>Meruntuhkan Nafsu Diri Sendiri Dengan ASLIM (ISLAM) (tafsir QS 109-114) –Sebuah posting Dari Blog Atmonadi

>Meruntuhkan Nafsu Diri Sendiri Dengan ASLIM (ISLAM) (tafsir QS 109-114) –Sebuah posting Dari Blog Atmonadi

>Tulisan ini sebenarnya bukan tulisan baru. Sekitar akhir tahun
2006, saya telah mempublikasikannya di blog pertama saya di
Multiply. Tulisan revisi minor ini saya publikasikan di
blog@tmonadi sekedar untuk mengingatkan saya sendiri yang
erat kaitannya dengan tragedi demi tragedi yang seolah berulang
yaitu pengeboman yang meminta korban nyawa manusia.
Tanggal 17 Juli 2009 yang baru lewat, tragedi itu kembali berulang.
Anehnya, setelah sedikit melakukan manuver logika maka 17 kali 7
adalah 119. 119 angka yang sangat berarti bagi manusia di Bumi
karena berhubungan dengan suatu kodefikasi internasional yang
berhubungan dengan keselamatan manusia. Bilangan 119
mengingatkan saya pada tragedi di tahun 2001 yang dikenal
sebagai tragedi 911 di Amerika Serikat ketika dua gedung kembar
WTC diluluhlantakkan dengan serangan tak terduga.
Kali ini, peristiwa reflektif 119 terjadi di negeri sendiri. Dan ini bukan
yang pertama kali. Namun, modus operasi maupun sasarannya
yaitu dua gedung hotel yang sering kali jadi incaran kemarahan tak
berujung pangkal nampak sama. Bahkan setelah di otak atik
angkanya pun saling bercermin. Kejadian tanggal 17 Juli 2009 itu
memaksa saya kembali mencari tulisan saya yang berhubungan
dengan suatu tafsiran Lima Surat Terakhir Al Qur’an yang
berjumlah 114 surat. Tafsiran saya itu menyiratkan suatu isyarat
khususnya bagi Umat Islam untuk berhat-hati dalam mengambil
sikap yang berhubungan dengan keyakinannya sendiri , yang
sejatinya adalah keyakinan tertinggi.
Saya merasa perlu kembali me re-new tulisan tersebut dalam
konteks kejadian yang baru berselang beberapa hari itu. Walaupun
para pelakunya belum membawa-bawa nama Islam, karena
pelakunya tak sempat meninggalkan pesan apa-apa, namun publik
dan masyarakat Indonesia secara umum memorinya seolah
dibangkitkan kembali secara otomatis dengans uatu pra-asumsi
bahwa teroris itu pastilah membawa-bawa nama Agama Islam
sebagai agama mayoritas penduduk NKRI. Jadi, dengan tulisan
lama ini saya ingin kembali merenungkan kembali tentang makna
Islam itu sendiri dalam kontek lima surat terakhir yang
mengisyaratkan suatu pilihan antara baik dan buruk bagi Umat
Islam, bahkan bagi Umat manusia umumnya. Posisi lima ayat
terakhir itu menunjukkan satu arti tersendiri karena menyatakan
bahwa meskipun sesorang mungkin hapal Al Qur ’an belum tentu
ia akan selamat di dunia dan akhirat karena ada satu penyakit
inheren dalam diri manusia, bahkan semua jenis manusia, baik dia
mengaku suci atau pun tidak. Penyakit itu disebut was-was
silkhonas.
Hari ini adalah tanggal 27 Rajab, waktu Isra Mi’raj Nabi
Muhammadf SAW. Jadi, dengan mere-new tulisan ini saya mau
melakukan Isra Miraj dengan cara saya sendirii yaitu
mempublikasikan kembali tulisan lama tersebut dengan konteks
kekinian.
–***–
Terpaku di surat ke 109, saya termenung membaca penamaan
ayat tersebut yaitu Al-Kafiruun (Orang-orang kafir). Surat yang
seringkali dijadikan sebagai argumentasi kebebasan beragama
tersebut nampaknya bukan sekedar ungkapan yang membedakan
antara satu manusia dengan manusia lainnya dalam memilih
suatu keyakinan antara satu agama (Islam) dengan agama lainnya.
Namun tersirat ungkapan yang lebih personal atas capaian ruhani
seseorang di puncak pengetahuannya yang tidak lain adalah
Pengetahuan Tentang Pencipta itu sendiri sebagai entitas yang kita
sebutkan sebagai Allah, atau sebutan lainnya yang setara
pemaknaanNya, dan kita sebagai Bani Adam yang layak disebut
manusia sebagai Insaana Fii Ahsaani Taqwiim bukan Asfalaa
Safiilin, bukan kaum Abu Lahab dan Abu Jahal, juga bukan kaum
Ablasa.
Sekilas, dalam tulisan tentang “Mr. X diantara Adam, Azazil, dan
Hawa” (dapat dicari di Multioply) saya menyinggung tentang surat
al-Kafiruun ini.
Dari kaum Ablasa ini lahir kaum al-Kafiruun yang
diungkapkan di QS 109. Surat al-Kafiruun sebenarnya secara
simbolik mengungkapkan bagaimana Mr. X mempunyai
pilihan bebas yang bertanggung jawab yaitu menjadi Adam
sebagai Awlia Allah atau Adam Awlia atau mau menjadi
Kaum Ablasa yang memutuskan diri dari rahmat
Penciptanya dengan berbagai tipu muslihatnya untuk
menjerumuskan manusia sebagai Bani Adam kedalam
kegelapan Ablasa dimana penjara tergelapnya disebut
sebagai Penjara Ghairullah (selain Allah atau syirik). Karena
asal usul niat dan hasratnya sama, yaitu Mr. X yang mencari
PenciptaNya dan dekat padaNya, kaum Ablasa pun akhirnya
bisa menyusup dalam berbagai jubah Bani Adam baik
dengan menggunakan Perahu Agama, Sains, Kemanusiaan,
Ham, Feminisme dan lain-lainnya.
Tulisan yang sekilas saya kaitkan antara Adam dan Azazil di posisi
tertinggi sampai munculnya metamorfosis Azazil sebagai Hawa
dari sulbi Adam sebenarnya merupakan suatu kesimpulan setelah
merenungkan surat ke-109 sampai QS 114 sebagai suatu kesatuan.
