Sosok pribadi yang mengabdi tanpa pamrih

Sosok pribadi yang mengabdi tanpa pamrih

image

image

Pada zaman sekarang, seberapa
banyak orang yang masih
mempunyai totalitas semangat
pengabdian pada masyarakat atau
lingkungan sekitarnya, tanpa
pamrih dan batas, bahkan rela
menyisihkan seluruh waktu,
pikiran, biaya bahkan hidupnya
demi orang lain? Mereka adalah
beberapa orang dengan komitmen
pengabdian yang mungkin sudah
langka saat ini .
1 . Bidan Ros rosita.
Yang pertama adalah bidan Ros
Rosita. Bidan asal Kabupaten Lebak ,
Banten ini, telah mengabdikan
hidupnya selama lebih dari 10
tahun, untuk melayani kesehatan
orang-orang suku Baduy . Bidan Ros,
panggilan akrab wanita ini , rela
melakukan perjalanan hingga 6 jam
dengan jalan kaki , demi
mengunjungi para pasiennya di
pedalaman hutan Kanekes ,
Leuwidamar, Lebak , Banten. Sejak
tahun 1997 , Bidan Ros memerlukan
waktu 2 tahun agar berbagai
metode dan peralatan medis
modernnya, seperti obat -obatan ,
jarum suntik , hingga konsep
imunisasi diterima oleh suku
Baduy, yang terkenal sangat anti
segala hal yang berbau modern .
Namun berkat ketekunan dan
semangat pengabdiannya , tradisi itu
mampu dipatahkannya dan dia
menjadi satu-satunya “ dukun
modern” yang diterima di kalangan
suku Baduy Dalam. Kini, bidan Ros
masih setia menjalani pelayananan
kesehatan dengan waktu praktik 24
jam non stop dan bayaran seadanya.
“Ya dulu dari awal sih , saya sudah
siap dengan rezeki saya dari
mereka, seperti untuk melahirkan
hanya sepuluh ribu rupiah .
Alhamdulillah sekarang sudah naik
sedikit menjadi dua puluh ribu
rupiah” tutur bidan Ros, yang masih
memiliki cita-cita mendirikan
rumah bersalin di kawasan Baduy ,
dengan mantap.
2. Bidan Siti Aminah
Selanjutnya adalah seorang bidan
juga, yang juga memiliki panggilan
hati untuk bisa melayani kesehatan
orang lain tanpa pamrih apapun.
Bidan Siti Aminah , mengaku sejak
kecil saat ikut pramuka, setiap
melihat orang -orang sekitarnya
menderita penyakit, berketetapan
untuk bisa mengobati mereka .
“ Aku waktu kecil ikut pramuka,
lihat orang-orang pada korengan,
kudisan, hidung meler , atau luka –
luka, selalu merasa trenyuh sendiri.
Ya udah , aku janji ke diriku sendiri,
nanti kalau sudah dewasa jadi orang
yang akan melayani dan mengobati
mereka, ndak dibayar juga ndak
apa-apa” ungkap Bidan asal
Mojokerto Jawa Timur ini. Janji itu
digenapi oleh Bidan Aminah ,
dengan mengambil jurusan
Kesehatan Masyarakat saat kuliah .
Setelah lulus , ikatan dinas ke
hampir seluruh penjuru Indonesia,
dilakukannya dengan sepenuh hati .
Melayani pasien di daerah-daerah
kawasan miskin dan terpencil , yang
kadang tak mampu membayar,
dijalaninya dengan tulus dan senang
hati.
“Waktu di daerah, pasien – pasienku
kan orang- orang kalangan bawah,
jadi ya bayarnya seadanya mereka.
Lagi musim durian atau rambutan ,
ya seluruh rumah pasti bakal penuh
dengan durian dan rambutan, atau
kalo lagi jalan di pasar, tas pasti
bakal penuh dengan sayuran, ikan
dan barang -barang jualan lainnya
dari mereka . Sampai adikku
bercanda, ya udah kalau lewat situ,
bawa tas yang buesar aja ” kekeh
Bidan Aminah mengenang masa
tugasnya di luar Pulau Jawa .
3. Bidan Aminah
Bidan Aminah memilih Cilincing ,
kecamatan kumuh di kawasan
Jakarta Utara dan kampung nelayan
di kawasan Bekasi , sebagai tempat
pengabdiannya. Berbagai tantangan
dan peristiwa yang berkaitan
dengan keterbatasan ekonomi
pasiennya dan minimnya pelayanan
kesehatan dari pemerintah
setempat, juga terjadi di sini.
Misal pemeriksaan kesehatan dan
pengobatan tanpa bayaran , hingga
mengeluarkan biaya dari kantong
pribadi demi membayar obat-
obatan pasiennya . Bahkan , bidan
Aminah rela mengubah mobil
pribadinya sebagai mobil ambulans ,
