​METODE PEMBELAJARAN ALA RASULULLAH SAW

​METODE PEMBELAJARAN ALA RASULULLAH SAW

Ada beberapa metode pengajaran yang dipandang representatif dan dominan yang digunakan oleh Rasulullah Saw untuk meningkatkan potensi anak didik (sahabat). metode-metode pembelajaran yang diaplikasikan oleh Rasulullah Saw, yaitu sebagai berikut:

[1] Pengkondisian Suasana Belajar (Learning Conditioning)

Learning Conditioning merupakan syarat utama untuk terciptanya proses belajar mengajar yang efektif. Ada tiga cara yang digunakan Rasulullah Saw dalam metode ini, yaitu:

[a] Meminta Diam untuk Mengingatkannya

Metode berupa permintaan diam kepada murid-murid adalah salah satu cara yang paling baik untuk menarik perhatian mereka. Rasulullah Saw pernah bersabda ketika haji Wada, “Wahai manusia, tenanglah kalian!” (Al Nadawi. Shahih al Sirah al Nabawiyyah, 662). Kemudian melanjutkan lagi, “….Diamlah, janganlah kalian kembali kafir setelah (kematian)-ku, yaitu sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain…” (Al Nadawi. Shahih al Sirah al Nabawiyyah, 550).

[b] Menyeru Secara Langsung

Metode berupa seruan langsung biasanya dilaksanakan pada awal pelajaran, tetapi terkadang dilakukan ketika proses mengajar tengah berlangsung. Hal ini pernah dicontohkan dalam hadits, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Majelis tersebut merupakan masjelis terakhir yang beliau hadiri. Beliau menggunakan mantel yang beliau lingkarkan di atas kedua bahu beliau. Kepala beliau terserang penyakit. Beliau lalu ber- tahmid dan memuji Allah, kemudian bersabda, “Wahai sekalian manusia, berkumpullah!” Lalu beliau melanjutkan, “ Amma ba’du , sesungguhnya sebagian dari kelompok Anshar ini mempersedikit dan memperbanyak manusia. Siapa saja yang menjadi umat Muhammad, lalu ia dapat mendatangkan bahaya bagi seseorang, maka terimalah kebaikannya dan tolaklah kejahatannya.”

[c] Perintah untuk Menyimak dan Diam secara Tidak Langsung

Ubadah bin Al Shamith berkata, “Rasulullah Saw pernah bersabda, ‘Ambillah dariku! Ambillah dariku! Allah telah memberikan jalan keluar bagi mereka tentang perzinaan yang dilakukan antara seorang perjaka dengan seorang gadis, maka cambuklah sebanyak seratus kali cambukan dan diasingkan selama setahun. Adapun seorang duda dengan janda, maka dicambuk sebanyak seratus kali dan dirajam’.” (HR. Abu Dawud, no. 4438).

Jika diperhatikan, kalimat Rasulullah Saw “Ambillah dariku! Ambillah dariku!” terdapat ungkapan yang bernada permintaan memperhatikan dan menarik perhatian untuk dapat mendengarkan apa yang akan beliau sampaikan. Selain itu juga terdapat keistimewaan lainnya, yaitu berupa pengulangan.

[2] Berinteraksi Secara Aktif (Active Interaction)

[a] Interaksi Pendengaran

Teknik Berbicara (Presentasi dan Penjelasan)

Teknik ini digunakan dengan memperhatikan tujuan pembicaraan dalam menyampaikan dan menjelaskan sesuatu. Hal ini dilakukan dengan bersikap sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat hingga berlebihan dan juga tidak terlalu lamban hingga membosankan. Aisyah berkata, “Rasulullah Saw tidak berbicara seperti cara kalian berbicara. Beliau berbicara dengan ucapan yang terdapat jeda di dalamnya. Sehingga orang yang duduk bersamanya akan dapat mengingat ucapan beliau.” (Shahih al Bukhari , no. 3568 danShahih Muslim , no. 2493)

Tidak bertele-tele dan Tidak Terlalu Bernada Puitis

Ucapan yang sedang-sedang saja dan tidak terlalu cepat bertujuan untuk menjaga agar informasi yang hendak disampaikan dapat ditangkap dengan baik oleh murid, juga agar terhindar dari kesamaran dan gangguan. Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah terlalu banyak bicara kecuali dalam bentuk dzikir kepada Allah, karena sesungguhnya terlalu banyak bicara selain dzikir kepada Allah menyebabkan keras hati, dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang keras hatinya.” (HR. Tirmidzi dalam Shahih Al Jami’ , no. 1965).