Dari penempatan QS 109, saya baru ngeh (setidaknya dari
penelahaan saya) bahwa puncak surat AQ sebenarnya QS 108
sebagai suatu al-Kautsar (Nikmat Yang Banyak). Namun kemudian
diteruskan dengan QS 109 sebagai al-Kafiruun sebagai suatu
peringatan yang bisa menimpa suatu kaum atau perorangan yang
merasa diri diberi nikmat yang banyak namun akhirnya lalai atau
kurang waspada dengan tipu daya hawa nafsunya sendiri. Jadi,
meskipun Nikmat Yang Banyak dianugerahkan oleh Allah, namun
jika nikmat tersebut tidak disyukuri dan dimaknai dengan sadar
dan waspada seseorang atau suatu kaum bisa terjerumus kepada
kekafiran karena ada nafsu tersisa yang dibiarkannya yang justru
menumpuk menjadi kesombongan yang menabiri.
Kisah-kisah umat terdahulu yang dihancurkan oleh Kekuasaan
Allah seperti Bani Tsamud, ‘Ad, Fir’aun, maupun yang lainnya
yang diungkapkan dalam beberapa surat AQ nampaknya
berhubungan dengan hal ini. Setitik kesombongan yang kemudian
dibiarkan menjadi Gunung Kesombongan Jiwa atau sebuah
Gunung al-Hijr (perhatikan bagaimana nama gunung yaitu al-Hijr
sebagai suatu gunung batu artinya bisa juga al- ‘Aql) sehingga
akhirnya menggelincirkan umat manusia ke dalam kekafiran yang
muncul dari nikmat yang banyak.
Kedua surat ini (QS 108-109) menjelaskan dua keadaan yang saling
memunggungi seperti sisi dua mata uang bahwa dari kenikmatan
yang diperoleh manusia, bisa juga muncul kekafiran, dan
demikian juga sebaliknya dari kekafiran bisa juga muncul nikmat
yang banyak.
Lantas, bagaimana caranya dan apa dasar yang kokoh supaya
benar-benar selamat dunia dan akhirta, bukan sekedar selamat
dalam pengertian egosentrisme karena merasa benar sendiri?
“Laa ilahaa Illaa Allah” atau “In GOD We Trust”
Lagi-lagi saya teringat di salah satu pesan yang saya sampaikan di
salah satu Blog tentang Uang dan Nabi serta tulisan di uang dollar
Amerika “In God We Trust” yang menurut saya bersifat dualitas.
Tulisan di mata uang dollar AS itu memang bersifat ambigu
karena manusia diingatkan bahwa kalau manusia lupa diri maka
“ God” baginya adalah “Money” yang secara tersirat (entah sengaja
atau tidak nampaknya yang pertama kali menyebutkan dalam
bahasa Inggris uang sebagai “money” memahami hal ini M-ONE-
Y, pindahkan huruf ke-5 ke posisi 2 didapat MY-ONE, saya adalah
Yang Satu atau Saya adalah Tuhan yang satu, selebihnya silahkan
tafsirkan sendiri apa maksud pembuat uang ini siapakah dia? Iblis
yang bermetamorfosis atau Tuhan Yang Satu), dan tanpa sadar
kitapun percaya juga “Waktu adalah Uang” padahal didalam al-
Qur’an juga disebutkan mengenai rahasia Sang Waktu dengan
Kesadaran Manusia (simak QS 103) sebagai suatu ketetapan untuk
menjalani kehidupan yang harus diistiqomahi dengan kesabaran
dan berbuat kebaikan.
Dari kedua keadaan yang bertolak belakang ini sebenarnya
terdapat kunci dimana satu sama lain akan menyebabkan kedua
hal tersebut terjadi sebagai suatu perubahan takdir, atau nasib.
Namun kunci itu tergantung pada pengertian kita tentang nikmat
yang kita peroleh berupa pemahaman dengan Pengetahuan
Tauhid (Laa illaaha illaa Allaah) dan bagaimana kita
menggunakannya. Apakah dengan kesadaran kudus sebagai
hamba atau dengan kesombongan diri sebagai manusia
berkarakte Fir ’aun. Karena itu di puncak tertinggi Pengetahuan
Tauhid, kita malah boleh jadi tersesat dan terjebak dalam tipu daya
halus yang muncul dari Nafsu Terakhir yang lalai kita kendalikan
terlebih dahulu yaitu “keakuan” atau egosentrisme kemakhlukan
kita yang dikira kecil justru menjadi besar sehingga tumbuh
menjadi Gunung Batu al-Hijr. Gunung batu itu pun akhirnya
menjadi tabir yang tak bisa ditembus untuk melihat Realitas
Tentang al-Haqq dan realitas tentang diri kita yang cuma sekedar
makhluk dengan batasan paling banter umurnya rata-rata 60
sampai 66 tahunan yang rasanya kita cerap sebagai “O-SIN
(Original Sin)” atau “Allah”.
Wa Nafsi
Nafsu diri yang dilalaikan pengendaliannya secara konsisten bisa
membesar kapan saja, baik di posisi rendah, menengah maupun
tinggi. Namun umumnya muncul justru pada posisi tertinggi
manusia ketika manusia merasa bisa mengatasi hawa nafsunya,
yaitu ketika manusia berhadapan langsung dengan Realitas Tuhan
Yang Maha Ghaib namun Ghaibin (QS 7:7). Karena itu al-Kafirrun
juga menyiratkan rahasia tentang Pengetahuan Tuhan Yang
Tertinggi yang akhirnya dijungkirbalikkan menjadi Kegelapan
Manusia sebagai makhluk yang sesungguhnya sudah dianugerahi
akal pikiran dan mampu memaknai dengan hati namun malah jadi
gosong dan hangus menjadi arang bara jahanam karena debu
yang menyelip di hatinya yang seolah bersih telah menjadi
sumbat yang mematikan matahatinya.
Sejarah Islam sendiri nampaknya menyiratkan banyak gambaran
bagaimana yang gelap jadi terang dan terang jadi gelap. Umar bin
Khatab yang rasional semula kafir serta teman Abu Jahal serta Abu
Lahab. Namun karena Allah melalui doa Rasulullah menetapkan
untuk menghancurkan Gunung batu al-Hijr kesombongannya ia
menjadi Mukmin. tetapi temannya Abu Jahal maupun Abu Lahab
tidak mendapat syafaat dario doa Nabi meskipun masih termasuk
saudara. Dan mereka pun menjadi typical khas dari karakter al-
Kafiruun yaitu Bapak Kebodohan dan Bapak Kemarahan yang
muncul dari kalangan internal.
