Kyai Meruqyah, Jin Berakting–serial kisah ruqyah (8)

Kyai Meruqyah, Jin Berakting–serial kisah ruqyah (8)

Kebal dengan Bantuan jin
============
Sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan sering ditemukan sejak dahulu hingga saat ini.

Ibrahim ‘alaihis salaam pernah dilemparkan ke dalam api menyala-nyala, namun tidak membahayakan dirinya sedikitpun.

Musa ‘alaihis salaam pernah memukulkan tongkatnya ke pantai, lalu lautan pun terbelah dua. ‘Isa ‘alaihis salaam menjelaskan apa yang ada di rumah kaumnya dari kejauhan dan terbukti semua yang dikatakannya benar sesuai dengan kenyataan.

Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam membagikan makanan dengan takaran untuk empat orang kepada ratusan tentara hingga mereka merasa kenyang dan ternyata masih tersisa.

Khubaib bin ‘Adiy mendapatkan setumpuk buah anggur dalam tahanan bani Harits di Makkah sedangkan tangan dan kakinya diborgol. Dia memakannya dengan lahap padahal waktu itu tak ada seorangpun di kota itu yang memiliki sebutir buah anggur.

Para mujahidin di Afganistan, Bosnia, Chechnya, Maluku telah menyaksikan hal-hal yang luar biasa dan di luar dugaan, serta masih banyak lagi peristiwa luar biasa lain yang tidak mungkin dapat disampaikan semuanya di sini. Semua kenyataan ini terjadi atas izin Allah dan di luar program manusia dan tidak mereka ketahui sebelumnya kalau hal itu akan terjadi. Peristiwa aneh dan di luar dugaan ini disebut irhash bila dialami oleh seorang calon Rasul, mukjizat bila dialami seorang Rasul dan karamat bila dialami hamba-hamba lainnya dari kaum muslimin selain Rasul dan bakal Rasul. Semua itu terjadi atas izin Allah dan ridha-Nya demi kepentingan dakwah dan menegakkan kalimat tauhid. Karena itu hal ini tidak akan terjadi pada golongan orang yang ingkar kepada ajaran Allah.
Di samping peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dugaan, banyak juga peristiwa lagi yang luar biasa namun diprogram dan diusahakan oleh manusia. Mereka melakukan acara dan latihan tertentu hingga dapat berbuat aneh dan luar biasa. Seperti yang dialami kaum fir’aun. Mereka melemparkan tali-tali yang berubah menjadi ular. David copperfield sering mempertunjukkan adegan-adegan luar biasa dan menjadi tontonan massa tanpa diketahui rahasianya hingga saat ini sekalipun oleh para ilmuwan.
Tidak diragukan, semua hal tersebut terjadi atas izin Allah namun tidak diridhai-Nya. Itulah yang disebut dengan ilmu sihir. Hal yang sama sering terjadi juga di tengah-tengah masyarakat yang mengaku beragama Islam. Kaum muslimin sering menyaksikan saudaranya baik dari dekat atau dari kejauhan yang menusukkan senjata tajam kepada anggota badannya seperti perut, pipi, leher dan anggota lainnya hingga terlihat menembus badan, namun tidak terlihat bekasnya apalagi sampai cedera. Kerap mereka lakukan gerakan yang luar biasa itu disertai dengan membaca kalimat tahlil, shalawat dan lainnya yang biasa dilakukan kaum muslimin.

Cara inilah yang sering menyulitkan para dai dalam upaya menjelaskan fenomena itu kepada ummat. Gerakan tersebut tidak dapat dikatakan karamat atau ma’unah (pertolongan Allah), karena sesungguhnya karamat tidak pernah terjadi karena diprogram manusia apalagi dengan sengaja menusukkan senjata tajam kepada dirinya. Bila dikatakan sihir, masyarakat muslim yang kurang mengetahui Islam sebagai aqidah, syari’ah dan akhlaq secara integral, akan memandangnya terjadi karena keridhaan Allah dengan alasan bahwa para ahli tersebut melakukannya dengan diawali bacaan-bacaan yang Islami. Terutama bila gerakan tersebut dipelopori seorang yang dikenal sebagai tokoh agama atau yang disebut kiai.

