Kyai Meruqyah Jin Berakting (12)–kesurupan

Kyai Meruqyah Jin Berakting (12)–kesurupan

Bagaimana setan Masuk Manusia? (3)

Melakukan Dosa Kecil

Bila setan tidak mampu mengajak seorang mukmin ke jalan kemaksiatan dan melakukan dosa besar, maka dia akan berupaya membawanya agar berbuat dosa kecil. Sebab dengan berbuat dosa kecil, orang akan mudah dibawa untuk terus berbuat dosa sehingga akhirnya menjadi besar.
Dari Sahal bin Sa’ad bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil. Perumpamaan dosa-dosa kecil adalah seperti satu kaum yang turun di salah satu lembah. Maka yang satu membawa satu potongan dahan dan yang lain pun membawa satu potongan hingga terkumpul tumpukan potongan tersebut yang dapat digunakan untuk masak roti. Dan sesungguhnya dosa kecil bila telah membawa pelakunya maka akan menjerumuskan ke dalam jurang kehancuran.” (HR. Ath-Thabrani) (7)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud (ra-dhiyallaahu ‘anhu), Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Sesungguhnya setan telah putus asa dalam mengajak menyembah berhala di tanah air ini atau negeri ini, tetapi dia senang sekali karena kamu melakukan dosa kecil. Maka jagalah dirimu dari berbuat dosa kecil sebab (dosa kecil) termasuk perbuatan yang akan menghancurkan. Maukah kamu tahu? Perumpamaannya bagaikan satu rombongan berkendaraan turun di padang pasir tidak menemukan kayu bakar, maka mereka berpencar mencari kayu bakar. Maka yang satu membawa sepotong kayu, yang satu membawa tulang dan yang lainnya membawa kotoran, dengan terkumpul semua itu maka mereka dapat membuat yang mereka inginkan. Demikian pula halnya dengan masalah dosa.” (HR. Muslim) (8)

Membuat Sibuk Melakukan yang Mubah

Bila orang yang diajak untuk berbuat dosa itu selalu memelihara diri sekalipun dari perbuatan dosa kecil, maka setan akan berupaya menyibukkannya dengan perbuatan yang mubah. Yaitu perbuatan yang tidak termasuk dosa dan tidak pula termasuk amal ibadah yang mendapat pahala.
Namun dengan kesibukan ini dia meninggalkan hal-hal yang berfaedah. Seperti banyak tidur, banyak makan dan minum, dan memperbanyak pakaian serta banyak bangun pada malam hari bukan untuk beramal shalih, tetapi untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Dengan cara ini, bila berhasil, setan akan membuat manusia meninggalkan banyak hal yang bermanfaat bahkan secara bertahap akan meninggalkan kewajiban tanpa disadari.
Dari Ibnu ‘Abbas (ra-dhiyallaahu ‘anhuma), Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sehat dan waktu luang adalah dua nikmat yang merugi padanya banyak manusia.” (HR. Al-Bukhari) (9)

Membuat Sibuk dengan Melakukan yang Kurang Utama

Bila dengan cara-cara yang tadi tidak juga ada pengaruhnya, maka setan akan berupaya untuk membuat manusia sibuk dengan amal yang utama namun dapat meninggalkan yang lebih utama. Dalam hal ini tentu sulit diketahui bahwa itu termasuk program setan. Bahkan semua orang menganggapnya sebagai langkah taat.

Dari sini dapat diketahui bahwa setan menyuruh orang untuk beramal baik dengan memberi tujuh puluh jalan kebaikan namun dengan sekian kebaikan itu dapat dicapai satu keburukan atau meninggalkan kebaikan lain yang merupakan kewajiban. Hal seperti ini tidak dapat diketahui kecuali dengan bimbingan Ilahi dan cahaya-Nya yang Dia tanamkan ke dalam hati hamba-Nya.

Yaitu orang yang senantiasa memperhatikan akhlak Rasul (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dan Shahabatnya (ra-dhiyallaahu ‘anhum). Jika dengan enam langkah ini orang yang digoda itu masih tetap konsisten dengan ibadahnya, maka setan akan bersekongkol dengan setan lain untuk mengerubuti dia dengan berbagai cara, di antaranya dengan memberi kesibukan mengurus orang-orang yang diprogram agar dia jauh dari perjuangan sehingga dia sibuk terus menghadapi program setan.
===
(7) Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 6/165/5872, ath-Thayalisi dalam Musnadnya 1/53/40, ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 6/166/5872, ath-Thabrani dalam Mu’jam ash-Shaghir 2/129/904, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 10/188/20551, Abdurrazzaq dalam Mushanaf 7/103/34528, ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath 3/74/2529.
(8) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 4/2167/2812, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 13/271/5941, at-Tirmidzi dalam Sunannya 4/331/1937, (Ahmad) bin Hanbal dalam Musnadnya 2/368/8796, al-Hakim dalam Mustadrak 1/172/318, al-Humaidi dalam Musnadnya 1/55/98, ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 2/304/2267, ath-Thabrani dalam Musnad asy-Syamiyyin 2/113/1015, (Ahmad) bin Hanbal dalam Fadhail ash-Shahabah 1/172/170, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 10/114/20123, Abi Ya’la dalam Musnadnya 4/74/2095, ‘Abdurrazzaq dalam Mushanaf 6/133/30077.
(9) Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya 5/2357/6049, at-Tirmidzi dalam Sunannya 4/551/2304, Ibnu Majah dalam Sunannya 2/1396/4170, (Ahmad) Ibnu Hanbal dalam Musnadnya 1/258/2340, al-Hakim dalam Mustadrak 4/341/7845, ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 10/323/10786, al-Qadha’i dalam Musnad asy-Syihab 1/197/295, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 3/370/6315, ‘Abdu bin Humaid dalam Musnadnya 1/229/684, ad-Darimi dalam Sunannya 2/385/2707.
===
Maraji’/ sumber:
Buku: Kiai Meruqyah Jin Berakting, Penulis: K.H. Saiful Islam Mubarak Lc. M.Ag, Editor: Eko Wardhana, Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media, Bandung – Indonesia, Cetakan Februari 2004 M.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s