Ketika Nabi mengisahkan Isra Miraj, banyak yang semula
mengikuti dia mendadak mundur karena kemustahilan kisahnya
yang melintasi Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa lantas
kemudian naik ke langit (Miraj). Dari peristiwa ganjil itu, hanya
yang dapat dipercaya yang akan mengakui kebenaran tersebut
tanpa perlu bukti. Dan itu dilakukan oleh Abu Bakar hingga beliau
digelari Ash-Shidiq. Gelar yang hanya mungkin karena telah
runtuhnya tembok kesombongan jiwa. Dalam kisah Isra Mi ’raj,
Abu Bakar sebenanya mempunyai posisi di mata masyarakatnya
lebih ditinggikan karena kekayaannya ketimbang Nabi Muhammad
SAW. Namun, karena ia telah lama mengenal karakter
Muhammad, maka baginya tidaklah menjadi penting apakah apa
yang dialami Nabi Muhammad SAW itu suatu kebenaran nyata
ataukah suatu perjalanan yang sifatnya metafisik. Abu Bakar dalam
hal ini menetapkan keyakinannya tanpa embel-embel apapun
karena memang sejatinya rasio maupun perasaannya mendekati
Muhammad SAW dan paham benar apa yang diungkapkan Nabi.
Tapi yang lainnya, karena mungkin hanya ikut-ikutan atau sekedar
oportunis setengah matang akan mundur dan bahkan
mencelanya sebagai suatu kegilaan yang nyata. Bahkan, meskipun
bukti dan saksi kemudian muncul yaitu rombongan khafilah yang
melintasi padang pasir dimalam Isra Mi ’raj terjadi membenarkan
apa yang telah dialaminya, namun kesombongan telah menjadi
gunung kegelapan jiwa dan merekapun akhirnya melepaskan diri
dari rahmat Ilahi yang tampil dalam diri Muhammad sebagai
Rahmaatan Lil Aalamin.
Arti Al-Kafiruun
Ketika makhluk menjadi arang bara jahanam, sebutannya
kemudian disebut al-Kafiruun , AL-KF-RWN kebalikan dari NWR-
(Nur) dengan sebutan Kaf sebagai huruf Penyingkap yaitu Manusia
sebagai Bayangan Tuhan dengan PengetahuanNya yang telah
membalikkan dirinya dari kehambaan menjadi merasa menjadi
Tuhan dan bersembunyi dalam berbagai jubah penampilan, baik
yang terang terangan menjadi kafir maupun tertipu daya dengan
jubah kesucian maupun keagamaan (jadi dalam posisi tipu daya
seperti ini kita akan melihat orang mengaku beragama tetapi tidak
ber-Tuhan, dan demikian juga sebaliknya). Jadi, al-Kafiruun bukan
secara harfiah berarti orang yang “bodoh” dan “pemarah” dari sisi
lahiriah semata namun juga dari sisi yang lebih menunjukkan
bagaimana akal pikirannya yang sebenarnya secara lahiriah
mungkin cerdas atau kaya lahir namun lalai mengelola sisi
batiniahnya atau esoterisnya. Mereka pun bisa saja datang dari
kelompok yang berjubah keagamaan, kesucian, keilmuan,
kekayaan, dan kelompok yang memang secara lahiriah
mempunyai ilmu pengetahuan tetapi ilmunya tidak bisa
meyakinkan hatinya untuk tertunduk di hadapan Kekuasaan
Tuhan.
Dalam bentuk kemanusiaan, ketika kita mencari Tuhan,
sesungguhnya kita bagaikan anjing atau Dog-ie yang mencari
tuannya dengan mengendus-endus baunya. Gambaran demikian
dalam bahasa modern disebut Reduction Ad Absurdum atau
dalam gambaran agama Timur kepala ular yang menggigit
ekornya, dalam arti sesungguhnya sebuah lingkaran maujud dari
titik menjadi bentuk citra sempurna 360 derajat yang menjelaskan
tentang arti Waktu sebagai manifestasi Ketuhanan sesungguhnya
yang disebutkan sebagai :
Allahu, Laa ilaaha illa Huwal Hayyul Qoyyum.
Dengan instrumentasi lahir dan batin yang ada pada manusia,
pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia hanya
dimungkinkan bergerak bebas sebatas untuk mengenal dan
sampai kepadaNya dengan Berserah Diri saja atau ASLIM alias
ISLAM karena rujukan manusia untuk memahami pesan-pesan
Tuhan sesungguhnya “bentuk” lahir dan batin kemanusiaannya
sebagai Bani Adam yang Berpengetahuan Tuhan dengan benar
sebagai ‘Abdi sekaligusnya KhalifahNya untuk mengelola sistem
kehidupannya.
Akal pikiran dan hati kita, adalah instrumen bagi kita yang secara
nyata hanya dapat digunakan untuk mengenal-Nya dengan
mencium Asma, Sifat dan Perbuatan-Nya saja sebagai makhluk
ciptaan-Nya yang DIANUGERAHI amanat untuk menyingkapkan
SIAPA DIA. Dari amanat tersebut Allah berkenan memberi modal
menyaksikan Ke-Esa-an MutlakNya di alam alastu yang akhirnya
muncul menjadi kemampuan berpikir dan memaknai dengan
pendekatan 10 yang memunculkan Pertolongan Allah menjadi
kemampuan berorde 1000 alias 3 dijit saja yang aktual menjadi
10X10=100.
Hasil yang aktual dari penyaksian itu adalah QS 2:255 al-Kursy
yang tak lain adalah tangan dan kaki kita sebagai ciri-ciri Mr. X
kecuali dengan sebutan Insaana Fii Ahsani Taqwiim atau bisa
menjadi Asfalaa Safiilin yang belum diberi identitas khas sampai
Adam Awlia menyatakan kita sebagai Bani Adam. Upaya kita
mengenal Tuhan dengan mencium WewangianNya dan
mempunyai akurasi SIXSIGMA alias 66 (Allah) alias 341 per
semilyar proses alias 10 pangkas 9 alias QS 109. Melampaui 10
pangkat 9 yang muncul khayal dan angan-angan menjadi al-
Kafiruun (QS 109), karena itu yang diperlukan adalah
mengartikulasikan potensi penyaksian ke-Esa-an menajdi
Pertolongan Allah semata (QS 110) dengan menyatakan
maghfirahNya yaitu Taubatan Nasuha (QS 9, at-Taubah).