Memperhatikan Intonasi

Mengeraskan suara ketika mengajar adalah cara yang baik untuk menarik perhatian pendengar dan untuk menunjukkan ketidaksetujuan terhadap sesuatu. Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah Saw berkhutbah dan memberikan peringatan tentang Hari Akhir, maka beliau akan terlihat sangat murka dan suaranya terdengar keras (Shahih Muslim , no. 876).

Selain itu, hendaknya seorang guru hendaknya menjelaskan pelajaran dengan tidak memotong penyampaiannya, karena memotong penjelasan akan membingungkan murid, juga akan merusak kosentrasi guru dalam mengaitkan antara satu penjelasannya dengan penjelasan lainnya yang seharusnya saling berhubungan.

Abu Hurairah berkata, “Suatu ketika Nabi sedang berbicara dengan suatu kaum dalam suatu majelis. Kemudian datang seorang Arab Badui dan bertanya kepada Nabi, ‘Kapan hari kiamat itu akan datang?’ Rasulullah Saw terus melanjutkan apa yang sedang beliau bicarakan. Setelah selesai berbicara, Rasulullah Saw berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?’ Orang Arab Badui itu menjawab, ‘Saya di sini wahai Rasulullah Saw.’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau menyia-nyiakan amanah, maka tunggulah kedatangan hari kiamat’.” (Shahih al Bukhari, no. 59 kitab al ‘ilmi ).

Diam Sebantar di Tengah-tengah Penjelasan

Diam sejenak di tengah-tengah penjelasan memiliki beberapa manfaat, antara lain menarik perhatian para murid, membawa kejiwaan seorang guru kembali rileks dan memberikan waktu kepada guru untuk mengatur pemikirannya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Bulan apa sekarang ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau kemudian diam hingga kami mengira beliau akan menjawab dengan jawaban yang salah. Beliau berkata, “Bukankan sekarang ini bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab, “Benar.” Beliau kembali bertanya, “Tanah apa ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau kembali terdiam hingga kami mengira beliau akan menjawab dengan jawaban yang salah. Lalu beliau bertanya, “Hari apakah sekarang ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau kembali terdiam hingga kami mengira beliau akan menjawab dengan jawaban yang salah. Beliau berkata, “Bukanlah sekarang ini Hari Idul Kurban?” Kami menjawab, “Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian (lalu terdiam…)” Abu Barkah, “Aku mengira beliau akan berkata, ‘Dan kehormatan kalian.’ Akan tetapi, beliau melanjutkan, “Adalah haram bagi kalian, seperti diharamkannya (berlaku keji) pada hari ini, di tanah ini dan di bulan ini.”

[b] Interaksi Pandangan

Kontak Mata (Eye Contact) dalam Mengajar

Adanya interaksi pandangan antara seorang guru dengan muridnya merupakan hal yang penting agar seorang guru dapat menguasai murid-muridnya. Hal itu juga dapat membantu murid dalam memahami apa yang disampaikan oleh gurunya berupa berbagai permasalahan dan ilmu pengetahuan.

Jabir bin Abdulullah berkata, “Seorang pria datang menemui Rasulullah Saw ketika beliau sedang menyampaikan khutbah Jumat. Beliau bertanya, ‘Apakah engkau telah melaksanakan shalat, wahai Fulan?’ Ia menjawab, ‘Belum.’ Beliau kembali berkata, ‘Berdiri dan rukuklah!’” (Shahih al Bukhari, no. 930).

