Biografi Ibnu Sina–3, pelopor para dokter

Biografi Ibnu Sina–3, pelopor para dokter

image

Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah
bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal
dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir
pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa
bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak
masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal
dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah
akrab dengan pembahasan ilmiah terutama
yang disampaikan oleh ayahnya.
Kecerdasannya yang sangat tinggi
membuatnya sangat menonjol sehingga salah
seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu
Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun
selain belajar dan menimba ilmu.
Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh
memberikan perhatiannya kepada aktivitas
keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat
menguasai banyak ilmu, dan meski masih
berusia muda, beliau sudah mahir dalam
bidang kedokteran. Beliau pun menjadi
terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin
Mansur yang memerintah antara tahun 366
hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit
memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan
mengobatinya.
Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke
perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu
Sina mengenai perpustakan itu mengatakan
demikian;
“Semua buku yang aku inginkan ada di situ.
Bahkan aku menemukan banyak buku yang
kebanyakan orang bahkan tak pernah
mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum
pernah melihatnya dan tidak akan pernah
melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat
membaca kitab-kitab itu dan semaksimal
mungkin memanfaatkannya… Ketika usiaku
menginjak 18 tahun, aku telah berhasil
menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu
Sina menguasai berbagai ilmu seperti
hikmah, mantiq, dan matematika dengan
berbagai cabangnya.
Kesibukannya di pentas politik di istana
Mansur, raja dinasti Samani, juga
kedudukannya sebagai menteri di
pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah
Deilami dan konflik politik yang terjadi
akibat perebutan kekuasaan antara kelompok
bangsawan, tidak mengurangi aktivitas
keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari
panjangnya ke berbagai penjuru dan
penahanannya selama beberapa bulan di
penjara Tajul Muk, penguasa Hamedan, tak
menghalangi beliau untuk melahirkan ratusan
jilid karya ilmiah dan risalah.
Ketika berada di istana dan hidup tenang
serta dapat dengan mudah memperoleh buku
yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri
dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu
kedokteran atau menulis ensiklopedia
filsafatnya yang dibeni nama kitab Al-
Syifa’. Namun ketika harus bepergian beliau
menulis buku-buku kecil yang disebut dengan
risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu
Sina menyibukkan diri dengan menggubah
bait-bait syair, atau menulis perenungan
agamanya dengan metode yang indah.
Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis
oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat
dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal
sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18
jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq,
matematika, ilmu alam dan ilahiyyat.
Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai
buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq
islami, sementara pembahasan ilmu alam dan
ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini
juga masih menjadi bahan telaah.
Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun
tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad
menjadi kitab rujukan utama dan paling
otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah
umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan
berbagai macam penyakit. Seiring dengan
kebangkitan gerakan penerjemahan pada
abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya
Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa
Latin. Kini buku tersebut juga sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,
Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab
kumpulan metode pengobatan purba dan
metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah
menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di
universitas-universitas Eropa.
Ibnu juga memiliki peran besar dalam
mengembangkan berbagai bidang keilmuan.
Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan
menjalankan observatorium untuk ilmu
perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu
Sina memberikan hasil penelitiannya akan
masalah ruangan hampa, cahaya dan panas
kepada khazanah keilmuan dunia.
Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya
tulis yang dalam bahasa latin berjudul De
Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab
karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang
asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini
sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina
mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta
karena dua penyebab. Pertama
menggelembungnya kulit luar bumi dan ini
terjadi lantaran goncangan hebat gempa.
Kedua karena proses air yang mencari jalan
untuk mengalir. Proses mengakibatkan
munculnya lembah-lembah bersama dan
melahirkan penggelembungan pada
permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan
bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin
juga berperan dengan meniup sebagian dan
meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini
adalah penyebab munculnya gundukan di
kulit luar bumi.”
Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya –
sehingga dalam banyak hal mengikuti teori
matematika bahkan dalam kedokteran dan
proses pengobatan- dikenal pula sebagai
filosof tak tertandingi. Menurutnya,
seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika
ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu
Sina sangat cermat dalam mempelajari
pandangan-pandangan Aristoteles di bidang
filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya
mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina
mengaku bahwa beliau membaca kitab
Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40
kali. Beliau menguasai maksud dari kitab
itu secara sempurna setelah membaca syarah
atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang
ditulis oleh Farabi, filosof muslim
sebelumnya.
Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina
mengalami dua periode yang penting. Periode
pertama adalah periode ketika beliau
mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada
periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai
penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode
kedua adalah periode ketika Ibnu Sina
menarik diri dari faham paripatetik dan
seperti yang dikatakannya sendiri cenderung
kepada pemikiran iluminasi.
Berkat telaah dan studi filsafat yang
dilakukan para filosof sebelumnya semisal
Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil
menyusun sistem filsafat islam yang
terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar
yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab
berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab
sebelumnya.
Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti
karya pemikiran dan telaahnya di bidang
kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia
Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos
Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran
Dominique yang hidup antara tahun
1200-1280 Masehi adalah orang Eropa
pertama yang menulis penjelasan lengkap
tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal
sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles
Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia
Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia
mengenal pandangan dan pemikiran filosof
besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina.
Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah
ringkasan dari tema-tema filosofis yang
kebenarannya diakui dua abad setelahnya
oleh para pemikir Barat.
Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah
pada usia 58 tahun. Beliau pergi setelah
menyumbangkan banyak hal kepada
khazanah keilmuan umat manusia dan
namanya akan selalu dikenang sepanjang
sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari
peradaban besar Iran di zamannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s