Belajar Dakwah dengan santun dari peristiwa Abu Sufyan

Belajar Dakwah dengan santun dari peristiwa Abu Sufyan

​BAGIAN yang sulit saya terima ketika membuka shirah nabawiah adalah saat peristiwa fathul makah. Peristiwa dimana kaum muslimin berhasil kembali ke kota pertama dakwah Islam dijalankan Muhammad. Kota yang menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting di awal kenabian Muhammad SAW.
Fathul makah sendiri merupakan peristiwa penting untuk kemajuan Islam. Dapat dibayangkan perasaan bahagia mendalam para sahabat Nabi. Belum lekang dari ingatan mereka suasana duka yang mendalam saat terpaksa harus keluar dari mekah. Terusir, terpisah dengan sanak keluarga, menempuh gersangnya sahara, melangkah menjauh dari tempat mereka menghabiskan hari demi hari. Setiap jengkal kota mekah teramat memberikan kenangan mendalam.
Dan hari itu mereka kembali. Bukan sebagai pecundang, namun sebagai pemenang yang dengan lantang dan gagah memasuki tanah mekah.

Ketakutan pun menyelimuti kaum kafir quraisy. Penyiksaan-penyiksaan yang telah mereka lakukan akan berbalas, penindasan, pembunuhan dan kesewenang-wenangan mereka akan menuai hasil. Tidak ada lagi tempat untuk berlari. Tidak ada lagi keselamatan kecuali dengan terpaksa menerima Islam. Kurang lebih seperti itulah yang ada dibenak kaum kafir quraisy kala itu.

Namun, apa yang dilakukan Nabi Muhammad sungguh jauh dari sangkaan. Tidak ada pertumpahan darah karena kesemena-menaan, tidak ada satu hati pun yang dipaksa untuk berislam, bahkan keselamatan dan perlindungan yang mereka dapatkan. Satu hal yang sangat diluar sangkaan adalah penyataan Nabi bahwa barang siapa yang berhimpun di Abu Sofyan kala itu maka mereka termasuk yang “selamat”.
 Sampai disini saya tertegun. Hati kecil seolah-olah tak dapat menerima. Bukankah Abu Sofyan begitu memusuhi Islam! Bukankah Abu sofyan telah memusuhi nabi dengan hebatnya. Kenapa tak diperintahkan saja untuk membunuhnya?! lupakah Rasulullah ketika Hindun istri Abu Sufyan mengunyah-ngunyah jantung Hamzah paman yang teramat dicintainya! Lupakah Rasulullah betapa pilunya peristiwa bukit uhud.
Simaklah sekelumit peristiwa fathul makkah :

Abu Sufyan segera berlari menuju Makkah. Setibanya di sana, ia langsung berteriak sekuat tenaga, ”Wahai segenap kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah tiba di sini. Ia membawa pasukan yang tidak mungkin kalian lawan, maka menyerahlah. Dan, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, berarti dia selamat.”
Mendengar teriakan suaminya, Hindun segera mendekat dan memegang kumisnya, seraya berkata, ”Bunuh saja orang yang sama sekali tidak berguna ini. Engkau adalah seorang tokoh yang sungguh memalukan!”

Abu Sufyan membalas, ”Wahai segenap orang Quraisy, jangan termakan oleh ucapan wanita ini. Aku tidak main-main. Muhammad datang dengan pasukan yang tidak mungkin kalian lawan. Siapa yang masuk rumah Abu sufyan, maka dia selamat.”
Orang-orang Quraisy berkata, ”Celakalah engkau! Bagaimana mungkin rumahmu cukup menampung kami semua?”

Abu Sufyan berkata lagi, ”Siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia selamat.”

Mendengar keterangan tersebut, orang-orang Quraisy segera berhamburan menuju rumah masing-masing dan masjid.

Di saat-saat seperti itulah, Islam masuk ke dalam hati Abu Sufyan. Ia menemui Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam dan berkata, ”Wahai Rasulullah, hancurlah sudah Quraisy. Besok, yang tersisa dari Quraisy tinggal namanya saja.”
Rasulullah berkata, ”Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat.”

