Kyai meruqyah, Jin berakting : Kisah Ruqyah (2)

Kyai meruqyah, Jin berakting : Kisah Ruqyah (2)

Jin Bodoh dan lancang mengaku ruh sayyidina Husein
=================

Suatu hari aku duduk bersama beberapa orang teman di tempat yang gelap. Seorang temanku adalah insinyur, dia berkata kepadaku, “Di antara kita ada yang dapat menghadirkan ruh sayyidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Kita dapat berbincang-bincang dengan dia sesuai keinginan. Bagaimana pendapat kamu?” Aku berkata, “Itu semua bohong, penipuan.” “Siapa yang berbohong itu? Ruh atau orang yang merasa bisa memanggilnya?” Tanyanya. Aku tegaskan, “Kedua-duanya.” Maka temanku berkata, “Dia sekarang juga ada bersama kita.” Aku berkata, “Kita sedang berada di tempat yang gelap dan kosong, apakah sayyidina Husain dapat hadir?”
Maka pemuda yang beragama Kristen tersebut berdiri, untuk memeriksa pintu dan jendela. Kemudian dia duduk di dekatku, dan membaca bacaan yang tidak kupahami. Kira-kira setengah jam berlalu tiba-tiba tempat dimana kami berada bergetar. Tak lama setelah itu terdengar suara dari atap kamar lalu turun ke lantai dan menyampaikan salam kepada kamu dan mendo’akan kami seorang demi seorang dengan menyebut nama beserta nama ibunya. Sungguh aneh! Kemudian dia berkata, “Untuk apa kamu mengundangku?” Maka orang yang mengundangnya menjawab, “Syaikh Yasin tidak percaya kalau engkau betul-betul ruh sayyidina Husain. Bahkan dia menuduh aku pendusta, demikian pula ruh yang hadir adalah pendusta.” Apa yang dianggap ruh itu berkata, “Baik, kalau begitu coba bawa dia ke sini, biar aku yang menjelaskan kepadanya dan aku yang akan meyakinkannya sebelum pergi.” Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikh Yasin, silakan berbicara dengan maulana al-Husain ra-dhiyallaahu ‘anhu.” Maka berlangsunglah dialog Syaikh Yasin dengan apa yang mengaku ruh sebagai berikut:

Syaikh: Ruh siapakah yang datang ini?
Jin: Ruh sayyidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib.
Syaikh: Siapakah ibu kamu?
Jin: Fatimah az-Zahra.
Syaikh: Apakah Fatimah az-Zahra ra-dhiyallaahu ‘anha wafat sebelum ataukah sesudah wafat ayahnya shallallaahu ‘alaihi wa sallam?
Jin: Fatimah wafat setahun enam bulan delapan hari sebelum ayahnya.
Syaikh: Inilah bukti kebohongan. Sebab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat kira-kira enam bulan sebelum Fatimah.
Jin: Kamu menghadirkan aku untuk bertanya tentang hal yang tidak berguna.
Syaikh: Mengapa pertanyaan ini tidak berguna? Apakah kamu betul ruh sayyidina Husain?
Jin: Betul, betul, aku ruh al-Husain.
Syaikh: Terangkan dengan penanggalan masehi dan hijriyah, tanggal berapa kamu mati?
Jin: Ketika aku wafat kaum muslimin belum mengenal kalender. (17) (Jawaban yang salah)
Syaikh: Ketika orang tadi mengundang kamu, kamu sedang berada dimana?
Jin: Tadi aku sedang berada di langit keenam, lalu datang kepadaku Malaikat dan berkata, “Ada seorang syaikh ingin bertemu denganmu. Maka ketika itu pula aku turun dengan cepat, secepat kedipan mata.”
Maka Syaikh Yasin membaca al-Qur-an termasuk ayat kursi dan dia pun terdiam. Lalu dia permisi ingin pergi. Maka aku (Syaikh Yasin) berkata, “Jangan dulu pergi sebelum kamu terangkan kepadaku siapa sebenarnya kamu.” Maka dia berkata, “Ya, aku adalah dari golongan jin putih.”
Syaikh: Mengapa kamu mengaku ruh sayyidina Husain?
Jin: Karena aku bertamu dengan pemuda yang memanggilku, maka aku datang ingin memainkannya. Dan dia berkata, “Siapa ingin ketemu ruh sayyidina Husain,” maka aku segera berkata, “Akulah ruh Husain.”
Syaikh: Dia beragama Kristen, kenapa kamu tidak mengaku ruh seorang tokoh dari orang Kristen?
Jin: Aku tidak mengetahui bahwa dia Kristen kecuali setelah mendengar dari kamu.
Syaikh: Jadi, kamu siapa?
Jin: Aku adalah jin dari goliongan mazabil.
Syaikh: Sudah, pergilah kamu, kutukan Allah akan selalu menimpamu.
Maka dia pun pergi dengan menyesal dan menderita karena tidak berhasil menggoda.
Temanku berkata,
Sekarang telah datang yang hak dan telah pergi yang batil.
Aku berkata, “Sesungguhnya kebatilan pasti lenyap.”

image

===
(17) Majdi mengatakan: Imam Husain wafat pada hari Selasa 10 Muharram 61 H/ 10 Oktober 680 M., dengan perhitungan mulai awal Muharram tahun pertama (tgl 1-1-1 H) berawal pada 16 Juli 622. Wallaahu a’lam.
===
Maraji’/ sumber:
Buku: Kiai Meruqyah Jin Berakting, Penulis: K.H. Saiful Islam Mubarak Lc. M.Ag, Editor: Eko Wardhana, Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media, Bandung – Indonesia, Cetakan Februari 2004 M.
===

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s