Metafor Siti Jenar dan Anjing
Dalam kasanah tradisi kewalian Jawa, ungkapan anjing yang
mencari tuannya tidak lain adalah Kisah Siti Jenar yang berubah
menjadi anjing sebagai simbolisme dan gambaran yang
sebenarnya menohok langsung 9 wali lainnya yang bersandar
pada pengertian lahiriah untuk mencari Tuhan, namun dengan
pegangan formalitas Taubatan Nasuha.
Jadi, anjing yang mati sebenarnya gambaran tentang hawa nafsu
terakhir manusia dengan simbolisme Siti Jenar yang dibunuh 9
wali yang justru menyempurnakan Siti Jenar kedalam wilayah
kehambaanNya yang hakiki menjadi makhluk yang digelari
Nurzathi. Meskipun 9 wali bisa membunuh Siti Jenar, tapi juga
sekaligus mereka tertipu oleh hasratnya sendiri sebagai nafsu
terakhirnya yang masih dibelai-belainya, sehingga kewaliannya
justru akan menjadi hijabnya sendiri. Dengan dibunuhnya Siti
Jenar, Siti Jenar justru bermetamorfosis menjadi makhluk baru
yang berada di wilayah diluar ilmu pengetahuan kita saat ini.
Kisah 9 wali songo nampaknya mempunyai keselarasan dengan
kisah 9 Kesatria Templar di Wilayah Eropa yang menurut tafsiran
historis, yang belakangan ini banyak dibincangkan setelah
keluarnya novel Da Vinci Code, menjadi kelompok pengatur yang
mempengaruhi revolusi sosial politik di Eropa Barat. Entah kenapa
dan sejak kapan kisah ini masuk ke Indonesia nampaknya erat
kaitannya dengan pergulatan politik kekuasaan yang telah
menggunakan jubah keagamaaan untuk meraih kekuasaan dan
dominasi politik yang berkembang di wilayah Mediterania maupun
di bagian dunia lainnya, dan akhirya setelah Perang Salib masuk ke
Indonesia yang waktu itu berada di bawah ancaman kekuasaan
Belanda. Semua itu nampaknya berkaitan erat dengan munculnya
gerakan Agama Masehi dengan fokus utama di Aleksandria tempat
dimana terdapat sumber ilmu pengetahuan saat itu dan pusat
pergolakan intelektual dan reformasi keagamaan di akhir abad
Sebelum Masehi sampai tahun 535 Masehi yaitu tahun dimana
Gunung Rakata meletus yang menurut penulis Buku Krakatau
mengubah konstalasi kekuasaan di berbagai dunia termasuk
lahirnya Nabi Muhammad SAW 36 tahun setelah meletusnya
Gunung Rakata di Selat Sunda.
Akan tetapi, Wali Songo yang dikenal di Indonesia nampaknya
bukan sekedar kisah fiktif, kisah tersebut adalah gambaran tentang
maqomat ruhani dan hal dari perjalanan ruhani seseorang ketika
melalui fase demi fase menyingkap tabir kemakhlukan dirinya.
Sembilan Wali adalah gambaran tentang Adam (45) yang muncul
ke permukaan sebagai suatu tatanan pengetahuan Tuhan yang
artikulasinya diwakili oleh huruf Kaf dan Fa dalam nama Al-Kafirun,
sebagai penyingkap rahasia manusia yang dengan
PengetahuanNya atau Alif-Laam, yang akan mengungkapkan
suatu kondisi dilematis yang akan ditemuinya di posisi tinggi
Menjadi Bani Adam yang Aslim di hadapan kelemahan dirinya
dengan segala pengetahuan lahir dan batinnya atau menjadi
maujud Nafsu Terakhir yang dilalaikannya yaitu egosentrisnya dan
lahir menjadi Fir ’aun atau Dajjal atau Azazil Sang Iblis.
Dari kearifan yang dijelajahinya dengan pengetahuan Adam,
manusia seolah dililit Sang Ular yang tiba-tiba muncul menggigit
ekornya sendiri atau asal usul dirinya, ekornya pun digigitnya.
Namun dengan ketundukkan di hadapan Tuhan kekafiran yang
kelak akan melahirkan Ablasa bisa berubah menjadi kehambaan
yang melahirkan manusia sebagai Bani Adam dan Siti Hawa yang
merupakan metamorfosis keakuan untuk meneruskan kontinuitas
Jamal dan Jalal Allah dengan cara berkembang biak meneruskan
generasi manusia yang berilmu pengetahuan dengan benar, dan
mempunyai pedoman yang benar yaitu Al Qur ’an sebagai Dzikrul
Lil Mukminun dan Dzikrul Lil ‘Aalamin.
Jangan heran kalau dalam sejarah kita terdapat paradok-paradok,
baik fiksi maupun fakta sejarah : ada kisah Maling Budiman, Jaka
Sembung (L) dan Bajing Ireng (P) sebagai pasangan yang
melawan Belanda yang dikisahkan Djair Warniponakanda menjadi
komik apik Indonesia, Si Pitung dari Batavia, Robin Hood di
Inggris, Simon Templar, Willem Tell, Che Guavara, Aji Saka yang
kulit putih alias orang Rumawi atau salah seorang Yahudi yang
lolos dari pembantaian 41 kaum Yahudi di Ain Jedi tahun 77 M
yang lari ke Timur yang menetapkan tahun Saka diJawa pada
tahun 78 M, Adi Mulya (Adam Awlia) raja pertama
Tarumanegara, Gajah Mada (atau Gajah Adam alias Adam dengan
pengetahuan Dewa Ganesha), Sunan Kalijaga alias |X| Jaga si
penjaga sungai pengetahuan sebagai SOGO (renungkan saja
kenapa logo SOGO itu bentuknya lingkaran dengan simbol X),
Soekarno, Soedirman, Soeharto, atau di masa Rasulullah ada
Umar Bin Khatab yang awalnya kafir tapi bisa berubah menjadi
Mukmin sejati, atau Pemberontak yang melawan semua tatanan
agama dan pengetahuan pun menjadi Nabi dan Rasul Kekasih
Allah yaitu Ahmad Muhammad Adi Budha (Adi Budha – Budha
Yatim Piatu, ditakuti oleh pengikut agama Budha formalis di
wilayah Timur seperti India dan Cina) Sang Reformis semua ajaran
agama baik dari timur (Hindu, Budha, Siwa, Tao, Zen dll) dan barat
(Yahudi dan Kristen), reformis agama mesir kuno dan paganisme
(Hermetisme, Enoch, Nabi Idris) maupun reformis rasionalitas
ilmu pengetahuan dari Yunani (Theosophia) dengan ungkapan
Buah Tiin dan Buah Zaitun yang masak di Mekkah (QS 95).
