Bahaya riya’ dan sum’ah

Bahaya riya’ dan sum’ah

​Riya dan Sum’ah
=============

A. Pengertian  Riya’ dan Sum’ah

=============
Secara etimologi kata riya’ (الرياء) berasal dari kata الرؤية /ru’yah, yang artinya menampakkan. Dikatakan أراي الرجل /arar-rajulu, berarti seseorang menampakkan amal shalih agar dilihat oleh orang lain. Makna ini sejalan dengan firman Allah SWT:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

“…Orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun : 6-7)
Sedangkan pengertian riya’ secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim yang menampakkan amal shalihnya kepada orang  lain secara langsung agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.
Kata sum’ah (السمعة) berasal dari kata سمّع samma’a (memperdengarkan). Kalimat سمّع الناس بعمله /samma’an naasa bi ‘amalihi digunakan jika seseorang menampakkan amalnya kepada orang lain  yang semula tidak mengetahuinya.
Pengertian sum’ah secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya -yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi- kepada orang  lain agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya’ dan sum’ah. Bahwa riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada orang lain. Sehingga, menurutnya semua riya itu tercela, sedangkan sum’ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya untuk memperoleh ridha manusia.
Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264)
Rasulullah SAW juga memperingatkan dalam haditsnya:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya. (HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya. Na’udzubillah min dzalik.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan tentang kekhawatirannya atas umat ini terhadap riya yang akan menimpa mereka. Riya yang tidak lain merupakan syirik kecil.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Riya.” “Allah akan berfirman pada hari kiamat nanti ketika Ia memberi ganjaran amal perbuatan hamba-Nya, ‘Pergilah kalian kepada orang yang kalian berlaku riya terhadapnya.’ Lihat Apakah kalian memperoleh balasan dari mereka (HR. Ahmad)

=============

B. Fenomena Riya dan Sum’ah

=============

Agar seorang muslim mengetahui posisinya dalam riya dan sum’ah, hendaknya dia memahami betul fenomena atau tanda-tandanya, antara lain:
1. Giat beramal saat bersama orang lain atau mendapat pujian

Giat beramal dan melipatgandakan tenaganya jika mendapat pujian atau sanjungan, dan malas atau cenderung mengurangi amal jika mendapat celaan dan kecaman. Juga apabila sedang bersama-sama dengan orang lain cenderung menambah dan meningkatkan amal, sementara kalau sendirian dan jauh dari pantauan orang lain cenderung mengurangi amal.
Terhadap dua ciri ini, Ali bin Abu Thalib r.a. Pernah bertutur, “Ada beberapa tanda bagi orang yang berlaku riya, yakni malas ketika ia seorang diri, tetapi akan sangat rajin jika bersama orang lain. Bertambah amalnya jika mendapat pujian dan berkurang amalnya jika mendapat celaan.” (Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali dan Al-Kabair, Adz-Dzahabi)
2. Menjauhi larangan Allah jika bersama orang lain, melakukannya saat sendiri

Menjauhi larangan-larangan Allah jika bersama orang lain dan melanggar larangan-larangan-Nya jika ia sedang sendiri dan jauh dari penglihatan manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Aku akan mengetahui beberapa kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan laksana pegunungan yang tinggi berkilau. Akan tetapi, Allah menjadikannya debu yang beterbangan (tidak bernilai). Mereka itu adalah saudara-saudara kalian, dan berasal dari keturunan kalian. Mereka mengerjakan amalan pada waktu malam sebagaimana kalian mengerjakannya. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika dalam keadaan sendiri akan melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Jami’ as-Saghir)

==============
C. Faktor-faktor Penyebab Riya dan Sum’ah.
===============

Faktor-faktor penyebab riya dan sum’ah adalah sebagai berikut:
1. Latar belakang kehidupan