Sungguh kenyataan ini sering membingungkan para aktivis dakwah. Bila tidak mereka jelaskan maka masyarakat akan dihadapkan kepada kekeliruan pemahaman. Karena tidak jelas mana yang haq dan mana yang batil. Namun bila para dai menjelaskan yang sebenarnya boleh jadi mereka akan menghadapi kesulitan, karena semua muslimin meyakini bahwa kalimat tauhid yang dibacakan dalam acara tersebut berlawanan dengan ilmu sihir.

image

Bagaimana sebenarnya gerakan yang aneh ini menurut pandangan Islam? Untuk mengetahui hal ini saya sebagai penulis ingin menyampaikan kepada saudara-saudara pembaca tentang pengalaman pribadi yang penulis alami ketika masih duduk di bangku SLTP. Saya mengikuti suatu ajaran tasawuf di salah satu kampung di mana banyak ditemukan para ahli membaca dzikir dengan bacaan yang beraneka ragam dan irama yang bermacam-macam.

Salah satu ajarannya adalah:
a) Melaksanakan shaum tiga hari berturut-turut namun tidak ada hubungan dengan ayamul bidh karena dapat dilaksanakan kapan saja.
b) Sebelum melaksanakan shaum tersebut tidak diperkenankan makan sahur.
c) Selama tiga hari itu tidak boleh makan selain sedikit dari nasi sewaktu buka tanpa disertai dengan lauk pauk apapun termasuk garam.
d) Selama tiga hari tiga malam juga dilarang berbicara dengan siapapun selain membaca dzikir.
e) Adapun bacaan dzikir yang ditetapkan di antaranya membaca “laa ilaaha illallaah” sampai enam belas ribu kali.
f) Di samping itu ada bacaan istighatsah (mohon pertolongan). Dalam bacaan istighatsah ini, di samping permohonan kepada Allah juga ada permohonan kepada beberapa orang dari hamba Allah seperti kepada Nabi Muhammad (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dan kepada Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani dan kepada beberapa lainnya. Semua yang dimintakan tolong dari golongan manusia itu sudah wafat. Tentu mereka tidak akan memberikan pertolongan kepada siapapun karena mereka sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk beramal.
Orang-orang yang melakukan semua aturan di atas tadi dan ditambah lagi dengan perintah lainnya yang tidak sempat saya ikuti, terbukti dapat berbuat hal yang luar biasa termasuk kebal dibacok, tidak mempan ditembak, tidak mempan kena bakar dan lain-lain. Inilah beberapa hal yang perlu kita kaji secara mendalam dengan mengambil petunjuk dari al-Qur-an dan Sunnah Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
a) Shaum tiga hari berturut-turut bukan pada ayamul bidh dan bukan pula untuk shaum qadha termasuk melanggar Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
Dari Mujibah al-Bahiliyah dari ayahnya atau pamannya bahwa dia datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu pulang dan kembali lagi setelah satu tahun berlalu. Pada riwayat Abu Musa, dia datang lagi setelah satu tahun sedang keadaan (fisik)nya berubah, maka dia berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mengenalku?” Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Siapakah kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah al-Bahili yang datang tahun lalu.” Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Mengapa kamu berubah? Dulu penampilanmu sangat bagus?” Dia menjawab, “Sejak berpisah dengan engkau aku tidak pernah makan selain pada waktu malam hari (shaum setiap hari).” Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kamu menyiksa diri, lakukanlah shaum pada bulan Shabar (Ramadhan), dan sehari dalam sebulan.” Dia berkata, “Tambahlah! Aku masih kuat menambah.” Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Lakukan shaum dua hari setiap bulan.” Dia berkata, “Tambahlah! Aku masih kuat.” Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Lakukan shaum tiga hari setipa bulan.” Dia berkata, “Tambahlah! Aku masih kuat.” Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Lakukanlah shaum dari bulan haram dan tinggalkan (kebiasaanmu), shaumlah dari bulan haram dan tinggalkanlah, shaumlah dari bulan haram dan tinggalkanlah.” Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda sambil mengacungkan tiga jarinya kemudian melepaskannya. (HR. Abu Dawud) (26)
Dari Jarir (ra-dhiyallaahu ‘anhu) dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Shaum tiga hari pada setiap bulan adalah shaum setahun yaitu hari-hari putih tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas (hijriyah).” (HR. Ath-Thabrani) (27)
Dari Ummu Salamah (ra-dhiyallaahu ‘anha), ia berkata, “Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, ‘Lakukanlah shaum tiga hari pada setiap bulan yaitu hari senin dan kamis, dan kamis berikutnya.” (HR. Ath-Thabrani) (28)
Dari Ibnu ‘Umar (ra-dhiyallaahu ‘anhuma) bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang shaum terus menerus. Mereka (para Shahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, engkau sendiri suka melakukannya.” Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Aku berbeda dengan kalian, aku diberi makan dan minum.” (HR. Abu Dawud) (29).