Ungkapan Buah Tiin dan Buah Zaitun sebenarnya ungkapan ruhani
bagi Nabi Muhammad SAW yang secara alamiah berada dalam
posisi yang siap lahir dan batin untuk menerima anugerah
Pengetahuan Tauhid tertinggi dan mengoreksi semua bentuk
pengetahuan maupun keyakinan agama yang telah dikenal
maupun kelak akan dikenal dengan cara yang berbeda, lebih
terperinci, maupun lebih metaforis dengan label ilmiah misalnya:
1. Shirathaal Mustaqiim adalah Medan Gravitasi (9,81),
2. al-Falaq adalah pengetahuan tentang pembelahan inti sel dan
teknik nuklir,
3. penyucian jiwa adalah gastrulasi yang meruntuhkan legenda
Aristotelian “mana duluan telur sama ayam? “
4. 40 haripuasa Nabi adalah 40 MegaHerzt gelombang otak yang
bisa mencerdaskan manusia,
5. Nun (50) adalah jumlah kapasitas neuron di kulit otak kepala
manusia yang bisa aktif secara bersamaan kalau manusia
biasa sholat tahajud yang mampu menyimpan 10 pangkat 5
fonem bahasa dengan sebutan klasik QS 105 al —Fiil,
6. taksiran usia alam semesta adalah 365x1000x40.000=14,6
milyar tahun (sehari=1000 tahun, satu tahun 365 hari) sebagai
taksiran minimal dengan taksiran maksimal 25,5 milyar tahun
(sehari sama dengan 70.000 tahun),
7. usia planet bumi identik dengan 2×23=46 sebagai jumlah
pasangan kromosom dengan kemungkinan menjadi al-
Kafiruun kita yaitu adalah 4,6 milyar tahun,
8. akurasi optimum perbuatan kita adalah akurasi SixSigma,
9. Tahu nggak sech kalau kita saat ini berada di siklus ke-13 , siklu
terakhir dari siklus besar yang melahirkan kemanusiaan kita
dengan naungan 92 unsur kehidupan sejak meletusnya
Kaldera Danau Thoba (92) 74.000 tahun yang lalu?
10. Kehdupan kita sehari semalam dinaungi oleh 12+12=24 huruf
tauhid
11. Sidik jari di Ibu jari dan telunjuk kita sesungguhnya adalah
bukti dari 6236 ayat al-Qur ’an
12. Kalau kamu acungkan telunjukmu ke atas dengan
menyebutkan “Allah Hu Akbar” maka dari telunjuk dan ibu
jarimu bisa memancar pengetahuan para nabi dan rasul.
13. Bla…bla..bla…dll…dll..dll….(yang lainnya cari sendiri di AQ)
Posisi Au Ah Gelap
Posisi dilematis dipuncak Pengetahuan Tauhid yang bisa dialami
oleh kaum arifin, gnostikus, sufi, pendeta atau siapapun yang mau
mengalaminya sebagai perjalanan ruhani, yang bisa disebut
sebagai “Posisi Au Ah Gelap”, secara jelas sebenarnya
diungkapkan dalam firman QS 109:1-5 yang menjelaskan suatu
dialog antara yang hak dan yang batil dengan suatu penentuan
bahwa kehendak bebas manusia mempunyai tanggung jawabnya
masing-masing sehingga setiap pelakunya dan tatacara
penyembahannya kepada Al-Haqq adalah pilihannya sendiri sesuai
dengan kadar Rasa Allah yang ada padanya.
QS 109 pun ditutup dengan ungkapan 14 huruf yang menyimpan
rahasia asal usul pengetahuan Tuhan sebagai bukti kalau
pengetahuan manusia sebatas huruf L saja (Know-L-edge,
mengenai kata Knowledge ini saya menterjemahkannya “tahu
nggak sih L itu pojokan dari awal dan akhir pengetahuanmu”,
mengenai L – nya itu apa silahkan renungkan sendiri)
“Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku
(Lakuum diinukum wa liya diin )”. (Qs 109:6).
Pilihan yang dinyatakan Nabi Muhammad SAW adalah pilihan
yang akhirnya diungkapkan dalam QS 9:128-129 sebagai posisi
kehambaan dengan kekhususan sebagai Kekasih Allah atau secara
umum akhirnya dinyatakan oleh beberapa pengikutnya sebagai al-
Insaan al-Kamil (Sahl al Tutsari, al-Hallaj, Ibnu Arabi, Abd Qadir al-
Jilani, dan kajian lainnya tentang tema ini misalnya oleh Nietsze dari
Jerman yang mencari makna “Man and Superman”) dengan
gambaran personifikasi diungkapkan sebagai QS 47 surat
Muhammad.
Dalam keterbatasannya manusia memang harus menentukan
sikap dengan kesadaran kudus yaitu ASLIM atau Berserah diri atau
menjadi ISLAM, atau dengan kegelapan jiwa dan raganya, dalam
kebutaan matahatinya menjadi Bani Ablasa, kaum Dajjal, bagian
dari sistem Dajjal, kaum Yakjuj dan Makjuj, serta kaum lainnya
yang esensialnya summum bukmum umyun, atau mirip kisah
Gajah dan orang buta yang mencoba menafsirkan Gajah sesuai
apa yang bisa dipegangnya.