Jika seorang anak tumbuh dalam asuhan keluarga yang memiliki suasana riya dan sum’ah, atau ia tumbuh dalam lingkungan dengan tradisi perilaku riya dan sum’ah yang kental, maka sangat besar kemungkinannya ia juga terjangkit penyakit hati itu. Jika penyakit tersebut telah lama hinggap padanya, sulit baginya untuk melepaskan diri dari riya dan sum’ah. Karenanya, Rasulullah berpesan agar umatnya memilih pasangan hidup yang islami.
Kepada kaum laki-laki, beliau berpesan :

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

 “…Maka pilihlah wanita yang taat menjalankan agama, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaq ‘Alaih)HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Kepada orang tua atau wali dari akhwat beliau berpesan :

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

“Jika didatangi oleh seseorang (untuk meminang putrimu) yang engkau ridha akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu), jika kamu tidak melakukannya, maka akan terjadi suatu fitnah di permukaaan bumi dan kerusakan yang besar”. (HR. Ibnu Majah)
2. Persahabatan yang buruk

Persahabatan yang buruk juga bisa mengakibatkan riya dan sum’ah. Terutama bagi orang yang lemah kepribadiannya sehingga mudah terpengaruh. Bahkan bagi orang yang tidak terlalu lemah sekalipun, jika ia biasa bergaul dan berinteraksi dengan teman-teman yang suka riya dan sum’ah serta cenderung mencela “cacat” dan “kekurangan” pada temannya, ia pun akan terpengaruh. Sangat pentingnya persahabatan ini sehingga Rasulullah mengumpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Kita bisa mendapat “bau harum” dari pertemanan, kita juga bisa terkena “asap” dan “bau tidak sedap” dari pertemanan. Maka memilih teman yang baik, persahabatan dengan orang-orang shalih, memperkuat ukhuwah imaniyah, adalah hal penting yang harus dilakukan sejak dini sebagai solusi.
3. Tidak memiliki ma’rifatullah

Tidak memiliki ma’rifatullah menjadikan manusia bersikap riya dan sum’ah. Sebab orang yang tidak mengenal Allah tidak dapat bersikap benar terhadap-Nya. Jika seseorang memiliki ma’rifatullah yang baik, ia akan beribadah ikhlas kepada Allah dan yakin ibadah itu dilihat oleh Allah dan dinilai-Nya. Ia juga sadar jika niatnya sudah beralih kepada pandangan manusia, Allah justru tidak memberinya apa-apa.
4. Ambisi mendapatkan kedudukan atau kepemimpinan

Ini faktor penyebab yang kerap terjadi. Seseorang karena ingin memiliki kedudukan tinggi dalam pandangan manusia atau supaya orang lain menilai ia layak mendapatkan amanah kepemimpinan menjadikannya bersikap riya dan sum’ah. Ia ingin segala amal kebaikannya terekspos dan secara langsung mempengaruhi pencitraannya. Ia dianggap baik, shalih, dihormati, dikagumi, dan diangkat atau dipilih menjadi pemimpin.

5. Tamak terhadap milik orang lain

sikap rakus terhadap harta atau kepemilikan orang lain juga bisa mengakibatkan riya dan sum’ah. Seperti orang yang berperang tetapi niatnya mendapatkan ghanimah, atau popularitas. Sebagaimana diriwayatkan Abu Musa bahwa Rasulullah pernah ditanya, “Ya Rasulullah, ada seorang yang berperang untuk memperoleh ghanimah, ada yang ingin disebut-sebut, dan ada yang ingin posisinya dilihat manusia. Manakah di antara mereka yang berperang di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab, “Barangsiapa berperang dengan tujuan meninggikan kalimat Allah, dialah mujahid fi sabilillah.” (HR. Bukhari)
6. Suka dipuji dan disanjung

perangai suka dipuji dan disanjung akan mendorong seseorang berlaku riya dan sum’ah. Berupaya menjadi buah bibir. Berusaha menjadi news maker. Sikap ini harus dilawan dengan menyadari bahwa pujian makhluk kerap mencelakakan, sementara kritik justru akan membuatnya maju menjadi lebih baik.
7. Terlalu ketat penilaian pemimpin/qiyadah