Dari beberapa hadits di atas dapat diketahui bahwa:
1. Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) melarang keras melakukan shaum setiap hari kecuali bulan Ramadhan.
2. Orang yang melakukan shaum setiap hari tidak mendapat nilai baik akan tetapi mendapat teguran keras dari Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dan dinyatakan sebagai yang menyiksa diri.
3. Semangat Shahabat (ra-dhiyallaahu ‘anhum) melakukan shaum demikian tinggi namun Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) melarangnya selain satu hari pada setiap bulan atau dua hari atau tiga hari.
4. Yang dimaksud dengan tiga hari dalam setiap bulan adalah pada hari-hari dimana pada malam harinya terlihat bulan dengan jelas yaitu pada tanggal 13, 14 dan 15 pada setiap bulan hijriyah.
5. Bila tidak dilakukan pada tiga hari itu maka dilakukan pada hari senin dan kamis, yaitu dua senin dan satu kami atau dua kamis dan satu senin. Jadi tidak ada shaum yang dilakukan tiga hari berturut-turut kecuali pada ayamul bidh.
b) Shaum tanpa makan sahur adalah sah. Namun melarang sahur untuk shaum adalah pelanggaran terhadap Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan larangan tersebut dapat menghapuskan barakah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dari Anas (ra-dhiyallaahu ‘anhu) berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bersahurlah kamu sekalian karena pada hidangan sahur terdapat barakah.” (HR. Muslim) (30)
c) Dilarang makan selain hanya sedikit nasi. Larangan ini termasuk pelanggaran syar’i, karena termasuk mengharamkan yang telah Allah halalkan tanpa penyebab apapun. Allah telah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik apa yang Kami rezekikan padamu dan bersyukurlah kamu kepada Allah jika kamu beribadah kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 172)
d) Dilarang berbicara selama tiga hari. Larangan berbicara menurut ajaran Islam hanya berlangsung selama waktu shalat. Thawaf adalah ibadah seperti shalat namun demikian dibolehkan berbicara. Karena itu larangan berbicara selama tiga hari adalah aturan yang diada-adakan dalam ibadah.
e) Ketetapan membaca dzikir dengan jumlah mencapai enam belas ribu tidak diragukan merupakan ketetapan baru yang berlebihan. Di samping bacaan tersebut akan memakan waktu yang cukup lama, juga dapat membuat sibuk hingga bisa meninggalkan banyak kewajiban lain. Menghitung angka sebanyak itu juga akan melupakan makna yang terkandung dalam kalimat yang dibaca, artinya menghabiskan waktu untuk menghayati makna kalimat tauhid yang sangat mendalam. Padahal bila dibaca dengan perlahan dan serta penuh penghayatan meski kurang dari sepuluh kali tentu akan dapat memperbaiki diri, keluarga dan ummat. Sebab pada kalimat tauhid terkandung makna perintah dan larangan yang mesti diperhatikan oleh setiap muslim. Lima poin ini merupakan ajaran baru dari yang disusun tokoh-tokoh tasawuf. Karena ajaran-ajaran tersebut menyimpang dan berlawanan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka ajaran tersebut mendapat dukungan dari setan. Akan digunakannya kesempatan ini untuk menggeser ummat Islam dan menggiring mereka ke jalan sesat serta membawa kepada kekufuran dan kemusyrikan. Ternyata kemusyrikan ini terungkap dengan jelas pada istighatsah.
f) Istighatsah adalah mohon pertolongan yang pernah dilakukan Rasul sewaktu beliau berada di Badar. Beliau (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) mohon pertolongan kepada-Nya untuk menghadapi serangan kaum musyrikin Quraisy. Istighatsah hanya dibenarkan bila permohonan tersebut ditujukan hanya kepada Allah semata. Adapun istighatsah yang berlangsung pada ajaran di atas sangat berbeda dan berlawanan dengan istighatsah yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena di dalamnya terdapat permohonan yang ditujukan kepada Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani bahkan memohon kehadirannya. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah di atas yaitu pada masalah menghadirkan ruh, maka yang selalu hadir bukanlah ruh orang yang sudah meninggal akan tetapi jin. Maka demikian pula ketika seseorang beristighatsah dan memanggil atau mengundang Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani untuk meminta pertolongannya, sesungguhnya yang hadir bukanlah dia akan tetapi jin atau setan yang ingin menyesatkan manusia. Permohonan inilah yang merusak makna kalimat tauhid. Kendatipun dibaca hingga enam belas ribu kali namun semua maknanya terhapus dengan istighatsah ini. Dengan cara ini setan telah berhasil membawa manusia keluar dari ajaran Islam.