Berserah diri dengan ketundukan di hadapan Tuhan adalah
Pertolongan Allah yang sesungguhnya. Karena itu, setelah surat
al-Kafiruun , ditempatkanNya surat ke-110 sebagai huruf Wawu
yang menyimpan rahasia batin dari Kemahabijaksanaan
Kekuasaan Tuhan berupa kehambaan makhluk dihadapanNya, dan
semua makhluk terikat didalam rahmatNya yang aktual dan
dirasakan sesuai dengan citra bentuk lahiriah yang ditetapkan ada
pada manusia sebagai Mister X , yang dihidupkan mengikuti arus
Sang Waktu, yang dinyatakan dari keadaan berpasangan sebagai
pasangan suami dan isteri dengan naungan Cinta Illahi (al-
Mahabbah), yang mempunyai 2 tangan dan 2 kaki masing
berjumlah sepuluh jari yang menjadi penyingkap dari
PenciptaNya. Huruf X selain bernilai 10 juga bernilai 20 dan secara
simbolik adalah simbol manusia dengan 2 tangan yang membuka
keatas dan 2 kaki yang terpentang menginjak Bumi, dan Laam
dengan nilai 30 sebagai batasan Pengetahuan Tuhan adalah
pengetahuan manusia tentang dirinya dan PenciptaNya dengan
simbologi terselubung sebagai Alif-Laam (31) atau AL yang
dibunyikan menjadi bunyi nada dasar yang muncul di alam yang
tergantung bioritmik dan logaritmis denyut kehidupan dari
kerahasiaan saling berpasangan sebagai Kekasih dan Yang Dikasihi
yaitu Cinta Adam dan Hawa sebagai simbologi Cinta Ilahi kepada
semua makhluk : huruf Laam-Alif.
Pertolongan Allah dan Rahasia Jihad Rasulullah dan Ali Bin
Abu Thalib KWJ
Dengan pertolongan Allah, manusia dilahirkan kembali setelah
prosesi penyucian jiwanya dengan menelusuri ayat-ayat al-Qur’an
dari QS 1 sampai QS 108 sebagai pedoman hidup dan pedoman
pengungkapan tabir jiwanya. Namun, tantangan terbesar manusia
masih ada yang diungkapkan sebagai suatu peringatan bagi
manusia yang menjalani penyucian jiwanya dan membaca tanda-
tandaNya yaitu surat al-Kafiruun. Tetapi, di posisi kritikal itu
Pertolongan Allah juga masih tetap menyertainya yaitu surat QS
110 sebagai an-Nashr .
Pertolongan Allah yang dinyatakan kemudian diuraikan dengan 69
huruf yang diakhirri dengan penjelasan bahwa Allah adalah
penerima taubat atau Allah yang telah menetapkan Maghfirah Bagi
Adam dan Hawa atau bagi manusia yang telah menjalani prosesi
penyucian jiwanya sehingga ia menemukan hijab terakhirnya
adalah pasangan hidupnya sebagai manifestasi Allah, Al-Rahmaan,
aL-Rahiim yang aktual untuk meneruskan misi Penciptaan yang
dinyatakan Tuhan sebagai awal mula manusia dihadirkan dengan
Nur Pengetahuan Tuhan yang kelak dari Nur Pengetahuan itu
menjadi ilmu pengetahuan simbolik sebagai asma-asma
elementerNya : dari 1 sampai 10, alif sampai ya, a sampai z.
Nur Pengetahuan Tuhan sendiri adalah Pertolongan Allah yang
aktual, meskipun Nur tersebut dibelit oleh Ular Hawa Nafsu
manusia sebagai maujudnya janji Pencipta bagi sang Azazil yang
menjadi iblis dan bisa menyesatkan manusia. Karena itu Nur
Pengetahuan Tuhan memerlukan pemandu atau penabir supaya
manusia tidak terbakar dalam kekafiran yang dinyatakannya dari
debu kesombongan yang masih melekat di hatinya.
Penabir dan pemandu itu adalah Nur Muhammad karena dari Nur
Muhammad makna tentang Allah sebagai Pencipta dituntaskan
dengan pedoman dan syariat yang berkaitan langsung dengan
kondisi psikologis manusia atau akhlak manusia dengan segala
perbuatannya di dunia. Dalam wujud lahirnya ia muncul sebagai
Ahmad Muhammad dan menjadi Nabi yang terakhir karena
dengan Risalah yang disampaikannya (AQ) ia menjelaskan
manusia dalam proporsi ideal yang sesungguhnya dalam
hubungannya dengan dirinya, kaumnya, alam lingkungannya dan
Tuhannya yang dingkapkan sebagai kalimat penciptaan makhluk :
Bismillahir al-Rahmaan al-Rahiim, Kun Fa Yakuun.
Dan selama manusia tak mampu menaklukkan keiblisan
dirinya, ego terbesarnya sebagai jihad yang pertama kali
harus dilakukan, maka peperangan dirinya dengan
kebatilan lahiriah yang merupakan jihad kecilnya tak akan
bisa menang. Bagaimana mungkin seorang raja bisa
mempertahankan dirinya kalau didalam lingkaran dalamnya ada
penghianat (hawa nafsunya yang liar)? Inilah rahasia hadis nabi
yang diungkapkannya setelah Perang Badar, bahwa Perang Badar
sebagai jihad kecil sesungguhnya tak akan pernah bisa menjadi
kemenangan hakiki (dan kenyataannya, setelah Perang Badar,
dalam Perang Uhud Umat Islam menderita kekalahan karena hawa
nafsunya menggodanya, mengabaikan perintah Nabi, dan
meninggalkan Bukit Uhud karena tergiur dengan rampasan perang
yang ditinggalkan musuh sebagai simbol tergiurnya umat Islam
dengan materialisme. Sentral pertahanan Umat Islam saat itu pun
lemah dan musuh pun akhirnya mampu menghancurkan
pertahanan itu. Ketahuilah, Bukit Uhud adalah Bukit Tauhid) selama
manusia masih ditaklukkan oleh hawa nafsunya. Tetapi inilah yang
telah diraih Ali bin Abu Thalib KWJ sehingga dalam peperangan
kecilnya (yaitu perang yang dijalaninya dari mulai melindungi Nabi
sampai terbunuhnya beliau) ia tak tergoda untuk membunuh
musuhnya meskipun musuhnya justru menghinanya, memanas-
manasinya untuk membunuhnya ketika Pedang Tauhid-nya telah
bersiap untuk ditetakkan ke batang leher musuhnya. Namun,
karena Ali KWJ telah memenangkan jihad besar dengan
menaklukkan hawa nafsunya maka ia justru tidak menetakkan
pedangnya di leher musuhnya. Musuhnya pun akhirnya masuk
Islam karena kemahabesaran jiwa Ali bin AbuThalib KWJ yang
berperang Demi Allah dengan sebenarnya setelah ia mengalahkan
musuh besarnya yaitu Hawa Nafsunya sendiri. Jadi, bagaimana
kita seharusnya menegakkan Allahu Akbar, Laa ilaaha Illaa
Allah, Muhammadurrasululah itu sebenarnya cukup jelas
kalau saja kita mau menghaluskan jiwa kita ke wilayah
ruhani yang lebih halus yaitu dengan Iqra dan menyucikan
jiwa.