Dalam sebuah organisasi atau jamaah, jika pemipin atau qiyadah terlalu ketat dalam menilai seseorang, bisa mengakibatkan timbulnya riya dan sum’ah pada orang tersebut, khususnya yang tidak memiliki jiwa besar. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang baik itu tidak mengerjakan sesuatu kecuali ia menilainya baik dan tidak meninggalkan sesuatu kecuali jika ia menilainya buruk.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

8. Terlalu dikagumi orang lain

Terlalu dikagumi orang lain juga bisa bisa menjadi sebab timbulnya riya dan sum’ah. Kekaguman bisa menjadi semacam candu. Semakin dikagumi seseorang akan semakin berusaha agar kekaguman orang lain bertahan atau meningkat. Karenanya Rasulullah mengingatkan agar tidak memuji orang di depannya secara langsung.

9. Takut menjadi omongan orang lain

Ini juga bisa menyebabkan timbulnya riya dan sum’ah. Karena takut dinilai jelek orang lain, atau menjadi bahan perbincangan, menjadi obyek ghibah, maka seseorang kemudian berbuat yang baik dan berupaya mengeksposnya, atau mendemonstrasikan kebaikan dan amal shalihnya.
10. Lalai terhadap dampak buruk riya dan sum’ah

Ketidaktahuan dan kelalaian seseorang terhadap dampak buruk dan bahaya riya dan sum’ah menjadikannya tidak merasa salah atau menyesal berlaku riya dan sum’ah, bahkan larut dalam sikap itu. Sebaliknya, jika seseorang memahami dengan baik dampak riya dan sum’ah, yang sangat merugikan dirinya di akhirat kelak, ia akan berusaha menjaga diri agar terhindar dari riya dan sum’ah itu.
==============

D. Dampak Buruk Riya’ dan Sum’ah 

==============
Sebagai penyakit jiwa, riya’ dan sum’ah dapat menimbulkan dampak buruk bagipelakunya. Di antara dampak buruknya yang terpenting adalah :
1. Terhalang dari Hidayah dan Taufiq Allah

Hidayah Allah SWT adalah anugerah Allah yang dikaruniakan-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Ini hak prerogatif Allah. Ia tidak bisa dipaksa untuk menghampiri kita atau orang-orang tertentu. Kita bisa berdoa agar mendapat hidayah, namun terserah Allah apakah menurunkan hidayah-Nya atau tidak.
Namun demikian, Allah telah membuat ketetapan di dalam Al-Qur’an bahwa hidayah itu akan diberikan kepada orang-orang yang ikhlas.
… dan Ia memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (QS. As-Syura : 13)
…dan Ia menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya (QS. Ar-Ra’d : 27)
Seseorang yang riya dan sum’ah pada dasarnya telah merobek keikhlasan dan menyimpang dari kebenaran. Karenanya prasyarat untuk mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah telah hilang darinya. Meskipun tahu banyak ilmu, orang seperti ini akan sulit mengamalkannya. Ini dampak buruk riya’ dan sum’ah.
…Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. As-Shaf : 5)
2. Batal Amalnya

Sesungguhnya salah satu dari syarat diterimanya amal adalah ikhlas. Seperti firman-Nya dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5.

Jika seseorang melakukan ibadah atau amal shalih namun dilandasi dengan riya’ atau sum’ah maka amal itu akan menjadi sia-sia. Tidak diterima Allah SWT.
Lalu Kami hadapkan amal yang mereka kerjakan, kemudian Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al-Furqan : 23)
Dalam hadits qudsi Allah berfirman:

Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang beramal untuk-Ku dengan menyekutukan selain-Ku, maka Aku bebas dari dia dan dia Aku serahkan kepada sekutunya itu. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

