Kyai Meruqyah, Jin Berakting–Serial Kisah Ruqyah (6)

Kyai Meruqyah, Jin Berakting–Serial Kisah Ruqyah (6)

Jin Ikut Shalat Berjama’ah
=====================
Kira-kira lima tahun silam seorang ustadz mendapat undangan untuk menjadi pemateri tentang jin dalam sebuah diskusi yang berlangsung dengan para dosen.

Para dosen tersebut berdatangan dari perguruan tinggi yang berbeda dan memiliki disiplin ilmu yang beragam. Namun kebanyakan mereka memiliki keahlian dalam ilmu eksak.

Pembicaraan tentang jin adalah sesuatu yang sangat menarik bagi mereka karena bahasan ini adalah bahasan yang baru dan di luar kebiasaan mereka.

Ketika ustadz itu menyampaikan presentasi tentang jin berdasarkan al-Qur-an, ia mendapat perhatian sangat serius dan mendapat pertanyaan yang cukup banyak.
Dalam bahasannya, ustadz mengutip beberapa ayat di antaranya dari surat al-Ahqaf ayat 29-31:
Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur-an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar kitab (al-Qur-an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 29-31)

image

Melalui ayat ini kita dapat mengambil banyak pelajaran, antara lain:

1. Tidak semua jin yang hidup pada zaman Rasul (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) mendengar bacaan al-Qur-an, bahkan tidak semua mereka mengetahui ada kitab yang diturunkan untuk dijadikan petunjuk.
2. Dari golongan jin yang mendengar al-Qur-an ada yang penuh perhatian kepadanya dan ada pula yang tidak menghiraukannya sehingga mereka tetap saja berbincang-bincang dengan teman sejenisnya. Maka yang menyadari akan pentingnya al-Qur-an menyuruh teman-temannya untuk diam dan memperhatikan bacaan al-Qur-an.
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al-Jin: 11)
3. Siapa mereka yang memperhatikan ataupun siapa yang tidak memperhatikan tidak pernah kita mengetahuinya. Rasul (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) pun tidak mengetahui hal itu sekiranya tidak mendapat berita dari Yang Maha Mengetahui.
4. Kelompok jin yang beriman segera menyampaikan tugas menyebarkan dakwah kepada sesama jin dan memberi peringatan kepada mereka tentang bahaya siksa yang sangat pedih.
5. Jin yang shalih tidak akan ikut campur mengurus urusan manusia karena urusan dia pun demikian banyak, terutama menghadapi kenakalan dan kesombongan kebanyakan jin akibat pengaruh ajaran iblis.
6. Bila ada jin yang tampil di hadapan manusia atau memberi bantuan kepada manusia, maka jin tersebut sedang melakukan hal yang tidak diperintahkan kepadanya. Siapapun yang sibuk melakukan sesuatu yang tidak berguna maka dia adalah orang yang sedang menjauh dari Allah atau orang fasik kalau bukan orang kafir. Demikian pula golongan jin. Jika di antara mereka ada yang sibuk bergaul dengan manusia maka hal itu menunjukkan kefasikannya. Jika manusia melayaninya maka dia akan menemukan kesempatan untuk melakukan niat-niatnya yang keluar dari ajaran Allah. Dia akan menyiapkan diri menolong manusia untuk sementara dan menyesatkannya bila mereka telah menemukan jalan.

Allah berfirman:

Dan bahwasanya ada beberapa tokoh dari golongan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa tokoh dari golongan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka kesesatan. (QS. Al-Jin: 6)

7. Karena itu kita harus waspada terhadap perilaku jin yang berhubungan dengan manusia. Sebagaimana manusia tidak diperintah untuk bergaul dengan jin, maka demikian pula jin tidak diperintah untuk bergaul dengan manusia. Manusia tidak diperintah untuk berdakwah kepada jin demikian pula jin tidak diperintah untuk berdakwah kepada manusia.

Seusai materi disampaikan, seorang peserta langsung mengacungkan tangannya dan berkata, “Saya ingin menanggapi apa yang disampaikan tadi. Ustadz mengatakan bahwa kita harus waspada kepada jin yang bergaul dengan manusia. Saya tidak setuju kepada pernyataan tersebut, karena kita berarti buruk sangka kepada sesama mukmin. Padahal boleh jadi yang kita waspadai itu ada yang jauh lebih takwa daripada kita. Sebagai bukti saya punya pengalaman yang sangat berarti bagi saya dan juga bagi teman-teman. Yaitu, saat saya melakukan shalat tahajud berjamaah di masjid ini. (24) Sebagai imam saya diikuti beberapa orang mahasiswa yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Ketika saya membaca akhir surat al-Fatihah, saya mendengar dengan jelas suara yang mengatakan aamiiiin dari ribuan jamaah. Kalau suara itu dari suara manusia saya kira masjid ini tidak cukup untuk menampung jamaah sebanyak itu. Sejak itu saya yakin betul bahwa apa yang dikatakan al-Qur-an tentang adanya jin yang muslim dan bahwa mereka ikut berjamaah shalat tahajud dengan saya.
Sementara ustadz tadi mengatakan bahwa jin yang berinteraksi dengan manusia harus diwaspadai karena bukan jin yang taat. Nah, bagaimana ustadz mempertanggungjawabkan pernyataan tadi?”.

image

Dengan tenang ustadz menjawab menggunakan pertanyaan. Dia bertanya, “Terima kasih atas tanggapannya, dan sebelum menjawab saya ingin bertanya, bagaimana perasaan bapak ketika mendengar suara yang demikian banyak? Apakah shalatnya dilanjutkan pada waktu itu atau pada waktu berikutnya?”

Peserta menjawab, “Wah, terus terang bulu kuduk saya pada bangun, dan saya tidak sanggup lagi melanjutkan shalat waktu itu.”
Dari jawaban peserta, ustadz langsung mengambil kesimpulan dan berkata, “Jadi, mereka telah berhasil menghentikan bapak bersama jamaah dari amal ibadah yang sangat mulia, yaitu melakukan shalat tahajjud”.

Apakah bapak masik berbaik sangka kepada mereka?”

Ia menjawab, “Oh, iya, ya. Saya baru sadar, ternyata mereka menggoda saya. Baik, terima kasih, ustadz.”

===
(24) Diskusi dilaksanakan di salah satu masjid besar di Bandung.
===
Maraji’/ sumber:
Buku: Kiai Meruqyah Jin Berakting, Penulis: K.H. Saiful Islam Mubarak Lc. M.Ag, Editor: Eko Wardhana, Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media, Bandung – Indonesia, Cetakan Februari 2004 M.
===

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s