Jihad Kecil dan Ancaman Jebakan API ABU LAHAB
Jihad dan Pertolongan Allah yang dinyatakan setelah ancaman
kekafiran, berlanjut dengan penjelasan dari maujud kekafiran
karena Pertolongan Allah diabaikan, pengetahuan dilalaikan dan
hanya diambil unsur kesenangnnya semata untuk memuaskan api
nafsunya, yaitu api ammarah Abu Lahab yaitu QS 111. Ini adalah
surat yang sebenarnya menggambarkan kekalahan manusia
melawan jihad-jihad kecilnya karena tidak bisa menundukkan
musuh beratnya atau Jihad besarnya yaitu ego dirinya yang
menjadi musuh dalam selimutnya. Jadi, hatri-hatilah kalau engkau
berlindung dibalik kata Jihad karena dibalik kata tersebut engkau
akan terseret kedalam API Abu Lahab, api ammarah, bara api
neraka yang sesungguhnya dan jihadmu yang dikira kecil dan
mudah dikalahkan justru menjadi jihad terbesarmu karena
ternyata kamu tidak bisa menyingkirkan kerikil dengan kedua
tanganmu yang dilumuri api amarahmu, dan jihadmu yang dikira
kecil akan menjadi bara api yang menjerumuskan dirimu dalam
kekafiran, kebatilan, dan jebakan Sang Iblis lainnya. Manusia pun
diingatkan tentang Abu Lahab yang bersemayam dalam dirinya
dengan alejori yang disesuaikan dengan masa Nabi Muhammad
SAW ketika melawan musuh besarnya yang pamannya sendiri,
ABU LAHAB (NyalaApi), QS 111.
Keikhlasan Allah
Bagaimanakah supaya manusia yang diberi Pertolongan Allah
tidak terjebak dalam Api Abu Lahab? Surat ke-112 merupakan
Pertolongan Allah yang aktual setelah manusia yang berada dalam
posisi tertinggi dan lolos dari duri berbisa Egosentrisme yang
mengarahkannya kepada Kekafiran dan mencegahnya memasuki
Api Abu Lahab yang menjerumuskannya kedalam nestapa
berkepanjangan dalam rupa adzab kebodohan, kemarahan yang
dipelihara, dan bentuk lainnya yang muncul dari disia-siakannya
Pertolongan Allah yaitu disia-siakannya makna Islam, al-Qur ’an
maupun sunnatulrasul dari segi lahir maupun batinnya, atau disia-
siakannya rahasia Tauhid QS 57:3. Maka dari itu, keikhlasan yang
menyelamatkannya adalah keikhlasan yang sesuai dengan batasan
dirinya sebagai makhluk ciptaan yaitu Penauhidan dengan
Ahadiyyah dan Shamadityyah DzatNya yang berada dalam
lingkupan Rahmaniyaah dan RahimiyaahNya.
Dari penauhidan yang benar maka semua bentuk yang ada pada
diri kehambaan kita harus disadari sebagai potensi yang
ditakdirkan oleh Allah, dan tidak lebih dari itu. Makhluk adalah tetap
makhluk yang dilahirkan, merasakan kehidupan,
menauhidkanNya, patuh dengan syariat dan laranganNya dan
berada dalam koridor kehendak bebasnya yang sebatas abjad dan
bilangan. Tidak lebih dari itu. Dan siapapun yang menginginkan
selendang KesombonganNya akan berada dalam Genggaman
DiriNya yang Maha Menyesatkan dan Maha Menghinakan, dan Dia
adalah Esa, sebagai Realitas Absolut yang menopang seluruh
eksistensi kehidupan makhluk, tidak beranak pinak maupun
dikembangbiakkan dalam ungkapan-ungkapan kesyirikan, dan
karena itu semua KemahasucianNya akan bisa dirasakan oleh
manusia yang sadar akan dirinya yang lemah dan fakir bukan oleh
manusia yang mengenakan jubah KesombonganNya.
Keikhlasan Allah ditetapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai
HambaNya dengan Akhlak Muhammad. Karena itu susunan
jumlah huruf QS 112 yang terdiri atas komposisi 11,9, 12, dan 15
huruf dengan total 47 huruf adalah rahasia Akhlak Muhamad (QS
47) sebagai rahasia dirinya yang menjadi Kekasih Allah. Dalam
alejori masa kini, kode 47 pun diuraikan sebagai komposisi
Kromosom Ke-11 alias kromosom HUWA MUHAMMAD
(11+92=103) sebagai kromosom yang menjadi trigger kesadaran
manusia atas waktu (Qs 103) atau kehidupannya yang terbatas.
Komposisi optimum Kromosom ke-11 yang ada pada semua
manusia hanya diwariskan oleh kaum yang mengenakan
selendang kelembutan-Nya yang tidak lain adalah kaum Adam dan
Hawa. Manifestasinya di masa kenabian setelah Muhammad
adalah Fatimah Az Zahra dengan pasangannya Ali Bin Abu Thalib
KWJ. Maka menikahlah kalian atas dasar CINTA ILAHI
sebagai bagian dari rahasia Keikhlasan Allah yang
dititipkan kedalam rahim kaum wanita sebagai rahasia
Kromosom ke-11, kromosom Dia Muhammad sebagai
rahasia Kelembutan Allah yang dinyatakan juga untuk
Kaum Adam sehingga manusia sebagai Bani Adam adalah
manusia yang menjadi Adam dan Hawa sebagai pasangan
yang menjadi Wakil Tuhan sebenarnya (Khalifah) yang
meneruskan kontinuitas Jamal dan Jalal-Nya.
Al-Falaq
Dari keikhlasanNya Allah kemudian meneruskan Pedoman untuk
sampai kepadaNya dengan suatu peringatan yang terselubung
didalam waktu subuh sebagai al-Falaq, atau pecahnya cahaya
mentari yang akan menerangi bumi dan menghamparka
maghfirahNya sebagai kehidupan semua makhluk yang hidup
dalam celupan gravitasi Cinta Ilahi yang membangkitkan manusia
dari kematian sementaranya atau waktu tidurnya. Karena iu,
selama merasakan realitas kehidupan memohonlah perlindungan
dari semua godaan makhluk-Nya di siang hari, maupun di malam
hari, dan dari kejahatan para tukang tenung dan sihir yang
menyimpan kejahatan yang muncul dari kedengkian hati yang
dihembuskan dari nafsu manusia yang selama siang dan
malamnya selalu digoda oleh gambaran tentang keindahan wajah
dunia yang fana.