Dan demikianlah, Rasulullah sudah memaafkan Abu Sufyan. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam menyakiti kaum muslimin dipermulaan dakwah Rasulullah. Dan bagaimanakah nasib Hindun. Bagaimanakah nasib perempuan yang telah melumat jantung paman kesayangan Muhammad. Berikut petikan peristiwa setelah fathul makkah :

Tak lama berselang setelah pasukan muslimin memasuki kota mekkah, Hindun mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam pada Abu Sufyan,

Abu Sufyan menjawab, ”Kemarin, aku melihat engkau sangat benci mengucapkan kata-kata seperti itu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti yang kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan shalat; berdiri, ruku’, dan sujud.”
Setelah membai’at kaum laki-laki, Rasulullah membaiat kaum wanita. Di antara wanita-wanita yang berbai’at, terdapat Hindun binti ’Utbah. Ia datang memakai pakaian yang tertutup. Ia takut dikenali oleh Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam karena tindakannya terhadap Hamzah dimasa lalu.

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata, ”Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apa pun dengan Allah (syirik).” Umar menyampaikan yang dikatakan Rasulullah kepada kaum wanita dan memastikan jawaban mereka.

Rasulullah melanjutkan, ”Dan tidak boleh mencuri.”
Tiba-tiba Hindun menyela, ”Sesungguhnya Abu Sufyan sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?”
Abu Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, ”Semua yang engkau ambil telah kuhalalkan.”
Mendengar dialog tersebut, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum dan langsung mengenalinya. Beliau berkata, ”Engkau pasti Hindun?”
Hindun menjawab, ” Benar. Maafkanlah segala kesalahanku di masa lalu, wahai Nabi Allah. Semoga Allah mengampunimu.”
Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh berzina.”
Hindun menyela, ”Apakah wanita merdeka suka berzina?”
Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata lagi, ”Dan tidak boleh membunuh anak-anak kalian.”
Hindun berkata, ”Kami telah bersusah payah membesarkannya, tapi setelah besar, kalian membunuhnya. Kalian dan mereka lebih mengetahui tentang hal ini.”
Mendengar pernyataan tersebut, Umar tertawa sampai berbaring, sedangkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum.
Rasulullah berkata lagi, ”Dan tidak boleh membuat tuduhan palsu.”
Hindun berkata, ”Demi Allah, tuduhan palsu adalah perbuatan yang sangat jelek. Engkau menyuruh kami untuk melakukan perbuatan baik dan akhlak yang mulia.”
Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh mendurhakaiku dalam perkara yang baik.”
Hindun berkata, ”Demi Allah, saat kami datang di tempat ini, kami sama sekali tidak menyimpan niat untuk mendurhakaimu.”
Itulah sekelumit dari peristiwa fathul makkah, secara emosi sangat sulit saya menerima perlakuan Rasulullah terhadap Abu Sufyan dan Hindun. Tapi begitulah Rasulullah mengajarkan kita, bahwa emosi tidak boleh mengalahkan iman. Walaupun memang sangat sulit untuk kita lakukan. Dan lihatlah buah dari kebijakan Rasulullah terhadap Abu sufyan dan Hindun. Sejarah telah mencatat Abu Sufyan termasuk pejuang Islam dan perawi hadist yang diperhitungkan. Dan Simaklah sepenggal jejak Hindun pada perang Yarmuk:
Ibnu Jarir menyatakan, ”Pada hari itu, kaum muslimin bertempur habis-habisan. Mereka berhasil menewaskan pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat besar. Sementara itu, kaum wanita menghalau setiap tentara muslim yang terdesak dan mundur dari medan laga. Mereka berteriak, ’Kalian mau pergi ke mana? Apakah kalian akan membiarkan kami ditawan oleh pasukan Romawi?’ Siapa pun yang mendapat kecaman yang pedas seperti itu, pasti kembali menuju kancah pertempuran.”