dan disetirinya sendiri setiap hari
demi mengunjungi dan mengangkut
pasien- pasiennya .
Kepedulian yang tinggi pada
lingkungan sekitarnya, kini
bertambah pada pendidikan anak –
anak warga miskin . Untuk itu, bidan
Aminah telah mendirikan sekolah
TK gratis bagi anak- anak di sekitar
tempat praktiknya.
4 . Haji Soleh Muchsin
Haji Soleh Muchsin, yang lebih
akrab dipanggil Abah Muchsin . Abah
Muchsin adalah sosok yang sangat
peduli dan gemar pada pendidikan
sejak muda. Saat masih kuliah di
semester 4 , Abah Muchsin telah
bersedia menjadi kepala sekolah di
sebuah madrasah di Surabaya . Saat
madrasah harus pindah karena
sesuatu hal , Abah Muchsin justru
memilih tempat pindah yang
membuat orang lain bengong dan
heran.
Lokasi yang diambilnya untuk
rumah sekaligus sekolah adalah
lokalisasi Dupak , Bangunrejo
Surabaya, kawasan prostitusi yang
konon adalah tempat pelacuran
terbesar di Asia dan populer dengan
gang Dolly -nya. Sekolah atau
Madrasah Islamiyah, dibangun Abah
Muchin untuk sekolah gratis bagi
anak- anak yatim piatu dan tak
mampu, juga anak – anak para
pekerja seks di kawasan Dupak .
Bagi Abah Muchsin, mendirikan
sekolah di kompleks pelacuran ,
adalah tantangan terbesar dalam
hidupnya. Selain karena banyaknya
cemoohan dan penolakan dari
warga setempat , kendala biaya juga
sering menghantui aktivitas
sekolahnya. Namun Abah Muchsin
bergeming. Seluruh kendala itu
dihadapinya dengan tegar bersama
keluarga, demi peningkatan taraf
dan kualitas hidup anak – anak
seempat ke depannya.
Menurutnya, memutus jalur
regenerasi praktik prostitusi di
tempat itu adalah satu- satunya cara,
karena penghapusan tempat itu
oleh pemerintah tak juga kunjung
terjadi . “ Saya ingin anak -anak di
situ punya moral, pegangan agama
dan juga visi ke depannya yang baik
dan benar, supaya tak mengkuti
jejak orang tuanya .
Dengan penanaman moral dan
ajaran agama yang kuat, siapa tahu
juga bisa “ menyentuh” orang
tuanya ” jawab Abah Muchsin saat
ditanya mengapa memilih kawasan
itu untuk sekolah . Kini madrasah
yang sebelumnya cuma memiliki 74
murid itu , telah menjadi sekolah
setingkat TK dan SD dengan 354
murid dan 15 orang guru .
5 . Gisela Borowka
Dia adalah seorang perempuan
mantan warga negara Jerman yang
memenuhi panggilan hati untuk
mengabdi lintas negara . Gisela
Borowka, atau lebih dikenal sebagai
Mama Barat atau Mama Putih di
kawasan Nusa Tenggara Timur,
memutuskan untuk menghabiskan
hidupnya di negara yang
sebelumnya sama sekali asing
baginya.
Pengabdiannya di Indonesia dimulai
saat usia 29 tahun , pada 26 Agustus
1963, Gisela memilih kawasan
Lembata di Flores Timur , yang
penuh dengan para penghuni kusta
atau lepra. Kawasan penampungan
bagi orang -orang yang dikucilkan
oleh masyarakat karena
penyakitnya itu , menarik minatnya
sebagai lahan pengabdian.
Hingga sekitar tahun 1980, Gisela
mengabdikan diri dengan tulus
mendampingi dan merawat para
penderita kusta di Lembata . Bahkan
pada 1968, sebuah rumah sakit
didirikannya untuk pengobatan
menyeluruh para penderita kusta.
Setelah berhasil mengurangi jumlah
penderita kusta di Lembata secara
signifikan, Gisela memilih pulau
Alor untuk tempat pengabdian
selanjutnya.
Kini 45 tahun berselang , Gisela yang
resmi menjadi WNI sejak 20
September 1996 ini , masih terus
menjalankan rumah sakit ,
mengajarkan pola hidup sehat,
pendidikan non formal untuk bekal
para bekas penderita kusta dan
mendirikan panti asuhan bagi anak –
anak terlantar dan dari keluarga
miskin di pulau Alor. Gisela sudah
berketetapan , menjalani sisa
hidupnya dengan terus merawat
penduduk Alor hingga akhir
hidupnya.
Sumber : http ://
www. kickandy.com /

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s