3. Mendapat Azab di Akhirat

Amal-amal yang banyak, yang disangka membuat masuk surga, justru menyeret manusia ke neraka ketika amal-amal itu dibangun di atas riya’ dan sum’ah. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa di pengadilan akhirat nanti ada 3 orang yang diadili pertama kali; orang yang mati syahid, orang alim yang mengajarkan ilmunya, dan orang kaya yang dermawan. Ketiganya menyangka akan masuk surga. Ini tercermin dari jawabannya saat ditanya tentang apa yang dilakukan dengan nikmat-nikmat itu. Tapi rupanya, Allah menilai berbeda dari persangkaan ketiga orang itu sebab mereka melakukannya karena riya’ dan sum’ah. Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mereka ke neraka.
4. Aibnya akan terbuka baik di dunia maupun di akhirat

Orang yang riya’ dan sum’ah ingin mendapatkan pujian, penghormatan, atau kedudukan dari orang lain. Namun seringkali Allah justru membuka aib orang seperti itu di dunia sehingga terbongkarlah kebusukannya.
Adapun di akhirat nanti, tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan saat yaumul hisab, saat pengadilan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Barangsiapa yang berlaku sum’ah, maka ia akan dibalas Allah dengan sum’ah (dibuka aibnya) pula.
5. Menderita Kesempitan dan Kegelisahan

Orang yang riya’ atau sum’ah akan dilanda kegelisahan dalam hidupnya. Ia berada dalam dua kesempitan. Merasa sempit karena khawatir niatnya terbongkar, dan merasa sempit saat niatnya tidak tercapai. Berbeda dengan orang ikhlas yang sejak awal melakukan amal telah mendapatkan ketenangan karena Allah-lah yang melihat dan akan membalas amalnya meskipun tidak ada orang lain yang tahu.
6. Tercabutnya kewibawaan dan pengaruh

Kewibawaan seorang muslim bisa hadir karena Allah yang menanamkan pada dirinya. Maka saat seorang hamba ikhlas dalam menjalankan agama-Nya, ibadah, dan dakwah, Allah memberikan kewibawaan itu. Namun jika Allah menghinakan seseorang, maka dengan cara bagaimanapun kewibawaan itu dipoles, ia tetap saja luntur dan tak berbekas.
Barangsiapa yang dihinakan Allah, niscaya tiada seorangpun yang akan memuliakannya. (QS. Al-Hajj : 18)
Pernah suatu ketika Ibnu Hubairah, gubernur Kufah dan Bashrah memanggil Hasan Al-Basri dan Amir bin Syarahbil untuk meminta nasihat berkenaan dengan intruksi Yazid yang zalim. Amir bin Syarahbil saat itu menjawab dengan jawaban yang moderat dan cenderung memaafkan Ibnu Hubairah seandainya ia melakukan intruksi itu karena pada dasarnya ia terpaksa. Namun saat Hasan Al-Basri dimintai nasihat, ia menjawab dengan tegas: “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah dalam menghadapi Yazid, dan jangan takut kepada Yazid saat menghadapi Allah. Allah dapat melindungimu dari Yazid, tetapi Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah…” Mendengar nasihat seperti itu Ibnu Hubairah menangis tersedu-sedu dan memakai pendapat Hasan Al-Basri serta menghormatinya. Ia tidak mengambil pendapat Amir bin Syurahbil.
Ketika keluar dan berhadapan dengan banyak orang, Amir bin Syarahbil mengakui kesalahannya karena ingin dekat dan mendapat persetujuan Ibnu Hubairah. Ia juga menyatakan kemuliaan Hasan Al-Basri. Amir bin Syarahbil insaf.
7. Tidak tekun dalam beramal
Karena berorientasi pandangan manusia dan materi, orang yang riya’ dan sum’ah tidak akan bisa istiqamah dalam beramal. Saat manusia tidak lagi memperhatikannya, saat media tidak lagi meliputnya, saat keuntungan-keuntungan materi tidak didapatkannya, ia pun berhenti dari amal itu.
E. Kiat Mengatasi Riya’ dan Sum’ah
1. Mengingat dan merenungi akibat riya’ dan sum’ah baik di dunia maupun di akhirat

Dengan merenungkan akibat riya’ dan sum’ah yang membuat kita tidak mendapatkan apa-apa dari sisi Allah, bahkan menyeret kita ke neraka, akan membuat kita lebih mudah melawan penyakit hati yang satu ini. Di dunia pun, kalau kita mau merenungkan, kekecewaan akan sering hadir bersamaan dengan riya’ dan sum’ah yang kita lakukan.