Dalam hadits tersebut, jelas sekali Rasulullah Saw berinteraksi secara akatif dengan lawan bicaranya. Tidak mungkin Rasulullah Saw mengetahui orang secara langsung yang duduk ketika khutbah Jum’at berlangsung, kalau tidak melihatnya. Dan tidak mungkin Rasulullah Saw mendengar jawaban jamaah tersebut kalau tidak melihat wajahnya dan memperhatikan ekspresinya. Secara psikologis, pendengar akan jauh lebih merasa dihargai jika dilihat dan ditatap wajahnya.

Memanfaatkan Ekspresi Wajah

Memanfaatkan ekspresi wajah dalam mengajar akan membantu seorang guru untuk dapat mewujudkan tujuannya dalam mengajar. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah melihat ludah pada arah kiblat. Hal itu membuat beliau marah hingga kemarahannya terlihat pada wajah beliau. Beliau pun berdiri dan mengelapnya dengan tangan beliau. Lalu beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian apabila berdiri melakukan shalat, ia sedang bermunajat kepada Rabbnya atau Rabbnya berada di antara dirinya dan arah kiblat. Maka dari itu, janganlah salah seorang dari kalian membuang ludah ke arah kiblatnya. Akan tetapi menghadaplah ke arah kiri atau ke bawah telapak kakimu.” (Shahih al Bukhari, no. 6111 dalam kitab al Adab ).

Tersenyum

Jarir bin Abdulullah al Bajli berkata, “Tidaklah Rasulullah Saw melarangku (untuk masuk ke rumahnya setelah aku minta izin) sejak aku masuk Islam dan tidaklah beliau melihatku kecuali beliau selalu menampakkan senyuman di depan wajahku.” (Shahih al Bukhari , no. 3035 dan

Shahih Muslim , no. 135). Senyuman itu pun memberikan pengaruh yang berarti bagi Jarir bin Abdulullah.

[3] Aplied Learning Method

[a] Metode Praktikum yang Diterapkan oleh Guru

Suatu ketika Utsman bin Affan berwudhu. Rasulullah Saw kemudian bersabda, “Siapa saja yang berwudhu seperti cara wudhuku, lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat tanpa ada sesuatu hal yang mengganggu kekhusukannya pada kedua rakaat itu, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih Muslim , no. 245).

Menggabungkan metode teoritis dengan praktikum dalam mengajar merupakan salah satu cara yang sangat bermanfaat dalam mendidik dan mengajar. Metode seperti ini memudahkan seorang guru dan memberikan keluangan waktu dan tenaga baginya.

[b] Metode Praktikum yang Diterapkan oleh Murid

Seorang guru hendaknya berusaha agar murid dapat mengetahui sendiri kesalahan mereka. Hal tersebut dapat dilakukan agar murid mau mangkaji ulang sendiri dan dapat mengetahui sendiri kesalahan yang dibuatnya. Menerapkan dan mempratekkan sesuatu adalah sarana terbaik agar ilmu yang disampaikan dapat dihafal dan terjaga dari kelupaan.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw masuk ke dalam masjid. Lalu masuk seorang pria dan melakukan shalat. Kemudian ia mendatangi Rasulullah Saw dan mengucapkan salam kepada beliau. Rasulullah Saw lalu menjawab salam dan berkata, “Kembalilah, ulangi shalatmu! Sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.” Pria itu pun lalu mengulangi shalatnya seperti sebelumnya. Lalu ia menghampiri Rasulullah Saw dan mengucapkan salam kepada beliau.

Rasulullah Saw lalu berkata, “Semoga Allah melimpahkan kerahmatan bagimu.” Beliau melanjutkan, “Kembalilah dan ulangi shalatmu! Sesunggunya engkau belum melakukan shalat.” Hal tersebut terus berulang hingga pria itu melakukan shalat sebanyak tiga kali (Shahih al Bukhari, no. 757 dan Shahih Muslim , no. 397).

