Kyai Meruqyah, Jin Berakting–Serial Kisah Ruqyah (4)

Kyai Meruqyah, Jin Berakting–Serial Kisah Ruqyah (4)

(Baca Pertemuan Sebelumnya: jin Berterus-Terang)

Jin yang Gagal

Syaikh Yasin berkata, “Aku menghadirkan ruh untuk kedua kalinya dan berlangsunglah dialog sebagai berikut:

image

Syaikh: Ruh siapa ini?
Jin: Aku ruh Ustadz…ayah dari tuan…yang berada di sampingmu, dan aku sudah menemuinya pada waktu dia tidur. Aku juga telah menyuruhnya untuk mencari masjid, bila tidak ada maka dirikanlah. Diharapkan kau dapat membantunya membangun masjid agar aku sering mendo’akanmu juga.
Syaikh: (Setelah mengecam dan mengancamnya lalu bertanya) sebenarnya ruh siapa yang datang sebelumnya, ruh siapa yang hadir sekarang ini?
Jin: Aku lah yang hadir sebelumnya dan sekarang aku hadir kembali.
Syaikh: Ruh siapa? Bicaralah dengan jujur, jangan berdusta!
Jin: Aku ada qarinnya (18) ayah dari orang yang berada di dekatmu.
Syaikh: Bagaimana kamu dapat mengetahui keadaan ayah orang ini?
Jin: Karena aku senantiasa mengikutinya kemana dia pergi selama hidupnya.
Syaikh: Untuk apa kamu meminta kami membangun masjid dan memindahkan mayat ke dalamnya?
Jin: Terus terang, kamu ini ingin menyeret aku?
Syaikh: Ya, betul.
Jin: Karena telah ditemukan dalam hadits, Nabi (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
Allah mengutuk yahudi dan nashrani, mereka menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid. (HR. Al-Bukhari) (19)

Syaikh: Mengapa kamu berkata begitu? Apa yang kamu inginkan? Manfaat apa yang kamu harapkan?
Jin: Aku bukan seorang muslim. Aku selalu berupaya agar kaum muslimin menyembah berhala. Sedikit aku berkata yang baik dan benar dengan tujuan agar dia menyakini bahwa aku adalah ruh ayahnya.
Syaikh: Pergilah kamu, qarin busuk. Kutukan Allah selalu menimpamu dan teman-temanmu!
Maka pergilah setan yang mengaku sebagai ruh dari ayah teman itu. Akhirnya dia pun yakin bahwa yang datang itu bukan ruh ayahnya akan tetapi setan.”

image

Dari kisah di atas dapat kita ambil beberapa pelajaran, antara lain:
1. Setan selalu berupaya untuk menipu manusia dengan berbagai cara, termasuk mengaku sebagai ruh seorang shalih yang dicintai kaum muslimin.
2. Setan mempelajari al-Qur-an dan Hadits untuk dijadikan alat menipu manusia.
3. Setan mampu meniru suara manusia dan berkomunikasi dengan siapa yang mau didekatinya.
4. Setan mendekati seorang ustadz atau ulama untuk dijadikannya sebagai alat menyesatkan masyarakat.
5. Dia menjadikan seseorang seperti Syaikh Yasin sebagai ahli menghadirkan ruh orang-orang yang telah meninggal padahal yang dia hadirkan tidak ada hubungan dengan ruh itu.
6. Dengan pertolongan Allah seorang hamba tidak akan tergoda walaupun setan berupaya dengan menggunakan berbagai cara.
7. Setan pandai berakting hingga membuat banyak orang tergiur dan terjebak.
8. Ungkapan setan yang baik-baik seperti membaca al-Qur-an, shalawat dan lainnya dimaksudkan untuk meyakinkan manusia agar percaya kepadanya.
9. Termasuk keterusterangan ini juga tidak lepas dari hal yang patut diwaspadai. Boleh jadi dia berterus-terang agar pada kesempatan berikutnya dianggap jujur. Sehingga nanti dia akan mendapat kesempatan lagi untuk menipu manusia.
10. Maka bila ada setan yang menyatakan masuk Islam di depan seorang ustadz atau ulama, hal ini tidak dapat dipercaya apalagi dijadikan pegangan. Sebab boleh jadi dengan menyatakan masuk Islam, setan bermaksud menjadikan seseorang agar dikultuskan masyarakat karena dianggap sebagai orang luar biasa yang dapat berdakwah kepada setan dan mengislamkan mereka.
Perlu diingat bahwa ketiga kisah di atas hanya sebuah pengalaman pribadi yang tidak dapat dijadikan sebagai dalil ilmiah. Namun demikian kisah terrsebut mengandung makna yang diharapkan dapat dijadikan bahan perbandingan dalam menghadapi pengalaman lain yang bertujuan menyesatkan sebagian kaum muslimin.
===
(18) Qarin ialah jin atau syaitan yang senantiasa menemani seseorang.
(19) Diriwayatkan dari Muslim dalam Shahihnya 1/376/529, al-Bukhari dalam Shahihnya 1/168/425, an-Nasa-i dalam Sunannya 2/41/703, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 6/96/2326, Abu Dawud dalam Sunannya 3/217/3227, (Ahmad) Ibnu Hanbal dalam Musnadnya 1/218/1884, Malik dalam Muwaththa’ 1/172/414, ath-Thayalisi dalam Musnadnya 1/88/634, al-Humaidi dalam Musnadnya 2/445/1025, ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 1/164/393.
===

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s