Melihat Rasulullah Shalat: Sujud–Adab, dan bentuk-bentuk doa yang jarang kita tau

Melihat Rasulullah Shalat: Sujud–Adab, dan bentuk-bentuk doa yang jarang kita tau

DO’A DALAM SUJUD

Sujud membutuhkan kita untuk sejenak berhenti dengan penuh ketenangan yang mengandung makna yang sangat dalam, dan khusyu’, ia juga merupakan bagian shalat yang paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, hendaklah kita menyungkurkan diri untuk bersujud, hal ini merupakan sebaik-baiknya cara untuk merendahkan diri.

Sahabat Abu Hurairah R.A telah menceritakan, bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
AQRABU MAYAKUWNUL ‘ABDUMIN RABBIHI WAHUWA SAJIDUN FA’AKTSIRUWDDU’A-A
Artinya: “Tempat yang paling dekat bagi seorang hamba kepada Rabb-nya adalah sewaktu ia dalam keadaan bersujud. Karena itu perbanyaklah kalian berdo’a” (H.R Muslim dan Abu Daud).

Keterangan:
Berdo’a di dalam shalat semuanya dikabulkan, karena seorang yang berada di dalam shalatnya, berarti berdiri dihadapan Rabb-nya bermunajat kepada-Nya, dalam keadaan menghadapkan seluruh jiwa dan raga kepada-Nya. Tetapi khususnya dalam sujud do’a lebih banyak di kabulkan dari pada lain-lainnya.

Karena itu, perbayaklah doa dalam sujud, karena rahasia shalat itu adalah merendahkan diri, dan ta’at. Hal ini tergambarkan secara jelas dalam sujud. Manakala seseorang hamba makin bertambah ta’at kepada Rabb-nya, maka makin bertambah dekatlah ia kepada Rabb-nya, seorang hamba lebih dekat kepada Rabb-nya didalam sujud dari semua keadaannya. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:
“Ingatlah sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun dalam keadaan ruku’, maka besarkanlah asma Rabb didalamnya, dan dalam sujud maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdo’a, karena sudah selayaknya bagi kalian untuk dikabulkan.”

Dan perlu kami ingatkan, dari beberapa hadits Rasulullah SAW, yang menyebutkan pilihan do’a-do’a ketika sujud antaralain:

1. Nabi SAW bersabda:
SUBHANAKALLAHUMMA RABBANA WABIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLI
“Maha suci Allah, Ya Allah Tuhanku, dengan memuji-Mu, Ya Tuhanku, Ampunilah segala dosa-dosaku” (H.R Ahmad, Muslim dari Aisyah R.A)

2. Sahabat Abu Hurairah R.A telah menceritakan pula hadits berikut ini:
ANNAN NABIYA SAW KANA YAQULU FISUJUDIHI: “ALLAHUMMAGHFIRLI DZANBIYKULLAHUDIQQAHU WAJILLAHU WA AWWALAHU WA AJIRAHU WA’ALA NIYATAHU WASIRRAHU
Artinya: Bahwa Nabi SAW dalam sujudnya sering mengucapkan “Ya Allah, Ampunilah dosaku semuanya, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang pertama maupun yang terakhir, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.” (H.R Muslim dan Abu Daud)

3. Siti Aisyah R.A menceritakan hadits berikut:
Pada suatu malam aku merasa kehilangan Rasulullah SAW dari tempat tidur, lalu aku mencarinya, dan tanganku menyentuh kedua telapak kakinya, sedangkan ia berada didalam masjid. Kedua telapak kakinya itu dalam keadaan tegak. Pada saat u Rasulullah SAW mengucapkan (do’a):
ALLAHUMMA A’UDZUBIKA DHAKA MIN SAKHATHIKA WABIMU’A FATIKA MIN’UQU BATIKA WA A-‘UDZUBIKA MINKA LA UHSHI TSANA’AN ‘ALAYKA ANTA KAMA ATSNAYTA ‘ALA NAFSIKA
“Ya Allah, aku berlindung kepada ridha-Mu, dari murka-Mu, dan kepada Ma’af-Mu, dari siksaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak menghitung-hitung sanjunganku kepada-Mu, keadaan-Mu adalah seperti apa yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu” (H.R Khamsah Kecuali Bukhari)
Keterangan:
Ini Semua diperbuat Nabi SAW supaya umatnya menyadari akan ketakberdayaaan kita akan hidup yang kita jalani. Allah SWT tidak akan murka atau marah kepada Nabi-Nya dan tidak pula akan menyingkirkan-Nya. Karena ia telah dipilih-Nya dan di utamakan-Nya atas semua makhluk-Nya.

