﺎَﺷ
“Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka
dibangkitkan’, Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk
mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab: ‘Karena Engkau
telah menghukumiku tersesat, aku benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.
Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak
akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf:
14-17)
Setan adalah turunan Iblis, sebagaimana firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala:
ُﻪَﻧْﻭُﺬِﺨَّﺘَﺘَﻓَﺃ ُﻪَﺘَّﻳِّﺭُﺫَﻭ َﺀﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ ْﻦِﻣ
ﻲِﻧْﻭُﺩ ْﻢُﻫَﻭ ْﻢُﻜَﻟ ٌّﻭُﺪَﻋ َﺲْﺌِﺑ َﻦْﻴِﻤِﻟﺎَّﻈﻠِﻟ
ًﻻَﺪَﺑ
“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai
pemimpin selain-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat
buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang
dzalim.” (Al-Kahfi: 50)
Turunan-turunan Iblis yang dimaksud dalam ayat ini adalah setan-
setan. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 453)
Penggambaran Tentang Jin
Al-jinnu berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang
bermakna satarahu (menutupi sesuatu). Maka segala sesuatu yang
tertutup berarti tersembunyi. Jadi, jin itu disebut dengan jin karena
keadaannya yang tersembunyi.
Jin memiliki roh dan jasad. Dalam hal ini, Syaikhuna Muqbil bin
Hadi rahimahullahu mengatakan: “Jin memiliki roh dan jasad.
Hanya saja mereka dapat berubah-ubah bentuk dan menyerupai
sosok tertentu, serta mereka bisa masuk dari tempat manapun.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar
menutup pintu-pintu sembari beliau mengatakan: ‘Sesungguhnya
setan tidak dapat membuka yang tertutup’. Beliau memerintahkan
agar kita menutup bejana-bejana dan menyebut nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala atasnya. Demikian pula bila seseorang
masuk ke rumahnya kemudian membaca bismillah, maka setan
mengatakan: ‘Tidak ada kesempatan menginap’. Jika seseorang
makan dan mengucapkan bismillah, maka setan berkata: ‘Tidak
ada kesempatan menginap dan bersantap malam’.” (Nashihatii li
Ahlis Sunnah Minal Jin) Jin bisa berujud seperti manusia dan
binatang. Dapat berupa ular dan kalajengking, juga dalam wujud
unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai dan juga burung. Serta
bisa berujud Bani Adam seperti waktu setan mendatangi kaum
musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak
pergi menuju Badr. Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk
yang banyak, seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Karena
warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan setan dan
mempunyai kekuatan panas. (Idhahu Ad-Dilalah, hal. 19 dan 23)
Kaum jin memiliki tempat tinggal yang berbeda-beda. Jin yang
shalih bertempat tinggal di masjid dan tempat-tempat yang baik.