[4] Scanning and Levelling

Terdapat perbedaan tingkat kecerdasan dan pemahaman murid-murid, antara satu dengan individu yang lain, dan antara satu kelompok dan kelompok lain. Rasulullah Saw menjawab pertanyaan ‘sederhana’ sahabat tentang apa yang harus dilakukan setelah ia memeluk Islam. Rasulullah Saw menjawab, “Katakanlah aku beriman kepada Allah dan istiqamahlah!” Jawaban yang sangat ‘sederhana’ dan praktis tentang Islam ini dipilih Rasulullah Saw karena memang lawan bicaranya ‘masih hijau’ dalam Islam. Ia belum bias diberi materi yang berat-berat seperti kewajiban jihad, tuntunan menjauhi riba, jenis jual beli yang terlarang, serta ilmu waris yang kompleks.

Membenai akal seorang murid dengan sesuatu yang tidak dapat ditanggungnya dan memberikan beban di atas kadar kemampuannya, tidak akan memberikan apa pun kepada sang murid, kecuali rasa bingung dan kebodohan.

[5] Diskusi dan Memberi Tanggapan (Discussion and Feed Back)

Menggunakan metode yang logis dalam memberikan jawaban merupakan cara yang baik. Karena cara itu dapat membuat ilmu yang disampaikan bisa masuk ke dalam hati dan pikiran pendengarnya, sebagaimana yang diharapkan. Dengan memperhatikan penggunaan kata yang sederhana dalam berdiskusi akan membuat para murid berperan aktif dalam berdiskusi sehingga terjadi interaksi yang dinamis.

Rasulullah Saw membuat contoh sederhana yang mudah dipahami oleh akal seorang murid, seperti dalam kisah seorang pria Arab Badui yang mempertanyakan perihal anaknya yang terlahir dengan warna kulit hitam. Rasulullah Saw kemudian memberikan contoh yang mudah dipahami oleh pria tersebut, yaitu berupa unta.

Abu Hurairah mengatakan bahwasannya seorang pria datang menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah Saw, anakku lahir dengan kulit berwarna hitam.” Rasulullah Saw balik bertanya, “Apakah engkau memiliki unta?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Apa warnanya?” Ia menjawab, “Merah.” Beliau kembali bertanya, “Apakah ada warna abu-abu pada tubuhnya?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Mengapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Warna itu ia dapati dari ras lain.” Beliau berkata, “Sepertinya anakmu ini mengambil ras lain (seperti unta itu).” (Shahih al Bukhari, no. 7314).

[5] Bercerita (Story Telling )

Bercerita adalah metode yang baik dalam pendidikan. Cerita pada umumnya disukai oleh jiwa manusia. Ia juga memiliki pengaruh yang menakjubkan untuk dapat menarik pendengar dan membuat seseorang bisa mengingat kejadian-kejadian dalam sebuah kisah dengan cepat. Cerita tidak hanya ditunjukkan untuk hiburan semata, akan tetapi harus diambil pelajaran, nasihat, dan hikmah yang ada di dalamnya. Cerita dapat memberikan pengaruh yang besar bagi pikiran dan emosional murid. Rasulullah Saw juga sering menyampaikan cerita atau kisah-kisah yang penuh hikmah umat terdahulu sebagaimana tercantum di alam al Qur’an seperti kisah para nabi dan rasul, Zulqarnain, Qarun, para penghuni gua, dan sebagainya.

[6] Perumpamaan dan Studi Kasus (Analogy and Case Study )

Memberikan perumpamaan merupakan sarana yang baik untuk memudahkan dalam memahami kandungan makna dan pemikiran. Seorang guru hendaknya menggunakan perumpaman ketika ada pelajaran yang sulit dipahami oleh murid. Ia dapat memberikan perumpamaan sehingga pelajaran menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami. Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim (14): 24-26).