4. Hadits riwayat Muslim Dari ‘Aisyah R.A:
AN ‘AISYAH R.A QALA: ANNAN NABIYA SAW KANA YAQULU FI RUKU’IHI WA SUJUDIHI: SHUBBUHUN QUDDUSUN RABBUL MALA IKATI WARRUUH
Dari ‘Aisyah R.A berkata: Bahwasanya Rasulullah SAW dalam ruku’ dan sujudnya, beliau membaca: “Subbuhun Quddusun Rabbul Mala Ikati Warruuh”. (H.R Muslim dari ‘Aisyah R.A)

5. SUBHANA DZIL JABARUUWT, WALKIBRI YA I WALAZHMAT
“Maha Suci Tuhan yang mempunyai kekerasan, kekuasaan, kebesaran, dan kemuliaan.” (H.R Abu Daud dari ‘Auf Ibn Malik Al-Ajja’y)

6. SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA LA ILAHA ILLA ANTA
“Maha Suci Engkau wahai Tuhanku dan dengan memuji Engkau tak ada Tuhan yang disembah melainkan Engkau saja.”
Tasbih ini diriwayatkan oleh muslim dari ‘Aisyah dari Nabi SAW. Rasulullah SAW banyak benar berdo’a didalam sujudnya, dan menyuruh kita membanyakkan do’a didalamnya.
Nabi SAW bersabda
AKTSIRU FISSUJUDI MINDDU’A-I FA INNAHU QA MINUN AN-YUSTAJABA LAKUM
“Bayakkanlah olehmu akan do’a didalam sujud, karena do’a didalam sujud itu lebih sangat layak diperkenankan.” (H.R Ahmad, Muslim dari Abu Hurairah R.A: Al-Adzkar)

7. ALLAHUMMAGHFIRLI KHABITHINATI WAJAHLI WA ISRAFI FI AMRIY WAMA ANTA ‘ALAMU BIHI MINNI
“Ya Allah, ampunilah untukku segala kesalahanku, kebdohanku, ketelanjurkan dan keterlaluanku dalam segala urusan pekerjaanku dan segala apa yang Engkau lebih mengetahui dari padaku.” (Do’a Ini riwayat Al-Baihaqi dari Abu Musa. Al-Adzkar: 171, Jami’ Saghir 1:51)

8. ALLAHUMMAGHFIRLI JIDDI WAHAZALI WAKHATHA IY WA’ABDI WAKULLI DZALIKA’INDI
“Wahai Tuhanku, ampunilah akan daku tentang segala pekerjaanku (kesalahanku) yang aku kerjakan sungguh-sungguh dan segala pekerjaanku (kesalahan-kesalahnku) yang aku kerjakan dengan main-main, dan lagi segala kesalahanku yang aku kerjakan dengan karena tersikap dan dengan sengaja. Semuanya itu ada padaku.”

9. ALLAHUMMAGHFIRLI MA QADDAMTU WA MA AKHARTU WAMA ASRARTU WAMA A’LANTU ANTA ILAHI LA ILA HA ILLA ANTA
“Ya Allah, ampunilah kan daku tentang segala kesalahanku yang aku telah dahulukan, dan yang aku kemudiankan, dan yang aku rahasiakan, dan yang aku perlihatkan. Engkaulah Tuhanku, tak ada tuhan selain dari Engkau”
(Do’a ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Musa Al-Adzkar: 171, Jami’ Shaghir 1:51)

10. ALLAHUMMA LAKA SAJADTU WABIKA AMANTU WALAKA ASLAMTU SAJADA WAJHIYA LILLADZI KHALAQAHU QASHAWWARAHU WASYAQA SAM’AHU QABASHARAHU TABARAKALLAHU AHSANULKHALQIYN
Ya Allah saya bersujud dan beriman kepada-Mu, saya serahkan diri kepada-Mu, wajahku bersujud kepada penciptaannya dan pembentuknya dan yang memberikan pendengaran dan penglihatan, maha suci Allah, sebaik-baik pencipta.” (H.R Muslim 771)

Tidaklah meletakkan seseorang akan keningnya karena bersujud kepada Allah SAW, lalu dibacanya: “Rabbighfirli, Ya Tuhanku, Ampunilah Aku” melainkan setelah dia mengangkat kepalanya dosanya sudah di ampuni.
================