Tentara muslim yang sebelumnya hampir melarikan diri, kemudian bertempur kembali membangkitkan semangat pasukan yang lain. Mereka benar-benar terbakar oleh kecaman pedas yang diteriakkan oleh kaum wanita, terutama Hindun binti ’Utbah. Dalam suasana seperti itu, Hindun menuju barisan tentara sambil membawa tongkat pemukul tabuh dengan diiringi oleh wanita-wanita Muhajirin. Hindun membaca bait-bait puisi yang pernah dibacanya dalam perang Uhud.
Tiba-tiba, pasukan berkuda yang berada di sayap kanan pasukan muslim berbalik arah, karena terdesak musuh. Melihat pemandangan tersebut, Hindun berteriak, ”Kalian mau lari ke mana? Kalian melarikan diri dari apa? Apakah dari Allah dan surga-Nya? Sungguh, Allah melihat yang kalian lakukan!” Hindun juga melihat suaminya, Abu Sufyan, yang berbalik arah dan melarikan diri. Hindun segera mengejar dan memukul muka kudanya dengan tongkat seraya berteriak, ”Engkau mau ke mana, wahai putra Shakhr? Ayo, kembali lagi ke medan perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan masa lalumu, saat engkau menggalang kekuatan untuk menghancurkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”
Zubair bin Al-’Awwam yang melihat semua kejadian itu berkata, ”Ucapan Hindun kepada Abu Sufyan itu mengingatkanku kepada peristiwa Perang Uhud, saat kami berjuang di depan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”
Zubair melanjutkan, ”Saat itu juga, Abu Sufyan membelokkan kudanya dan kembali menuju medan laga. Langkahnya segera diikuti oleh pasukan muslim lainnya. Aku juga melihat kaum wanita bergabung dengan mereka, bahkan bergerak lebih dulu. Aku terkejut ketika ada seorang wanita yang menyerang tentara Romawi yang perawakannya tinggi besar dan menunggang kuda. Wanita itu menarik tubuh tentara tersebut hingga berhasil menjatuhkannya, lalu ia membunuhnya sambil berteriak, ’Inilah bukti yang nyata pertolongan Allah kepada kaum muslimin’.”
Kurang lebih satu minggu yang lalu saya mendapat pesan dari mentor, guru sekaligus sahabat saya. ”Kita terkadang terlanjur memberikan cap si fulan buruk seperti ini. Si fulanah buruk seperti itu. Dan itu berlaku terus menerus. Seolah-olah si fulan takkan berubah. Dan si fulanah akan berlaku seperti itu selamanya.”
Saya tertegun dan melihat kedalam. Ya. Begitulah saya tepatnya selama ini. Emosi terkadang dominan menguasai penilaian. Hingga kesalahan seseorang dimasa lalu menjadi faktor dominan penilaian. Atau mungkin menjadi “faktor mati” dalam menilai. Sehingga seolah-olah orang itu takkan pernah berubah. Jika hitam, maka hitamlah selamanya. Jika buruk maka buruklah selamanya. Walaupun orang tersebut telah menyadari keburukannya, berupaya untuk memperbaiki dirinya sehingga mungkin dia lebih mulia dan lebih baik daripada saya dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.
Astaghfirullah, seharusnya saya bisa melihat apa yang ingin Rasulullah sampaikan lewat perlakuan dia terhadap Abu Sufyan dan Hindun.
Astaghfirullah hal adzhim, ampuni dosa hamba Mu ya Allah untuk semua hilaf dan dengki dalam hati…
Astaghfirullah hal adzhim, untuk semua emosi yang kadang lebih dominan dari keimanan pada Mu ya Allah…
Hati-hati me-labeli saudara sesama mahluq baik dengan label kafir, ahlul bid’ah dan sebagainya,  sehingga membuat kita mendakwahi dengan penuh kesombongan, bukankah kunci “hidayah” adalah hak prerogatifNya, kita hanya diberikan kesempatan untuk menyampaikan sesuai hujjah (dalil) yang jelas dari al qur’an dan sunnah, selebihnya adalah HakNya dzat yang maha membolak-balikan hati manusia.

Sumber: blog seorang sahabat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s