Kyai meruqyah, Jin Berakting– Serial Kisah Ruqyah (7)

Kyai meruqyah, Jin Berakting– Serial Kisah Ruqyah (7)

jin di Hadapan Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam
============

Tidak sedikit kalangan ahli ilmu ghaib menggunakan jin sebagai penjaga keselamatan, baik untuk pribadi, keluarga atau harta kekayaan. Mereka memandang bahwa menggunakan jin adalah ajaran yang telah dibawa Nabi terdahulu, mereka berargumentasi dengan kehidupan Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam.

Mereka mengatakan bahwa menggunakan jin untuk kepentingan dan kemaslahatan hidup telah berlangsung sejak Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam.

image

Kalau seorang Nabi saja menggunakan jin, maka tidaklah salah bila kita juga menggunakannya. Demikian alasan yang mereka kemukakan.

Betulkah (Nabi) Sulaiman ‘alaihis salaam menggunakan jin dalam menangani urusan yang dihadapinya? Berbicara tentang para Nabi berarti berbicara tentang masalah aqidah. Penjelasan tentang aqidah tidak dapat diambil dari sekedar cerita dan mulut ke mulut akan tetapi mesti bersumber kepada landasan yang kuat yaitu al-Qur-an sebagai landasan utama yang mesti kita jadikan pegangan dan pedoman dalam kehidupan kita.

Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud dan dia berkata, ‘Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). (QS. An-Naml: 16-17).

Pelajaran dari ayat di atas:

Sulaiman (‘alaihis salaam) mendapat warisan dari ayahnya, warisan yang beliau terima bukan berupa harta karena harta bukan warisan yang abadi, akan tetapi warisan yang lebih berharga dari harta yaitu warisan risalah tauhid, dan kerajaan bukanlah merupakan warisan untuk dinikmati akan tetapi warisan untuk dipergunakan demi kelancaran dakwah menyebarkan ajaran tauhid. Maka beliau mulai melaksanakan tugasnya dengan memanggil manusia.
“Yaa ayyuhan naasu” Hai sekalian manusia. Sulaiman (‘alaihis salaam) memanggil manusia tidak memanggil jin. Hal ini menunjukkan bahwa yang diajak bicara oleh Sulaiman adalah golongan manusia. Beliau tidak bermusyawarah dengan golongan lain.
“Wa husyira” Dan dihimpun bentuk kata kerja pasif yang memberi makna bahwa Sulaiman (‘alaihis salaam) tidak mengumpulkan jin dan tidak pula memanggilnya. Jadi, tidak tepat anggapan yang mengatakan bahwa Sulaiman (‘alaihis salaam) menjadikan jin sebagai khadamnya atau menjadikan jin sebagai pegawainya. Perhatikan pula ungkapan al-Qur-an pada kata “yuuza’uuna” mereka semua diatur, kata ini juga menunjukkan bahwa Sulaiman (‘alaihis salaam) tidak mengatur mereka akan tetapi mereka diatur untuk Sulaiman (‘alaihis salaam). Siapakah yang mengatur? Allah yang mengatur semua alam.

Sulaiman (‘alaihis salaam) mendapat berita dari seekor burung tentang keadaan suatu negeri yang dipimpin seorang wanita. Sang ratu beserta semua rakyatnya menyembah matahari. Tidak lama setelah mendapat berita ini, Sulaiman (‘alaihis salaam) segera melaksanakan tugas dakwah ke negeri tersebut dengan mengirimkan surat ajakan untuk masuk Islam. Dalam mengirim surat tersebut, beliau menggunakan jin agar lebih cepat atau menggunakan cara lain? Mari kita perhatikan ayat di bawah ini:

“Pergilah (wahai hudhud) dengan suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (QS. An-Naml: 28)

Sulaiman (‘alaihis salaam) mengutus burung hudhud untuk mengirimkan surat kepada ratu Balqis. Beliau memerintahkan burung tersebut untuk mengawasi apa yang akan dikerjakan ratu beserta rakyatnya.
Sekiranya Sulaiman (‘alaihis salaam) suka menggunakan jin, mengapa menggunakan burung untuk melaksanakan pekerjaan ini? Padahal jin akan lebih cepat mencapai hasil yang diharapkan. Setelah mendapat berita bagaimana sikap ratu di negeri itu,

Sulaiman (‘alaihis salaam) menindaklanjuti dengan mengumpulkan para pembesar dari golongan manusia, dan beliau bersabda:

Berkata Sulaiman, “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?” Berkata ‘ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.

” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau kufur (mengingkari nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 38-40)

image

1. Sulaiman (‘alaihis salaam) melontarkan pertanyaan kepada para pejabat tinggi negara untuk dapat mengalihkan singgasana ratu Saba.

2. ‘Ifrit adalah julukan bagi jin yang pintar. Karena kepintarannya dia menawarkan diri untuk mengambil singgasana tersebut.

3. Kendati jin yang istimewa itu menawarkan diri untuk melakukan tugas dari program Sulaiman (‘alaihis salaam), ternyata beliau tidak menghiraukan apalagi menyambutnya.

4. Singgasana dapat dialihkan dengan tenaga yang lain. Menurut sebagian ahli tafsir, yang melakukan pemindahan tersebut adalah Sulaiman (‘alaihis salaam) sendiri dengan mu’jizatnya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang melakukan pemindahan itu adalah seseorang yang Allah berikan kepadanya ilmu. Siapapun yang melakukannya, yang jelas ‘ifrit tidak berbuat apa-apa sekalipun dia tokoh dari golongan jin.

5. Ayat ini memberi pelajaran bahwa Allah tidak mengizinkan Sulaiman (‘alaihis salaam) untuk menggunakan jin dalam melaksanakan tugas ini.
Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaan Sulaiman) dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab Neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba’: 12)

1. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa jin bekerja di depan Sulaiman (‘alaihis salaam).
2. Mereka bekerja bukan atas perintah Sulaiman (‘alaihis salaam) akan tetapi bekerja atas perintah Allah.
3. Bila ada yang menyimpang dari golongan jin itu, Sulaiman (‘alaihis salaam) tidak menjatuhkan hukuman apapun kepada mereka melainkan Allah-lah yang langsung menjatuhkan hukuman.

Dengan memperhatikan ayat-ayat di atas, ternyata tak ada satu ayat pun yang menunjukkan bahwa Sulaiman (‘alaihis salaam) memerlukan bantuan jin. Bahkan ketika tokoh dari golongan jin menawarkan bantuannya sekalipun, tidak beliau hiraukan.
===
Maraji’/ sumber:
Buku: Kiai Meruqyah Jin Berakting, Penulis: K.H. Saiful Islam Mubarak Lc. M.Ag, Editor: Eko Wardhana, Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media, Bandung – Indonesia, Cetakan Februari 20m04 M.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s