Hikmah Diciptakannya Biji dan Kegunaannya

Hikmah Diciptakannya Biji dan Kegunaannya

​Kemudian coba perhatikan hikmah penciptaan biji dalam isi buah-buahan serta kegunaannya. Di antara kegunaannya adalah:

1. Kedudukannya seperti tulang pada tubuh hewan. Dengan sifatnya yang keras biji dapat menstabilkan kesegaran buah, kelembutan dan keempukannya. Sekiranya biji tidak ada niscaya buah tersebut akan mudah pecah dan cepat rusak. Biji ibarat tulang dan buah ibarat dagingnya.

Ilustrasi: biji salak menopang daging buahnya yang lembut

2. Biji merupakan alat regenerasi yang mempertahankan dan memelihara jenis tanaman dari kepunahan. Kadang kala pohon atau jenis tanaman tertentu tidak dapat menghasilkan keturunan, lalu Allah menciptakan biji yang menggantikan tugasnya sebagai alat regenerasi ketika tanaman tidak menghasilkan keturunan, itulah biji yang menumbuhkan kembali tanaman tersebut.

3. Biji-bijian tersebut merupakan makanan hewan, di samping kegunaan lainnya, seperti untuk diambil minyaknya, untuk obat-obatan, bahan celupan dan maslahat lainnya, baik yang diketahui oleh umat manusia maupun yang tidak mereka ketahui, sebenarnya masih banyak lagi kegunaan lain yang tidak mereka ketahui.

Coba perhatikan hikmah penciptaan biji-biji ini serta kegunaannya. Biji itu dibungkus oleh daging yang lezat dan menarik selera bani Adam. Kemudian coba lihat hikmah yang sangat agung di balik penciptaan kulit bagi buah-buahan yang lunak, lembut dan mudah rusak oleh udara dan sinar matahari untuk menjaganya dan menutupinya dari itu semua. Misalnya buah delima, kelapa, kacang dan lain sebagainya. Adapun buah-buahan yang tidak mudah rusak maka terlebih dahulu Allah menciptakan kulit pelapis seperti tutup baginya karena masih lemah dan tidak tahan terhadap sinar matahari. Jika telah kuat dan kokoh maka buah itu akan terlepas dari kulit penutupnya dan menampakkan diri kepada matahari dan udara lepas, misalnya mayang kurma dan sejenisnya.

============

Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al Imam Ibnul Qayyim, karya Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin (penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Maidani), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Sya’ban 1423 H / Oktober 2002 M, hal. 133-134.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s