2. Memilih teman dan lingkungan yang relatif bersih dari riya’ dan sum’ah

Diakui atau tidak, interaksi kita dengan teman dan lingkungan hanya mengakibatkan dua hal. Kita yang mempengaruhi mereka atau kita yang akan dipengaruhi mereka. Bagi Anda yang tahu kapasitas diri bukan pengubah sejati, jagalah dari pertemanan atau lingkungan yang rawan riya’ dan sum’ah. Perbanyaklah teman-teman yang shalih, yang membawa aura keikhlasan serta carilah lingkungan yang relatif aman dari riya’ dan sum’ah.
3. Memperhatikan sejarah orang-orang terdahulu, baik yang menjadi contoh ikhlas maupun sebaliknya

Membaca atau mendengarkan kisah mereka akan memiliki bekas di hati dan berpengaruh dalam membantu kita untuk menghindari riya’ dan sum’ah. Misalnya para sahabat yang begitu ikhlas. Ada yang ikhlas dalam amal yang terang-terangan, ada pula yang ikhlas dengan menjaga amal secara sembunyi-sembunyi. Ada pula seperti Khalid yang saat perang Yarmuk menjadi ikon keikhlasan. Atau Arab Badui yang tidak mau mendapatkan ghanimah saat perang Khaibar. Sebaliknya, ada pula orang yang masuk neraka padahal ikut jihad di Khaibar karena tidak ikhlas dan mencari dunia.
4. Mengkaji nash-nash syar’i tentang ikhlas dan bahaya riya’ serta sum’ah

Baik itu ayat-ayat Al-Qur’an (akan lebih baik jika berikut dengan tafsirnya), maupun hadits-hadits Nabi. Saat jiwa kita terbiasa mengkonsumsi suplemen ruhiyah dan tsaqafah seperti ini, kita akan lebih mudah membawa diri kepada keikhlasan dan melawan riya’ serta sum’ah.
5. Meningkatkan Intensitas Muhasabah

Yakni mengevaluasi amal kita sendiri atau melakukan intospeksi. Akan lebih baik jika hal ini dijadwalkan secara berkala. Idealnya harian. Seperti para slafaus shalih yang sebelum tidurnya senantiasa mengingat-ingat apa yang dilakukannya sepanjang hari. Jika ia ingat ada amal yang dilakukan dengan riya’ atau sum’ah, segera bertaubat dan mengazamkan diri untuk tidak melawan riya’ dan sum’ah ini.
6. Senantiasa berdoa kepada Allah

Ini karena Allah-lah penguasa dan pemilik hati. Memohon kepada Allah agar hati lurus dan ikhlas adalah solusi yang harus dilakukan. Saat kita merasa bisa ikhlas karena usaha kita, sesungguhnya kita telah terjamah riya’ kepada Allah. Rasulullah mencontohkan sebuah doa yang sering beliau panjatkan: Ya muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu)
7. Menyadari bahwa segala sesuatu berjalan di atas takdir-Nya

Pemahaman yang benar terhadap takdir akan membuat kita sadar bahwa tak pantas kita bersikap riya’ dan sum’ah. Toh, segala keberhasilan sejatinya atas karunia-Nya. Ini sangat perlu dimiliki khususnya oleh seorang muslim yang terlibat intes dengan amal jama’i atau aktif dalam jama’ah dakwah. Pemahaman takdir yang benar membuatnya lebih ikhlas, bukan menganggap bahwa kemenanangan dakwah adalah karena peran dan prestasinya.
(والله أعلم بالصواب)

(Sumber: Aafaat ‘Ala Ath-Thariq, oleh Dr. Sayyid Muhammad Nuh)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s