Dari Abdullah bin Umar, bahwa kami bersama Rasulullah Saw kemudian beliau bersabda, “Beritahulah aku, pohon apa yang menyerupai seorang muslim di mana daunnya tidak berjatuhan dan selalu berbuah setiap waktu?” Ibnu Umar berkata, “Hatiku berpikir bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma tetapi aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak menjawab, maka aku pun enggan untuk menjawabnya. Ketika semua diam dan tak ada yang menjawab, Rasulullah Saw bersabda, “Pohon tersebut adalah kurma.” (Shahih al Bukhari, no. 61 dan Shahih Muslim , no. 7029).

[7] Teaching and Motivating

Tasywiq adalah suatu metode yang mampu meningkatkan gairah belajar dan rasa keingintahuan yang tinggi, serta penasaran untuk mengetahui apa jawaban dan rahasianya. Tasywiq juga baik untuk memancing semangat belajar, meneliti, dan menelaah satu hal atau pelajaran tertentu. Semakin kuat menggunakan ungkapan yang bernada tasywiq, semakin kuat pula motivasi untuk belajar.

Rasulullah Saw bersabda, “Aku akan ajarkan engkau satu surah yang paling agung di dalam al Qur’an sebelum engkau keluar dari dalam masjid.” (Shahih al Bukhari , no. 5006). Selain itu, Rasulullah juga pernah bersabda, “Berkumpullah, sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al Qur’an.” (Shahih Muslim , no. 1888).

[8] Bahasa Tubuh (Body Language )

Penggunaan bahasa tubuh dalam menyampaikan pesan atau presentasi bermanfaat untuk:

[a] Membuat Penyampaian Bertambah Terang dan Jelas

Karena bahasa lisan dibantu dengan bahasa tubuh dan emosi, maka dengan kombinasi ini indra yang dirangsang bukan saja telinga tetapi juga mata dan indra terkait lainnya. Apalagi jika si pembicara mengajak audiens untuk menirukan gerakannya. Rasulullah Saw bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim adalah bagaikan ibu jari dan telunjuk di surga.” Rasulullah Saw menyampaikan pesan ini sambil mengangkat tangan dan menggerak-gerakan telunjuk dan ibu jarinya di hadapan sahabat (Shahih al Bukhari, no. 5304).

[b] Menarik Perhatian Pendengar dan Membuat Makna yang Dimaksud Melekat pada Pikiran Pendengar

Hal ini sesuai dengan hadits dari Jabir bin Abdullah, yaitu ketika Rasulullah Saw berkhutbah di hadapan orang-orang pada hari Arafah. Pada khutbah tersebut beliau menjelaskan berbagai hal yang fundamental. Setelah beliau menyampaikan khutbah kepada mereka, beliau berkata, “Jika kalian ditanyakan mengenai diriku, apa yang kalian katakana?”

Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menjalankan tugas, dan menasehati (kami).” Seraya memberikan isyarat dengan jari telunjuk yang beliau angkat ke atas langit dan menunjukkan ke arah orang-orang, beliau berkata, “Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! (sebanyak tiga kali).” (Nukilan dari bagian khutbah haji Wada’). Sikap beliau yang mengangkat tangan ke arah langit kemudian menunjuk ke arah orang-orang adalah menarik perhatian mereka terhadap hal penting, yaitu kedudukan kesaksian atas penyampaian risalah yang menjadi tugas beliau.

[c] Untuk Mempersingkat Waktu

Ada banyak isyarat yang biasa dilakukan, seperti isyarat untuk diam, larangan, atau permintaan untuk datang menghampirinya dan beranjak pergi. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh kulang, yaitu: dahi (beliau lalu menunjuk ke arah (atas) hidung). Pada kedua tangan dan dua siku-siku, serta dua unjung telapak kaki.” (Shahih al Bukhari, no. 812 dan Shahih Muslim , no. 230). Isyarat itu juga bertujuan untuk mempersingkat ucapan ketika beliau tidak menyebutkan kata hidung secara langsung.

