Buat Yang Gagal Move On, Wajib tau

Buat Yang Gagal Move On, Wajib tau

​”Sesabar-sabarnya seseorang,pasti ada batasnya khan?”

Jargon itu seperti sudah akrab di telinga kita,  menegaskan  ternyata manusia itu melimitkan dirinya dalam batas sabar tertentu. 

Yang namanya manusia, pastilah selalu berinteraksi satu sama lainnya. Seringkali interaksi yang terjadi menimbulkan gesekan yang berujung pada ketersinggungan hati, marah, terluka, benci dan dendam.  Perbedaan latar belakang sosial budaya, pendidikan, cara pandang, dan tujuan hidup pun melahirkan pergesesekan ini di sepanjang interaksi manusia. Itulah sebabnya Allah menyuruh kita hambaNya untuk berbaik sangka kepada manusia lainnya. Bila ada sesuatu yang salah menurut kita, jangan cepat-cepat menuding hal itu diniatkan untuk melukai hati kita. Bisa jadi bukan maksud begitu, namun karena perbedaan yang saya sebutkan di atas tadi, menimbulkan persepsi berbeda dari masing-masing pihak.
Begitu pun, walau sudah berusaha berbaik sangka, tak urung yang namanya perasaan seringkali menguasai kejernihan hati. “Sesabar-sabarnya seseorang,pasti ada batasnya khan?”

Jargon itu seperti sudah akrab di telinga kita,  menegaskan  ternyata manusia itu melimitkan dirinya dalam batas sabar tertentu. Melewati limit tersebut, dia (merasa) berhak marah, terluka, bahkan melampiaskan kemarahannya pada yang bersangkutan. Kalau perlu, rasa sakitnya dibalas Allah kepada yang bersangkutan seketika itu juga, dan di depan mata. Kalau itu sudah terjadi, baru puaslah rasa hatinya.Itu masih untung, hanya berharap pada Allah yang membalas sakit hatinya. Namun kalau sudah mengambil tindakan penghakiman sendiri? Hiiih…,naudzubilahhiminzalik.

 Pernah begitu?

Saya pernah! Bukan main hakim sendiri kepada orang yang bersangkutan lho. Tetapi pernah berharap Allah membalas perbuatannya yang menyakitkan hati saya dengan balasan yang setimpal (kalau bisa lebih), dan saat itu terjadi,  saya tahu, gitu! Sehingga hati ini rasanya puas, dan kemudian bisa mencibir, “Rasain!”
Saya tidak akan menuliskan kisah dari hidup orang lain dan berlagak sebagai orang yang mampu melewati semua kehidupan ini dengan sikap seperti manusia bijaksana,  yang lepas dari urusan hati yang terkotori oleh bisikan setan. Saya akan berbagi kisah, bagaimana saya menghadapi rasa sakit di hati ini dengan beragam cara.
Masa kecil yang diisi  bullying dari orang terdekat, serta fitnah-fitnah yang melanda saat saya buka usaha, dan banyak lagi membuat saya menyimpan amarah dan rasa sakit hati yang dalam.. Ujung-ujungnya perasaan marah dan sakit hati ini malah menyakiti diri saya sendiri. Fisik saya rentan dengan berbagai penyakit, mulai dari sakit kepala yang sering menyerang, kaki yang nyeri saat harus ditekuk, serta mag yang meningkat frekuensi kambuhnya. Belum lagi secara psikis saya kerap tersinggung, marah-marah, sensitif, dan semangat hidup anjlok pada titik nadir.
Ini sungguh tidak adil! Di mana Tuhan? Mana keadilanNya? Dan bla..bla.. segudang hujatan saya padaNya. Bahkan ada satu masa saya benar-benar sangat marah pada keadilanNya menurut versi saya, sehingga saya mogok sholat saat itu. Untungnya, saya diingatkan dengan kematian, bagaimana kalau tiba-tiba malaikat Izrail mencabut nyawa saya saat saya tengah menggugat kekuasaan Allah?
Saya sadar betapa efek dari marah dan perasaan dendam yang membakar itu malah berakibat negatif ke diri saya sendiri. Namun begitupun, masih saja nasehat suami tercinta untuk sabar,  dianggap angin lalu saja. Yang dominan masih perasaan ingin balas dendam. Kok ya pelaku yang menyakiti hati saya itu malah terlihat tenang-tenang saja? Hidup pun masih demikian mudah untuknya? Sedangkan saya, merasa sudah babak belur akibat perbuatannya.Lalu, apa enaknya hidup dengan perasaan seperti itu?
 Saya ingin hidup tenang, bersih dari perasaan marah dan dendam. Saya ingin sembuh dari segala sakit saya, fisik maupun psikis. Mulailah beragam cara saya coba, berbagai bacaan tentang pengendalian emosi saya baca, dan kutipan-kutipan arif tentang kehidupan pun saya simpan di memori hati. Berharap, saya bisa memperbaiki diri.  Sempat ingin mencoba pengobatan hypnoterapi, tetapi biayanya yang mahal membuat saya tarik diri.
Kembali lagi saya tenggelam dalam depressi. Namun dukungan yang tak putus dan kasih sayang anak-anak dan suami membuat saya bertekad bangkit dari perasaan tersebut.Saya bertekad ingin sembuh.