Al-Falaq yang sering disebutkan sebagai pelindung dari godaan
setan sesungguhnya pelindung dari godaan hawa nafsu yang
menghembus-hembuskan gelora syahwat dan angan-angan
manusia sehingga lupa diri dengan keadaannya sebagai makhluk
berakal yang dibelit ular berbisa yang bisa menyesatkannya yaitu
ego dirinya. Ego dirinya bukan sekedar muncul dari dirinya sendiri
namun juga muncul dari hembusan para penggoda dan
pendengki dari luar. Maka jagalah hatimu, dan pandangan
matamu dari keindahan yang menipu karena realitas dunia adalah
produk hawa nafsu kita sendiri baik yang terkendali maupun tidak
terkendalikan yang melahirkan Cinta, Amarah, Peperangan, Darah
dan Airmata yang melukis sejarah Umat Manusia di Planet Bumi
yang semata wayang ini.
Kehidupan Umat Manusia (An-Naas)
Setelah al-Falaq yang mencuatkan realitas kehidupan sebagai
gambaran dibawah naungan mentari yang mencitrakan negeri
Indra Maya (Realitas The Matrix, 6236 ayat AQ), maka
kemanusiaan kita muncul dalam berbagai bentuk yang kita
rasakan, baik sebagai diri kita, anak, suami, istri, harta benda,
saudara maupun gmabaran dunia manusia yang telah nyata
sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan, menjalin
rahmat Tuhan menjadi Rahmaatan Lil ‘Aalamin dalam washilah
kehidupan yang dinyatakan dari Cahaya Muhammad yang
menghidupkan 92 unsur utama di Planit Bumi sehingga Bumi
menjadi makhluk yang hidup dan layak untuk menjadi
penampilan Jamal dan Jalal Allah, sebagai bagian dari aktulitas
Kemahabesaran Pencipta, Allah Rabbul Aalamin.
Surat ke-114 adalah puncak evolusi kehidupan makhluk dengan
manusia sebagai variabel dominan didalamnya yang mewarisi
Pengetahuan Tauhid sebagai Kemahabijaksanaan Allah SWT
sehingga sesungguhnya semua kehidupan adalah dalam
Genggaman-Nya.
Kehidupan An-Naas adalah kumpulan realitas di dalam celupan
Pengetahuan Tauhid atau Shibghatallaahi sebagai ‘Aalamin yang
kenyataannya dirasakan melalui ilmu pengetahuan yang muncul
dari kemampuan Adam sebagai moyang manusia yang
menerima asmaa a kulaha lantas menyatakannya dengan prinsip-
prinsip dasar kehidupan di bawah naungan mentari menjadi
geometri, bilangan dan huruf, lengkap dengan efek sampingannya
yang bisa menyesatkan manusia karena menuruti was-was
dihatinya. Was-was merupakan maujud dari Wa Nafsi yang
diwarisi dari kondisi-kondisi primordialnya ketika berhadapan
langsung dengan Allah Pencipta-Nya dengan ketetapan yang telah
menjadi ketentuan asal yaitu Penyaksian akan ke-Esa-anNya,
“ Bukankah Aku Tuhanmu”? (QS 7:172).
Keselamatan manusia sebagai an-Nass bergantung kepada
kemampuannya untuk tunduk dengan hukum-hukum asal
tersebut yang aktual menjadi keseimbangan tanpa cacat sebagai
hukum asal realitas yang secara langsung mencitrakan Jamal dan
Jalal-Nya di alam materialistik yang dihidupkan di bawah naungan
mentari. Efek sampingan yang muncul adalah Wa Nafsi, yang bisa
menjadi taqwa dan bisa menjadi jahat, maka beruntunglah bagi
mereka yang menyucikan jiwanya karena dari jiwa yang disucikan
dan dimurnikan itu ia akan kembali menyaksikan ke-Esa-anNya
dan kehambaan dirinya.
Manusiapun kemudian dituntut untuk menyingkapkan hijab-hijab
dirinya sebagai makhluk sehingga jawaban tentang kehidupannya,
maknanya, rahasianya, dan misinya di dunia disadarinya dengan
tulus dan ikhlas sebagai bagian dari RahmatNya, bukan malah
memutuskan diri dari RahmatNya dan menjadi Kaum Ablasa.
Bagaimanakah engkau akan menjawabnya pertanyaanNya, ketika
Dia bertanya kepadamu bagaikan bayangan dirimu yang tampil
didalam cermin dan berkata kepadamu, “Bukankah Aku
Tuhanmu?”. Yang diperlukan untuk menjawab semua itu adalah
Aslim dengan Pedoman Dzikrul Lil ‘Aalamin yang menjelaskan
Pesan-pesanNya, yang menyembunyikan Surat CintaNya di dalam
114 surat, 6236 ayat yang menjelaskan kenapa telunjuk jarimu dan
jempolmu bentuknya seperti itu. Lebih dari itu, maka katakan saja :
Laa ilaaha illaa Huwa,
Laa ilahaa illaa Allah, Muhamamdurrasulullah,
Dan berserah dirilah dengan menjalankan perintah dan
larangan-Nya, shalatlah karena didalam shalat engkau
menutupi kebocoran jiwamu yang realitas relatifnya
muncul dari hitungan telunjuk dan ibu jarimu.
Shalatlah dengan daya upayaNya bukan daya upayamu,
karena hanya didalam shalat yang benar dengan niat yang
lurus maka
engkau akan melihatNya (ihsan).
Kalau engkau masih belum bisa melihatNya didalam
shalatmu,
maka luruskanlah niatmu
yang masih mengendong hajat dan hasrat keduniawianmu.
Didalam DiriNya yang ada adalah KesucianNya,
maka sucikanlah NamaNya Yang Maha Tinggi
dengan menyucikan dirimu sendiri,
dan menjadikan dirimu bagian dari
cahaya-cahaya Jamal dan Jalal-Nya.
Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis, seperti tabir atau
hijab),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia
kehendaki,
dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan
(metafor-metafor) bagi manusia, dan Allah Maha
Mengetahui Segala Sesuatu. (QS 24:35).
“Dan Dia menghitung segala sesuatunya satu demi satu
(QS 72:28).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s