ADAB-ADAB SUJUD

Apabila kita telah selesai memuji Allah SWT dan berdo’a dalam I’tidal, maka hendaklah kita bergerak kepada sujud: Ucapkanlah takbir dengan tidak mengangkat tangan, seraya bersujud. Suara takbir dihabiskan sebelum sampai ke tempat sujud. Apabila hampir sampai ke tempat sujud, maka hendaklah kita letakkan lebih dahulu dua lutut kita. Sesudah itu kita letakkan dua telapak tangan kita, selanjutnya meletakkan dahi kita melekat ke tempat sujud.

Adab di Kala Bersujud.

Sujud dilakukan untuk bukti kerendahan diri kita dan ketinggian Allah SWT, untuk merupakan perhambaan yang sempurna, dan untuk menyatakan ketundukkan kita kepada ketinggian Allah SWT. Apabila kita sujud, maka hendaklah kita ingat, bahwasanya sujud itu, adalah untuk menyatakan dengan seterang-terangnya pernyataan akan kehambaan kita dan kerendahan kita kpd Allah SWT. Dan bahwasanya Allah SWT maha tinggi lagi maha mulia. Karena itu, seutama-utama Dzikir diadalam sujud, ialah: “Subhana Rabbial A’la, Maha suci Allah SWT yang maha tinggi”. Tasbih inilah yang lebih afdhal, di ucapkan didalam sujud. Karena tasbih ini mensifatkan Allah SWT dengan kemaha tinggiannya. Mensifatkan Allah SWT dengan demikian dalam sujud, serasi benar dengan keadaan orang yang bersujud, yang telah merendahkan diri dengan sehabis-habis rendah.

Sebenarnya, sujud yang telah di atur dengan sebaik-baik kelakuan itu, itulah rahasia shalat dan rukunnya yang paling besar. Dan itulah penghabisan raka’at (dialah yang di tuju). Sedang rukun-rukun yang lainnya, sebagai mukaddimah. Lantaran itulah, sedekat-dekat hamba kepada Allah SWT ialah di waktu hamba bersujud itu. Dan telah di maklumi, bahwa seutama-utama hal kita, ialah di kala berdekatan dengan Allah SWT. Dan lantaran itulah Do’a di tempat ini lebih di perkenankan.

Karena sangat besar kepentingan sujud, Allah SWT memuji orang yang bersujud, dikala mendengar atau membaca Ayat-Ayat sajjadah, dan Allah SWT mencela orang yang enggan bersujud dikala mendengar atau membaca Ayat-Ayat yang berkenaan dengan sujud itu. Mengingat hal ini, hendaklah kita menyempurnakan rukun sujud dengan sempurna-sempurnanya.

Kesempurnaan sujud yang di wajibkan ialah Sujud atas anggota tujuh, yaitu: “dahi dan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua-kedua ujung jari-jari kaki”. Oleh karenanya, hendaklah kita menyungkurkan diri untuk bersujud, hal ini merupakan sebaik-baiknya cara merendahkan diri, sentuhkanlah wajah atau muka yang merupakan bagian anggota badan yang kita anggap termulia pada suatu tempat yang biasanya di anggap rendah. Misalkan lantai atau bahkan tanah yang tidak beralas yang sehari-harinya hanya pantas untuk di injak. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk memujinya dengan kalimat-kalimat yang indah dan agung. Untuk itu maka bacalah “Subbhana Rabbial A’la, Maha Suci Rabbku yang maha tinggi”.

Apabila kita membaca Subbhana Rabbial A’la, Maka hendaklah kita akui ketinggian Allah SWT dan bahwasanya Allah SWT maha tinggi kedudukannya, kesuciannya, kekuasaannya dan lainnya. Kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya yang hina disisi-Nya.

image

Apabila kita perhatikan Al-Qur’an maka ternyata kata-kata sujud lebih banyak dijumpai daripada Ruku’. Di sinilah terdapat momen-momen yang sesuai untuk merendahkan diri bagi seorang hamba di hadapan khaliq-Nya yang maha Agung. Firman Allah SWT:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

Artinya: “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?” (Q.S Al-Hajj 22:18)

Sahabat Abu Hurairah R.A telah menceritakan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
AQRABU MAYAKUNUL ‘ABDU MIN RABBIHI WAHUA SAJIDUN FA-AKTSIRUDDU’A-A
Artinya: “sedekat-dekatnya hamba dari Tuhannya adalah seorang yang bersujud, oleh karena itu banyak-banyaklah berdo’a.” (H.R Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’i)