Salah satu cara adalah dengan belajar memaafkan diri sendiri dan pelaku yang menyakiti hati saya dan menimbulkan trauma sedemikian dalam.
Berhasilkah cara memaafkan ini?

Ternyata tidak! Semakin saya memaksakan diri untuk memaafkan diri sendiri dan pelaku, semakin saya merasa terpuruk lebih jauh dalam kemarahan, keputusasaan, serta bertambah, merasa menjadi orang paling jahat sedunia. Lho, kok jadi begitu?
  

Ya, saya merasa menjadi orang yang paling jahat sedunia karena kemudian ketika saya memaksakan diri untuk memaafkan pelaku, ternyata saya tidak mampu. Amarah itu masih ada, dendam masih membara, serta sakit hati yang dalam membuat luka hati tak kunjung sembuh jua. Dan perasaan memaafkan itu cuma kulit, tidak sampai ke dasar jiwa. Lagi pula, ada protes dari hati sendiri; yang salah orang lain, mengapa pula saya yang harus memaafkan diri sendiri? Untuk apa? Salah apa diri saya sehingga harus memaafkan diri sendiri?  Bukannya yang bersangkutan harusnya yang minta maaf?
Ujung-ujungnya, saya merasa diri ini jahat sekali karena ternyata tidak mampu memaafkan orang lain dan diri sendiri seperti banyak yang dianjurkan. Saya merasa menjadi manusia yang kejam dan egois, karena tidak bisa bersikap seperti orang lain dalam hal memaafkan. Pemikiran ini membuat saya semakin sakit, tambah marah, dan merasa dunia membenci saya, dan saya pun membenci dunia!
Catatan-catatan kebencian memenuhi folder saya. Kertas-kertas di buku harian pun berisi curahan hati mellow saya, seolah sayalah mahkluk yang paling menderita di muka bumi, dan Tuhan tidak mau sedikit pun menoleh ke diri saya!
Kemarahan pun saya bawa-bawa dalam sholat saya. Do’anya menagih janji Allah bahwa orang yang dizholimi akan Dia kabulkan segala do’anya. Sungguh, hati saya terbutakan oleh rasa sakit yang sangat dalam, sampai-sampai berdo’a agar Allah membalas perbuatan si pelaku dengan balasan yang setimpal dan menyakitkan. Sama seperti perasaan sakit yang saya rasakan.  Sampai pada suatu ketika..

Saat itu saya sholat magrib seperti biasa. Dan saat berdo’a, tiba-tiba saya merasakan ketakutan yang amat sangat terhadapNya. Tubuh saya gemetaran dan air mata bercucuran saat itu.Hati saya seperti dibisiki oleh peringatan untuk tidak sombong terhadapNya. Siapa diri saya sehingga merasa berhak memaksa Allah mengabulkan keinginan saya atas nama’diri yang terzholimi?”

Apa tolak ukur saya untuk saya yakin, apakah benar saya terzholimi?

Benarkah diri saya 100% dan pelaku itu salah 100%?

Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang kemudian hadir di hati saya saat itu dan membuat saya tersungkur menangis sejadi-jadinya di atas sajadah.