[9] Gambar dan Grafik (Picture and Graph Technology)

Penjelasan yang diperkuat dengan gambar atau tulisan akan membuat penyampaian tersebut menjadi jelas. Penjelasan dan tulisan mengiringi visualisasi akan membantu penyampaian ilmu pengetahuan secara lebih cepat.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah Saw pernah membuat garis dengan tangannya.” Kemudian beliau berkata, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Beliau kemudian membuat garis di sebelah kanan dan kiri garis tersebut. Lalu berkata, “Jalan ini jalan setan dan setan selalu menyeru untuk mengikuti jalannya.” (Shahih al Bukhari, no. 6417). Beliau kemudian membacakan ayat berikut: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am [6]: 153).

[10] Memberikan Alasan dan Argumen (Reasoning and Argumentation )

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jika seekor lalat masuk ke dalam tempat air milik salah seorang dari kalian, maka tenggelamkanlah seluruh tubuh lalat tersebut, kemudian keluarkanlah ia dari tempat air tersebut. Karena sesungguhnya pada salah satu sayap lalat tersebut ada penyakit dan pada sayap yang satunya lagi terdapat penawarnya.” (Shahih al Bukhari , no. 3320).

Pada hadits ini, Rasulullah Saw menjelaskan hikmah di balik perintah menenggelamkan seluruh tubuh lalt ke dalam air ketika ia jatuh ke dalam tempat air atau minuman. Beliau menjelaskan bahwa pada salah satu sayap lalat tersebut terdapat penyakit dan pada bagian yang lain terdapat penawarnya. Jika hadits ini tidak disertai alas an perintah tersebut, maka akan membingungkan orang. Akan tetapi, karena alasannya diperjelas, kita menjadi tahu sebab dari perintah menenggelamkan lalu mengeluarkan lalat tersebut.

[11] Refleksi Diri (Self Reflection )

Memberikan kesempatan kepada murid untuk menjawab sendiri suatu pertanyaan merupakan metode yang sangat bermanfaat dalam mengoptimalkan kerja otak dan mengasah akal pikiran.

Dari Abu Dzar, bahwa ada beberapa sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya bisa mendapatkan pahala yang lebih banyak, mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka bisa bersedekah dengan harta lebih yang dimilikinya?” Rasulullah Saw menjawab, “Bukanlah Allah telah menjadikan setiap yang kamu lakukan sebagai sedekah: pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap takbir ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, pada setiap tahlil (membaca kalimat la ilaha illallah) ada sedekah, pada amar ma’ruf ada sedekah, pada nahi munkar ada sedekah, dan pada setiap sendi tubuh kalian ada sedekah.”

Kemudian mereka bertanya lagi, “Wahai Rasulullah Saw apakah apabila kami menyalurkan syahwat kami ada pahala?” Rasulullah menjawab, “Apabila kalian menyalurkannya pada hal yang haram apakah berdosa?” Begitu pula apabila kalian menyalurkannya pada yang halal, bukanlah kalian mendapatkan pahala?” (Shahih Muslim , no. 2329). Pertanyaan yang disampaikan Rasulullah Saw ini memancing sahabat untuk berpikir dan melakukan self reflection.

[12] Afirmasi dan Pengulangan (Affirmation and Repetition )

[a] Pengulangan Kalimat

Dari Anas bin Malik, terkadang Rasulullah jika mengucapkan sebuah kalimat, beliau akan mengulang sebanyak tiga kali hingga kalimat tersebut dapat dipahami. Jika beliau mendatangi suatu kaum, maka beliau akan menyampaikan salam sebanyak tiga kali.” (Shahih al Bukhari , no. 94). Untuk hal-hal tertentu dan ‘baru sekali’, penjelasan terkadang tidak cukup, sehingga informasi harus diulang beberapa kali. Contoh dari Rasulullah Saw sebanyak ‘tiga kali’ adalah satu kiasan yang bisa saja lebih atau kurang, tergantung situasi dan kondisi.