Sedangkan jin yang jahat dan merusak, mereka tinggal di kamar
mandi dan tempat-tempat yang kotor. (Nashihatii li Ahlis Sunnah
Minal Jin) Tulang dan kotoran hewan adalah makanan jin. Di dalam
sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata
kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
ﻲِﻨِﻐْﺑﺍ ﺍًﺭﺎَﺠْﺣَﺃ ْﺾِﻔْﻨَﺘْﺳَﺃ ﺎَﻬِﺑ َﻻَﻭ ﻲِﻨِﺗْﺄَﺗ
ٍﻢْﻈَﻌِﺑ َﻻَﻭ ٍﺔَﺛْﻭَﺮِﺑ. ُﻪُﺘْﻴَﺗَﺄَﻓ ٍﺭﺎَﺠْﺣَﺄِﺑ
ﺎَﻬُﻠَﻤْﺣَﺃ ﻲِﻓ ِﻑَﺮَﻃ ﻲِﺑْﻮَﺛ ﻰَّﺘَﺣ ﺎَﻬُﺘْﻌَﺿَﻭ
ﻰَﻟِﺇ ِﻪِﺒْﻨَﺟ َّﻢُﺛ ُﺖْﻓَﺮَﺼْﻧﺍ ﻰَّﺘَﺣ ﺍَﺫِﺇ َﻍَﺮَﻓ
ُﺖْﻴَﺸَﻣ ُﺖْﻠُﻘَﻓ: ﺎَﻣ ُﻝﺎَﺑ ِﻢْﻈَﻌْﻟﺍ ؟ِﺔَﺛْﻭَّﺮﻟﺍَﻭ
َﻝﺎَﻗ: ﺎَﻤُﻫ ْﻦِﻣ ِﻡﺎَﻌَﻃ ِّﻦِﺠْﻟﺍ ُﻪَّﻧِﺇَﻭ ﻲِﻧﺎَﺗَﺃ
ُﺪْﻓَﻭ ِّﻦِﺟ َﻦْﻴِﺒْﻴِﺼَﻧ َﻢْﻌِﻧَﻭ ُّﻦِﺠْﻟﺍ
ﻲِﻧْﻮُﻟَﺄَﺴَﻓ َﺩﺍَّﺰﻟﺍ ُﺕْﻮَﻋَﺪَﻓ َﻪﻠﻟﺍ ْﻢُﻬَﻟ ْﻥَﺃ
َﻻ ﺍﻭُّﺮُﻤَﻳ ٍﻢْﻈَﻌِﺑ َﻻَﻭ ٍﺔَﺛْﻭَﺮِﺑ َّﻻِﺇ ﺍﻭُﺪَﺟَﻭ
ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋ ﺎًﻣﺎَﻌَﻃ
“Carikan beberapa buah batu untuk kugunakan bersuci dan
janganlah engkau carikan tulang dan kotoran hewan.” Abu
Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku pun membawakan
untuknya beberapa buah batu dan kusimpan di sampingnya. Lalu
aku menjauh hingga beliau menyelesaikan hajatnya.”
Aku bertanya: “Ada apa dengan tulang dan kotoran hewan?”
Beliau menjawab: “Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah
didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin, dan mereka adalah
sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. Maka aku berdoa
kepada Allah untuk mereka agar tidaklah mereka melewati tulang
dan kotoran melainkan mereka mendapatkan makanan.” (HR. Al-
Bukhari no. 3860 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dalam
riwayat Muslim disebutkan: “Semua tulang yang disebutkan nama
Allah padanya”, ed)
Gambaran Tentang Iblis dan Setan
Iblis adalah wazan dari fi’il, diambil dari asal kata al-iblaas yang
bermakna at-tai`as (putus asa) dari rahmat Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Mereka adalah musuh nomer wahid bagi manusia, musuh bagi
Adam dan keturunannya. Dengan kesombongan dan analoginya
yang rusak serta kedustaannya, mereka berani menentang
perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala saat mereka enggan untuk
sujud kepada Adam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ْﺫِﺇَﻭ ﺎَﻨْﻠُﻗ ِﺔَﻜِﺋَﻼَﻤْﻠِﻟ ﺍﻭُﺪُﺠْﺳﺍ َﻡَﺩﻵ
ﺍﻭُﺪَﺠَﺴَﻓ َّﻻِﺇ َﺲْﻴِﻠْﺑِﺇ ﻰَﺑَﺃ َﺮَﺒْﻜَﺘْﺳﺍَﻭ
َﻥﺎَﻛَﻭ َﻦِﻣ َﻦْﻳِﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali
Iblis. Ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan
orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Malah dengan analoginya yang menyesatkan, Iblis menjawab:
َﻝﺎَﻗ ﺎَﻧَﺃ ٌﺮْﻴَﺧ ُﻪْﻨِﻣ ﻲِﻨَﺘْﻘَﻠَﺧ ْﻦِﻣ ٍﺭﺎَﻧ
ُﻪَﺘْﻘَﻠَﺧَﻭ ْﻦِﻣ ٍﻦْﻴِﻃ
“Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia
Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf: 12)
Analogi atau qiyas Iblis ini adalah qiyas yang paling rusak. Qiyas
ini adalah qiyas batil karena bertentangan dengan perintah Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang menyuruhnya untuk sujud.