image

===
(26) Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 2/323/2428, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kabir 4/292/8209.
(27) Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 2/356/2499, an-Nasa-i dalam Sunannya 4/222/2420, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 8/413/3652, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/302/2126, (Ahmad) Ibnu Hanbal dalam Musnadnya 2/263/7567, an-Nasa-i dalam Sunan al-Kubra 2/136/2728.
(28) Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 23/216/397, an-Nasa-i dalam Sunannya 4/203/2365, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 8/414/3654, Ibnu Majah dalam Sunannya 1/545/1709, Abu Dawud dalam Sunannya 2/325/2437, (Ahmad) Ibnu Hanbal dalam Musnadnya 2/91/5643, ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani 2/76/0, an-Nasa-i dalam Sunan al-Kubra 2/122/2674, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 4/285/8176, Abu Ya’la dalam Musnadnya 12/316/6889.
(29) Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 2/306/2360, Muslim dalam Shahihnya 2/774/1102, al-Bukhari dalam Shahihnya 2/678/1822, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 8/341/3574, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/279/2068, at-Tirmidzi dalam Sunannya 3/149/778, Abu Dawud dalam Sunannya 2/26/1280, (Ahmad) Ibnu Hanbal dalam Musnadnya 1/91/700.
(30) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 2/770/1095, al-Bukhari dalam Shahihnya 2/679/1823, an-Nasa-i dalam Sunannya 4/141/2144, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 8/245/3466, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/213/1936, at-Tirmidzi dalam Sunannya 3/89/708, (Ahmad) Ibnu Hanbal dalam Musnadnya 2/283/7794.
===
Maraji’/ sumber:
Buku: Kiai Meruqyah Jin Berakting, Penulis: K.H. Saiful Islam Mubarak Lc. M.Ag, Editor: Eko Wardhana, Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media, Bandung – Indonesia, Cetakan Februari 20m04 M.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s