[b] Pengulangan Ucapan Nama

Dari Anas bin Malik bahwa, Rasulullah Saw dan Mu’adz bin Jabal bertemu dalam sebuah perjalanan. Beliau berkata, “Wahai Mu’adz bin Jabal!” Mu’adz menyahut, “Aku menyambut seruanmu wahai Rasulullah dan memohon kebahagiaan atasmu.” Beliau kembali berkata, “Wahai Mu’adz bin Jabal!” Mu’adz menyahut, “Aku menyambut seruanmu wahai Rasulullah dan memohon kebahagiaan atasmu.” Demikian sampai tiga kali.

Beliau lalu bersabda, “Tidaklah seseorang beraksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, diucapkan dengan tulus dari hatinya, melainkan Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka.” Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan berita ini kepada orang-orang, agar mereka juga memperoleh kabar gembira ini?” Lalu Mu’adz pun memberitahukan kabar gembira ini sebelum ia wafat (Shahih al Bukhari, no. 6500 kitab al raqa’iq dan Shahih Muslim , no. 30 kitab al iman). Mengulang panggilan nama bisa membuat orang yang dipanggil lebih siap untuk dapat menerima berita yang akan disampaikan.

[13] Facus and Point Basis

Metode ini akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara from global to detail, yaitu menyampaikan gambaran besarnya dahulu kemudian menjelaskan rinciannya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tujuh golongan menusia yang akan mendapatkan naungan dari-Nya, yaitu seorang imam yang adil, seorang pemuda yang dewasa yang selalu beribadah kepada Rabbnya, seorang pria yang hatinya selalu terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang pria yang dibujuk oleh wanita yang memiliki kedudukan dan cantik, akan tetapi ia berani mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya sendiri tidak mengetahui apa yang disedekahi oleh tangan kanannya, dan terakhir seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi hingga mengeluarkan air mata.” (Shahih al Bukhari , no. 660 dan Shahih Muslim , no. 1031).

[14] Metode Tanya Jawab (Question and Answer Method )

Teknik bertanya adalah metode yang baik untuk menarik perhatian pendengar dan membuat pendengar siap terhadap apa yang akan disampaikan kepadanya. Pertanyaan terkadang bisa dilontarkan di awal pembicaraan dan di pertengahannya, tergantung kondisi.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah kalian ingin aku beritahukan dosa yang paling besar?” Kami berkata, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” (Shahih al Bukhari, no. 2654 dan

Shahih Muslim , no. 87). Kata “tidakkah” pada hadits tersebut adalah pertanyaan untuk mengingatkan dan menarik perhatian pendengar untuk menyimak apa yang dikatakan dan memahaminya dengan baik.

[15] Guessing with Question

Metode ini penting untuk memperkuat pemahaman dan memperbesar keingintahuan. Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di antara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak jatuh ke tanah (secara berguguran). Pohon itu bagaikan seorang muslim. Jelaskanlah kepadaku pohon apakah itu?” Orang-orang mengatakan pohon itu terdapat di daerah pedalaman. Abdullah berkata, “Dalam benakku terbetik pikiran bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma. Akan tetapi, aku malu menjawab.” Orang-orang berkata, “Beritahukanlah kepada, pohon apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pohon Kurma.” (Shhih al Bukhari , no. 61).

[16] Memotivasi untuk Bertanya (Encouraging Student to Ask )

Bertanya dapat menghapuskan kebodohan serta memperbaiki pemahaman dan pemikiran. Guru yang memberikan kesempatan dan motivasi kepada murid-muridnya untuk berani mengajukan pertanyaan memiliki manfaat untuk mengukur tingkat pemahaman murid-muridnya, memberikan motivasi kepada murid yang pemalu agar berani mengajukan pertanyaan, dan agar murid-murid yang lain dapat mengambil manfaat ketika mendengar jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Pada suatu hari Rasulullah Saw keluar dan naik ke atas mimbar. Kemudian beliau bersabda, “Bertanyalah kepadaku! Tidaklah kalian bertanya kepadaku, melainkan akan aku jelaskan jawabannya kepada kalian.” (Shahih al Bukhari, no. 540 bab Waqtu al Dhuhri ‘Indra al Zawal ).