Saya minta ampun pada Allah untuk segala do’a-do’a saya, permintaan saya, dan  keluh kesah saya atas nama kemarahan selama ini. Saya takut kemarahan saya membawa diri saya menjadi orang yang sombong, karena merasa berhak menagih janji padaNya  untuk mengabulkan do’a-do’a saya? Siapa saya sehingga berani memaksaNya untuk mendengarkan, bahkan mengabulkan doa saya? Saya bukanlah apa-apa ditengah semesta raya ciptaanNya!

Sejak hari tersungkurnya saya di atas sajadah, saya merubah do’a saya padaNya. Saya tidak minta pembalasan untuk segala luka dan sakit hati saya. Pun saya juga tidak minta hati ini bisa memaafkan mereka yang menyakiti hati saya, karena jujur, saya masih sangat tersakiti saat itu. Saya hanya minta kepadaNya,Maha Pembolak-Balik Hati, untuk menuntun hati saya ke jalan yang lurus.
 Saya memilih fokus mendekatkan diri padaNya, melalui sholat yang lebih khusu’, membaca Qur’an yang diniatkan berkesinambungan setiap harinya, dan memperbanyak sholat dan shaum sunnah. Tidak ada lagi do’a-do’a permintaan agar sakit hati ini dibalas olehNya. Juga tidak lagi memaksakan diri untuk bersikap memaafkan pelaku yg menzholimi saya. Saya biarkan diri ini mendekat padaNya dengan niat yang tulus. Masalah kemudian Allah membalas perbuatan pelaku atau tidak, biarkan saja itu menjadi urusan Sang Pemilik Hidup. Karena yakinlah, tidak ada satu pun kejadian yang luput dari perhitunganNya, baik ataupun buruk.
Alhamdulillah.., pendekatan spiritual ini efeknya luar biasa. Hati saya jauh lebih tenang, penyakit saya menghilang satu persatu. Kaki yang semula susah untuk dibawa berjalan, blas.., hilang sama sekali. Begitu juga sakit kepala saya. sudah amat jarang kambuh, kecuali bila mag saya kumat. Saya  mulai bisa menata emosi jauh lebih baik dari sebelumnya, lebih riang dan semangat menjalani hari. Melakukan apapun jadi enteng, serta merasa bersemangat kembali mencoba hal-hal baru yang membuat hidup saya lebih bermakna.
Namun ternyata, efek yang lebih dahsyat justru saya terima beberapa bulan setelahnya. Tanpa saya sadari, kemarahan dan rasa sakit hati itu terkikis dengan sendirinya, tanpa saya memaksakan diri ini untuk memaafkan. Semua terjadi tentu saja dengan seizinNya, setelah proses berbulan-bulan saya hanya mencoba khusus fokus dengan kedekatan saya pada Sang Pemilik Hidup.
Dulu, setiap kali berbicara menyangkut oknum yang pernah menyakiti hati saya, maka saya langsung tersulut amarah. Namun kini, alhamdulillah, perasaan seperti itu sudah hampir tidak pernah mendera. Saya lebih mampu melihat semua yang pernah terjadi sebagai bagian dari proses perjalanan hidup yang telah ditentukanNya. Kalau saya mau berpikir jernih dan bersabar, akan banyak hikmah dan pertolongan dari Allah sebagai buah kesabaran.
Satu lagi yang menjadi pembelajaran utama untuk diri saya, yakni: Bila merasa tersakiti dan terzholimi oleh orang lain, saya tidak akan pernah memaksakan diri ini untuk memaafkan perbuatan mereka terhadap saya. Saya lebih akan memaksakan diri untuk mendekat kepada Allah SWT dan minta agar hati ini ditunjukkan jalan yang lurus selalu, dijauhi dari rasa amarah dan sakit hati, serta rasa sabar yang tak bersyarat, Karena  sesungguhnya Allah-lah Sang Maha Pembolak-Balik Hati manusia. Dan percayalah, perasaan memaafkan itu akan hadir di hati dengan mudah, karena sesungguhnya, tidak ada yang sulit bila Allah sudah berkehendak.

Sumber:Blog seorang  sahabat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s