Adab Sujud

Sujud itu dilakukan oleh dahi, hidung, kedua-dua telapak tangan, kedua-dua lutut dan kedua-dua ujung telapak  kaki. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW:
UMIRTU AN ASJUDA ‘ALA SAR’ATI A’ZHUMIN, AL-JABHATI WA ATSARA BIYADIHI ALA ANFIH, WAL YADAYNI WARBATAYNI, WAL QADHAMYN
Artinya: “Aku di suruh bersujud atas tujuh anggota: dahi dan Nabi meng-Isyaratkan juga kepada hidungnya, dan kedua-dua telapak tangan, dan kedua-dua lutut, dan kedua-dua ujung telapak  kaki.” (H.R Bukhari 464 dan Muslim, Jami Ussaghiir 1/55)

Saat peralihan dari posisi I’tidal ke posisi sujud, dan meletakkan lutut ke tanah sebelum kedua tangan, berdasarkan hadits dari Wail bin Hujr R.A, dia berkata:
RA AYTU RASULULLAH SAW, IDZA SAJADA YADHA’U RUKBATAYHI QABLA YADAYHI. WA IDZA NAHADHA RAFA’A YADAYHI QABLA RUKBATAYHI.
Artinya: “Aku melihat Rasulullah SAW ketika sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan ketika bangun beliau mengangkat tangan sebelum lutut.” (H.R Ashabus Sunan)
Ibnu Qayyum dalam Zad Al-Ma’ad 1/223 berkata, “Tatacara itulah yang shahih”
Al-Khitabi dalam Ma’alim As-Sunan dan Hasyiyah Sunan Abu Daud 5/525 mengatakan “Hadits Wail bin Hujr R.A lebih kuat dari pada Hadits Abu Hurairah R.A”
Hadits Abu Hurairah yang dimaksud adalah, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika salah seorang di antara kamu sujud, hendaklah dia meletakkan tangannya sebelum lututnya. Dan janganlah berdeku (meletakkan kedua kaki sebelum tangan seperti unta)” (H.R An-Nasa’i, Al-Mujtaba 1091). Sanad Hasan, At-Thurmudzi mengatakan Hadits Abu Hurairah ini hadits yang asing.

Pada hadits Abu Humaid di sebuntukan “Jika beliau sujud, beliau meletakkan kedua tangannya tanpa di renggangkan, dan juga tanpa di dekatkan ke tubuh dan ujung jemari kakinya menghadap kiblat.” (H.R Bukhari dan Abu Daud)
Pada hadits Aisyah: “Saya mendapati beliau sedang besujud dengan merapatkan dua tumit kakinya, sedangkan ujung jemari kakinya menghadap kiblat.” (H.R Ibnu Khuzaimah 654, Baihaqi 2/116 dan di Shahihkan oleh Al-Albani)

Abdullah bin Buhainah menggambarkan sujud Nabi SAW dengan mengatakan:
KANA RASULULLAH SAW, IDZA SAJADA YAJNA’U FI SUJUDIHI HATTA YURA YADHA’U IBTAIHI
Artinya: “Nabi SAW membuat sayap dalam sujudnya, sehingga terlihat kedua ketiaknya yang putih” (Muttafaq ‘Alaih No. 383 dan No. 495)
Arti membuat sayap adalah menjauhkan siku-siku dari pangkal lengan dan menjauhkan pangkal lengan dari pinggang, sehingga seperti sayap burung.

Sesungguhnya orang yang sujud kepada Allah dalam shalat, dan wajahnya menyentuh tanah atau lantai tempat persujutan menjadikan dirinya tinggi dan mulia di dunia ini, sebab ketika itu dia benar-benar dekat dengan dzat yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Maka bagi siapa yang menolak atau mengabaikan sujud kepada Allah SWT, maka kepadanyalah hak untuk mendapat adzab Allah SWT.

Sesungguhnya bagi mushalli yang melakukan sujud pada Allah SWT, telah terbuka indera penglihatannya dan seakan-akan berada dalam pertapaan penuh kesunyian didalamnya ia menyampaikan keluhan dan keperluan kepada Allah SWT. Jika mengadukan nafsu amarahnya, meminta kepadanya agar Ia melindungi dari segala bentuk kejahatan dan godaan setan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s