[17] Bijak dalam Menjawab (Wisdom in Answering Question )

[a] Menyikapi Orang yang Mengajukan Pertanyaan Sesuai dengan Tingkat Pengetahuannya

Dalam hal ini Rasulullah Saw menjawab pertanyaan dengan menambah hukum lain atau hal lain yang terkait dengan pertanyaan di penanya. Dengan harapan, semua mendapat manfaat dari jawaban Rasulullah Saw.

Abu Hurairah berkata, “Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Wahai Rasulullah, kami sedang berlayar ke tengah lautan dan hanya membawa sedikit air tawar. Jika kami berwudhu dengan air itu, maka kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?” Rasulullah Saw menjawab, “Air laut itu suci. Sedangkan bangkai binatang laut halal dimakan.” (HR. Ahmad, II: 361 dan HR. Tirmidzi, no. 69).

[b] Menyikapi Si Penanya dengan Sikap yang Bermanfaat

Terkadang jawaban atas pertanyaan si penanya tidak sesuai dengan pertanyaan tersebut. Akan tetapi, bisa jadi hal itu akan lebih bermanfaat bagi si penanya. Contohnya: Dari Abdullah bin Umar, seorang pria berkata, “Wahai Rasulullah, apa pakaian yang dipakai oleh orang yang sedang ihram?” Rasulullah Saw berkata, “Ia tidak memakai baju, serban, celana, topi, dan juga sepatu.” (Shahih al Bukari , no. 1541 dan

Shahih Muslim , no. 1177).

[18] Mengomentari Pertanyaan (Commenting on Students Question )

Dari Abu Hurairah, bahwa seorang pria mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, “Aku bermimpi.” Ia lalu menceritakan mimpinya itu. Kemudian Abu Bakar mencoba menafsirkannya. Beliau bersabda, “Sebagian yang engkau katakan benar, dan sebagian yang lain engkau katakan salah.” Abu Bakar kemudian berkata, “Aku bersumpah kepadamu wahai Rasulullah dan ayahku untuk memberitahukan kepadaku, kesalahan apa yang telah aku katakana?” Rasulullah Saw berkata, “Janganlah engkau bersumpah!” (Shahih al Bukhari, no. 7046 kitab al Ta’bir dan Shahih Muslim , no. 2269 kitab al Ru’ya ).

Memberikan komentar terhadap jawaban seorang murid dapat bermanfaat bagi si penjawab untuk memperbaiki jawabannya. Selain itu, juga bermanfaat bagi murid-murid yang lain untuk mengetahui apakah jawaban rekamnya itu diterima atau ditolak.

[19] Jujur (Honesty)

Ketika Allah bertanya kepada para rasul-Nya di Hari Kiamat pada firman-Nya berikut: “(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?’ Para rasul menjawab, ‘tidak ada pengetahuan kami (tentang itu). Sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib’.” (QS. Al Ma’idah [5]: 109).

Jawaban “Sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib” adalah suatu sungkapan dan contoh kejujuran yang harus dilakukan jika kita memang telah mengetahui suatu permasalahan dengan baik. Dengan demikian, seorang guru harus menanamkan sikap mulia berani mengakui ketidaktahuan ke dalam jiwa murid-muridnya. Ucapan “aku tidak tahu adalah bagian dari ilmu.”

Demikianlah pembahasan mengenai beberapa metode pengajaran Rasulullah Saw. Jika diamati sebenarnya sifat-sifat dan teknik tersebut saling berkelindan dengan metode dakwah, karena dakwah pada intinya juga pendidikan. Metode dakwah dan pengajaran boleh dikata hampir sama karena tujuannya juga relatif sama yaitu menyampaikan sesuatu kepada peserta didik atau orang yang didakwahi. Dengan kata lain, prosesnya adalah bagaimana pesan-pesan kebenaran dapat disampaikan kepada pihak lain.

=================

Sumber: Imron Fauzi, Manajemen Pendidikan Ala Rasulullah, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

One thought on “​METODE PEMBELAJARAN ALA RASULULLAH SAW

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s