Sedangkan qiyas jika berlawanan dengan nash, maka ia menjadi
batil karena maksud dari qiyas itu adalah menetapkan hukum
yang tidak ada padanya nash, mendekatkan sejumlah perkara
kepada yang ada nashnya, sehingga keberadaannya menjadi
pengikut bagi nash.
Bila qiyas itu berlawanan dengan nash dan tetap digunakan/
diakui, maka konsekuensinya akan menggugurkan nash. Dan
inilah qiyas yang paling jelek!
Sumpah mereka untuk menggoda Bani Adam terus berlangsung
sampai hari kiamat setelah mereka berhasil menggoda Abul
Basyar (bapak manusia) Adam dan vonis sesat dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala untuk mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengingatkan kita dengan firman-Nya:
ﻲِﻨَﺑﺎَﻳ َﻡَﺩﺁ َﻻ ُﻢُﻜَّﻨَﻨِﺘْﻔَﻳ ُﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ﺎَﻤَﻛ
َﺝَﺮْﺧَﺃ ْﻢُﻜْﻳَﻮَﺑَﺃ َﻦِﻣ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ُﻉِﺰْﻨَﻳ
ﺎَﻤُﻬْﻨَﻋ ﺎَﻤُﻬَﺳﺎَﺒِﻟ ﺎَﻤُﻬَﻳِﺮُﻴِﻟ ﺎَﻤِﻬِﺗﺁْﻮَﺳ
ُﻪَّﻧِﺇ ْﻢُﻛﺍَﺮَﻳ َﻮُﻫ ُﻪُﻠْﻴِﺒَﻗَﻭ ْﻦِﻣ ُﺚْﻴَﺣ َﻻ
ْﻢُﻬَﻧْﻭَﺮَﺗ ﺎَّﻧِﺇ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ َﻦْﻴِﻃﺎَﻴَّﺸﻟﺍ
َﺀﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ َﻦْﻳِﺬَّﻠِﻟ َﻻ َﻥْﻮُﻨِﻣْﺆُﻳ
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari
surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan
kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-
pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa
melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-
setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak
beriman.” (Al-A’raf: 27)
Karena setan sebagai musuh kita, maka kita diperintahkan untuk
menjadi musuh setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
َّﻥِﺇ َﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ْﻢُﻜَﻟ ٌّﻭُﺪَﻋ ُﻩْﻭُﺬِﺨَّﺗﺎَﻓ
ﺍًّﻭُﺪَﻋ ﺎَﻤَّﻧِﺇ ﻮُﻋْﺪَﻳ ُﻪَﺑْﺰِﺣ ﺍﻮُﻧْﻮُﻜَﻴِﻟ ْﻦِﻣ
ِﺏﺎَﺤْﺻَﺃ ِﺮْﻴِﻌَّﺴﻟﺍ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah
ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya
mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka
yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ُﻪَﻧْﻭُﺬِﺨَّﺘَﺘَﻓَﺃ ُﻪَﺘَّﻳِّﺭُﺫَﻭ َﺀﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ ْﻦِﻣ
ﻲِﻧْﻭُﺩ ْﻢُﻫَﻭ ْﻢُﻜَﻟ ٌّﻭُﺪَﻋ َﺲْﺌِﺑ َﻦْﻴِﻤِﻟﺎَّﻈﻠِﻟ
ًﻻَﺪَﺑ
“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai
pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat
buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang
dzalim.” (Al-Kahfi: 50) Semoga kita semua terlindung dari godaan-
godaannya. Wal ’ilmu ’indallah.
Sumber : agorsiloku.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s